Tidak itu saja, agar bisa lebih dekat dengan petugas yang punya otoritas untuk menembus akses data tentang jamaah yang menjadi korban meninggal, mereka pun mengobral janji akan mengantar warga negara Arab itu kemanapun mereka ingin pergi bila berkunjung ke Indonesia.
"Pokoknya kami mengekspos apa aja yang mereka suka, yang penting terjadi harmoni dan bisa dapat akses yang luas," ujar ayah dari dua orang putra dan satu putri itu.
Identifikasi Beruntung tim Linjam memiliki Naif Bajri Basri Marjan (33). Pria berdarah Palembang, Sumatera Selatan, yang lahir dan besar di Arab Saudi sehingga ia lebih pandai dan fasih berbahasa Arab ketimbang berbahasa Indonesia.
Selain itu, pemuda bertubuh tinggi dan berparas putih itu nampak paham betul kultur orang Arab.
"Orang Arab itu suka kalau kita bantuin dia," ujar Naif dengan Bahasa Indonesia yang kadang terbalik-balik, pendek dan patah-patah.
Karena ringan membantu itu menjadi salah satu pintu masuk untuk menembus data dokumen jenazah yang ada di pemulasaran mayat, Naif dan anggota tim Linjam lainnya melakukan aksi bantu-bantu merapikan arsip di tempat tersebut.
Tentunya, hal itu juga dimanfaatkan mereka untuk mencari dokumen tentang jenazah yang ditengarai berasal dari Indonesia.
Satu paket atau file dokumen itu biasanya berisi semua yang melekat pada tubuh jenazah ketika ditemukan, seperti gelang tembaga yang menjadi identitas jemaah haji Indonesia, pakaian ihram, slayer, kartu penginapan, kartu bus, dan lain-lain.
"Kami melakukan verifikasi berangkat dari kebiasaan orang Indonesia dan kelaziman mereka. Baik dari segi berpakaian dan raut muka (foto) serta hal lain yang khas seperti gelang dan slayer yang beraneka warna. Itu modal kami menelusuri keberadaan mereka yang diduga sebagai korban dalam peristiwa tersebut," kata Muchlis yang sudah beberapa kali memimpin tim Linjam sehingga nampak paham betul karakter jemaah Indonesia hanya dengan melihat dari kejauhan.
Sampai hari ke-15 sejak peristiwa Mina, Tim Linjam tersebut telah berhasil menemukan 149 korban peristiwa Mina.
Sebanyak 118 jemaah menjadi korban meninggal, empat jemaah menjadi korban luka dan masih di rumah sakit, 26 jamaah telah kembali ke pemondokan mereka.
Sedangkan sisanya lima jemaah hingga Jumat 9 Oktober 2015 belum diketahui keberadaannya sejak peristiwa Mina terjadi.
Namun, para pencari jenazah yang tidak mengenal lelah sebelum tugas dituntaskan itu, juga menemukan lima jemaah WNI yang telah bermukim di Arab Saudi ikut menjadi korban dalam tragedi tersebut.
Sementara untuk korban crane roboh, mereka telah berhasil mengidentifikasi 55 jemaah Indonesia yang menjadi korban, 12 diantaranya meninggal dunia, dan 43 mengalami cidera ringan dan berat.
"Kami berharap pada musim haji tahun depan, ada 'contingency plan' (rencana darurat) untuk mengantisipasi kejadian luar biasa seperti ini, sehingga bila ada peristiwa besar bisa langsung `action', tidak perlu terlalu banyak rapat dan briefing," ujar Kepala Subdinas Pembinaan Dinas Perawatan Personel di TNI-AU itu. (Antara)