Kontras Pertanyakan Alasan Malaysia Mendeportasi Mugiyanto

Arsito Hidayatullah, Agung Sandy Lesmana

Kamis, 07 Januari 2016 | 19:18 WIB
Kontras Pertanyakan Alasan Malaysia Mendeportasi Mugiyanto
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). [suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Suara.com - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mempertanyakan alasan pemerintah Malaysia mendeportasi aktivis hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia, Mugiyanto. Diduga, alasan pendeportasian tersebut lantaran keberadaan Mugiyanto bisa membahayakan dan mengancam pemerintahan Najib Razak dan disebut menjadi bagian dari gerakan #YellowMania.

"Kata siapa? Buktikan dong! Kalau kata-katanya, buktikan dong. Mereka juga di sana punya badan intelijen negara. Kalau mau tanya, verfikasi data dan sebagainya, buktikan datanya di mana, bagaimana," kata Wakil Koordinator Bidang Strategi dan Mobilisasi Kontras, Puri Kencana Putri, saat dihubungi Suara.com di Jakarta, Kamis (7/1/2016).

Puri menilai, pendeportasian yang dilakukan pemerintah Malaysia terhadap Mugiyanto membuktikan bahwa pemerintahan negara-negara di kawasan Asia Tenggara masih sangat sensitif dengan isu demokrasi dan kebebasan berpendapat.

 
"(Masih) Sangat anti dengan hal-hal yang sifatnya hak untuk berkumpul, menyatakan pendapat, dan sebagainya," kata Puri.

Puri menambahkan, keberadaan Mugiyanto di Malaysia adalah untuk memperkuat solidaritas publik dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN atau MEA.

"Awal tahun ini kan kita punya masyarakat ASEAN, masyarakat yang terbuka, inklusif, dan kemudian ada tantangannya masyarakat ekonomi ASEAN," katanya.

Sebelumnya diketahui, Mugiyanto dideportasi oleh imigrasi Malaysia. Dia disebut menjadi bagian dari gerakan #YellowMania penentang pemerintahan Najib Razak.

Mugiyanto adalah aktivis HAM dari Kontras. Dia adalah salah satu dari 9 orang yang selamat dari dugaan upaya penculikan militer di bawah pimpinan Presiden Soeharto di masa Orde Baru.

Berdasarkan data Kontras, ada 23 aktivis yang diculik selama periode 1997-1998. Satu di antara mereka ditemukan tewas, sementara 13 di antaranya masih hilang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Deportasi Mugiyanto, KontraS: Malaysia Paranoid

Deportasi Mugiyanto, KontraS: Malaysia Paranoid

News | Kamis, 07 Januari 2016 | 18:13 WIB

Pakar Hukum Malaysia: Deportasi Mugiyanto Berlebihan

Pakar Hukum Malaysia: Deportasi Mugiyanto Berlebihan

News | Kamis, 07 Januari 2016 | 16:22 WIB

Dideportasi, Mugiyanto Pakai Skype Bicara 'Gerakan' di Malaysia

Dideportasi, Mugiyanto Pakai Skype Bicara 'Gerakan' di Malaysia

News | Kamis, 07 Januari 2016 | 15:28 WIB

Aktivis Malaysia: Deportasi Mugiyanto Kekanak-kanakan

Aktivis Malaysia: Deportasi Mugiyanto Kekanak-kanakan

News | Kamis, 07 Januari 2016 | 15:04 WIB

Terkini

Dry Ice Diuji untuk Atasi Kabut Asap, Mengapa Sumsel Masih Diselimuti Asap Pekat Berbahaya?

Dry Ice Diuji untuk Atasi Kabut Asap, Mengapa Sumsel Masih Diselimuti Asap Pekat Berbahaya?

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 23:55 WIB

Terjaring OTT, KPK Periksa Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo di Mapolresta Klaten

Terjaring OTT, KPK Periksa Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo di Mapolresta Klaten

Jawa Tengah | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Daftar 16 Perusahaan Perkebunan dan HTI Diusut Soal Karhutla Sumsel, Baru PT RAS Punya Tersangka

Daftar 16 Perusahaan Perkebunan dan HTI Diusut Soal Karhutla Sumsel, Baru PT RAS Punya Tersangka

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:50 WIB

Nestle Indonesia Gandeng Kemendag, Perkuat Daya Saing Produk Lokal di Pasar Global

Nestle Indonesia Gandeng Kemendag, Perkuat Daya Saing Produk Lokal di Pasar Global

Bisnis | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:49 WIB

Koalisi Pers Sumsel Desak Evaluasi Pengamanan Demo Usai Tiga Wartawan Dikeroyok

Koalisi Pers Sumsel Desak Evaluasi Pengamanan Demo Usai Tiga Wartawan Dikeroyok

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:46 WIB

Kasus Karhutla Sumsel: 16 Perusahaan Diusut, Mengapa Baru PT RAS Ditetapkan Tersangka?

Kasus Karhutla Sumsel: 16 Perusahaan Diusut, Mengapa Baru PT RAS Ditetapkan Tersangka?

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:21 WIB

Dirut Jadi Tersangka Korupsi Nikel, PT CNI Hormati Proses Hukum

Dirut Jadi Tersangka Korupsi Nikel, PT CNI Hormati Proses Hukum

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:11 WIB

Kejagung Ungkap Alasan Jabatan Kajati Diusulkan Setara Bintang Tiga

Kejagung Ungkap Alasan Jabatan Kajati Diusulkan Setara Bintang Tiga

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:04 WIB

Setahun Kepergian Kartini Muljadi, Nilai Kebaikannya Dihidupkan Lewat Tiga Program Sosial

Setahun Kepergian Kartini Muljadi, Nilai Kebaikannya Dihidupkan Lewat Tiga Program Sosial

Lifestyle | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:02 WIB

Penyebab Banjir Nepal Bisa Setinggi 25 Meter Terkuak, Dunia Diambang Kiamat?

Penyebab Banjir Nepal Bisa Setinggi 25 Meter Terkuak, Dunia Diambang Kiamat?

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:02 WIB

×