MUI: Gafatar Bisa Belah Persatuan Bangsa

Ardi Mandiri

Jum'at, 29 Januari 2016 | 00:09 WIB
MUI: Gafatar Bisa Belah Persatuan Bangsa
Sebanyak 712 pengungsi mantan anggota Gafatar tiba di dermaga Kolinlamil TNI AL‎, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (27/1/2016). [Suara.com/Oke Atmaja]

Suara.com - Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebak KH Baidjuri menyatakan organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) bisa memecah belah persatuan bangsa juga mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Kami minta organisasi Gafatar dibubarkan dan dilarang berkembang di Tanah Air," katanya di Rangkasbitung, Kamis (28/1/2016).

Ancaman NKRI itu diawali dengan mengembangkan ajaran sesat juga janji-janji kehidupan yang lebih baik untuk menarik para pendukung.

Gejala ajaran Gafatar, katanya, menyesatkan akidah agama Islam dengan tidak mempercayai Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir, kemudian mempercayai Ahmad Musaddeq sebagai rasul.

Mereka menganut kepercayaan teologi Abraham yang menyatukan imam Yahudi, Kristen dan Islam, Allah telah bersemayam di dalam diri rasul, Allah sudah manunggal (menyatu) dengan diri rasul.

Bahkan, umat Muslim tidak diwajibkan melaksanakan shalat, puasa dan ibadah haji.

Faham Gafatar sama dengan Al Qiyadah Al Islamiyah yang dilarang oleh pemerintah itu.

Karena itu, kelompok Gafatar patut diwaspadai,selain mengembangkan ajaran sesat juga menjadi ancaman keutuhan NKRI.

"Kami minta pemerintah membubarkan Gafatar karena bisa menjadikan ancaman NKRI juga merusak akidah agama Islam," katanya.

Menurut dia, MUI Kabupaten Lebak mendukung pemerintah daerah dengan melarang ajaran Gafatar berkembang di daerah ini.

Pelarangan tersebut diperkuat Surat Keputusan Bupati Nomor 11 tahun 2015 tentang larangan menyampaikan,mengajak dan mengembangkan Gafatar.

Selain itu juga Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan (Bakorpakem) setempat memfatwakan Gafatar sesat dan menyesatkan.

"Kami berharap larangan ini bisa mencegah ajaran Gafatar tidak masuk di wilayah Lebak," katanya.

Ia mengatakan, ciri-ciri ajaran sesat itu, diantaranya kehidupanya serba tertutup dan hanya komunitas mereka saja.

Ia mencontohkan, kepergian kelompok Gafatar Kabupaten Lebak yang terdiri dari keluarga Muahemin (45), Maman (45),Suharnimah (40), Darna (35) dan Harun (62), mereka menghilang kampung halaman tanpa kabar dan pesan terhadap orangtua, mertua, tetangga dan anggota saudara bersangkutan.

Selain itu juga mereka memisahkan diri dengan lingkungan dan membangun ekonomi yang kuat, seperti bertani di Kalimantan Barat tersebut.

Apabila, mereka sudah kuat dalam hal ekonomi maka dikhawatirkan membangun kekuatan militer dengan melawan NKRI untuk mendirikan negara sendiri.

Karena itu, Gafatar menjadikan ancaman serius dan tidak main-main sehingga harus ditangani secara maksimal.

Saat ini, komunitas Gafatar yang juga merupakan komunitas eksklusif dengan memiliki anggota 4.000 orang di Kalimantan Barat cukup berbahaya jika tidak segera dilakukan pembinaan agama juga kecintaan terhadap NKRI dan Tanah Air.

"Kami berharap para eks anggota Gafatar yang dikembalikan ke daerahnya dari Kaliamnatan bisa membangun kehidupan normal dan berbaur dengan lingkungan masyarakat," katanya.

Ketua Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan (Bakorpakem) Kabupaten Lebak Rini Hartati memfokuskan pembinaan eks pengikut Gafatar untuk mencintai NKRI juga kembali diterima masyarakat.

Disamping itu juga eks pengikut Gafatar ke depan jangan kembali terbujuk atau rayuan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, sehingga merugikan diri sendiri maupun keluarga.

Saat ini, nasib para mantan Gafatar yang dipulangkan kembali ke kampung halaman diberbagai daerah apakah ada yang bertanggung jawab, maka jawabanya tidak ada.

Namun, semua permasalahan yang dihadapi para mantan anggota Gafatar maka pemerintah memiliki tanggung jawab penuh terhadap warganya.

"Kami minta mantan anggota Gafatar lebih mempercayai pemerintah untuk melindungi rakyatnya," katanya.

Ia mengatakan, pengikut Gafatar kedepan dikhawatirkan menjadikan ancaman NKRI juga memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa jika mereka sudah memiliki kekuatan ekonomi yang kuat.

Mereka para mantan pengikut anggota Gafatar disebar di berbagai daerah di Kalimantan Barat untuk bertani ladang.

"Kita minta masyarakat agar tidak mudah mengikuti ajaran sesat,seperti Gafatar maupun ajaran radikalisme yang bisa merugikan diri sendiri juga keluarga bersangkutan," kata Kepala Kejaksaan Negeri Lebak itu. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Pemprov DKI Jakarta Pernah Puji Gafatar

Pemprov DKI Jakarta Pernah Puji Gafatar

News | Kamis, 28 Januari 2016 | 15:47 WIB

Terkini

4 Kali Dilaporkan Warga, Tujuh Bangunan di Tanah Abang Segera Ditertibkan

4 Kali Dilaporkan Warga, Tujuh Bangunan di Tanah Abang Segera Ditertibkan

News | Senin, 06 Juli 2026 | 13:11 WIB

Linglung saat Diperiksa Polisi, Tersangka Pemukulan Pengendara Motor di Jagakarsa Jalani Tes Urine

Linglung saat Diperiksa Polisi, Tersangka Pemukulan Pengendara Motor di Jagakarsa Jalani Tes Urine

News | Senin, 06 Juli 2026 | 13:05 WIB

Pelaku Pemukulan Pengendara di Jagakarsa Jalani Tes Urine, Motif Masih Misterius

Pelaku Pemukulan Pengendara di Jagakarsa Jalani Tes Urine, Motif Masih Misterius

News | Senin, 06 Juli 2026 | 13:00 WIB

Peluru Tembus Dinding Tewaskan Ibu Hamil di Papua, DPR Minta Pemerintah Buka Siapa Pelakunya

Peluru Tembus Dinding Tewaskan Ibu Hamil di Papua, DPR Minta Pemerintah Buka Siapa Pelakunya

News | Senin, 06 Juli 2026 | 12:53 WIB

Bukan Sekadar Isu Sosial, Komisi VIII DPR Sebut LGBT Sebagai Ancaman Serius Kelanjutan Generasi

Bukan Sekadar Isu Sosial, Komisi VIII DPR Sebut LGBT Sebagai Ancaman Serius Kelanjutan Generasi

News | Senin, 06 Juli 2026 | 12:36 WIB

Kebakaran TPA Jatiwaringin Hampir Padam, Daerah Diminta Waspadai Ancaman Serupa

Kebakaran TPA Jatiwaringin Hampir Padam, Daerah Diminta Waspadai Ancaman Serupa

News | Senin, 06 Juli 2026 | 12:28 WIB

Kemlu Klarifikasi Kehadiran 'Wakil' Indonesia di Pemakaman Ali Khamenei

Kemlu Klarifikasi Kehadiran 'Wakil' Indonesia di Pemakaman Ali Khamenei

News | Senin, 06 Juli 2026 | 12:14 WIB

3 Polisi Gugur saat Gerebek Narkoba di Katingan, DPR Minta Jaringan Pelaku Dibongkar Total

3 Polisi Gugur saat Gerebek Narkoba di Katingan, DPR Minta Jaringan Pelaku Dibongkar Total

News | Senin, 06 Juli 2026 | 12:10 WIB

Novel Bamukmin Diisukan Jadi Komisaris PT HIN, Pendiri ACTA Pasang Badan: Apa yang Salah?

Novel Bamukmin Diisukan Jadi Komisaris PT HIN, Pendiri ACTA Pasang Badan: Apa yang Salah?

News | Senin, 06 Juli 2026 | 12:08 WIB

Prabowo Terima PM Singapura Lawrence Wong Hari Ini, 26 Kesepakatan Siap Ditandatangani

Prabowo Terima PM Singapura Lawrence Wong Hari Ini, 26 Kesepakatan Siap Ditandatangani

News | Senin, 06 Juli 2026 | 12:02 WIB

×