TV Sensor Tayangan Sendiri Gara-gara KPI

Siswanto, Ummi Hadyah Saleh

Rabu, 02 Maret 2016 | 19:25 WIB
TV Sensor Tayangan Sendiri Gara-gara KPI
Peneliti Kebijakan Publik dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad [suara.com/Ummi Hadyah Saleh]

Suara.com - Diskusi terhadap kebijakan blur atau sensor gambar pada tayangan acara Malam Penobatan Puteri Indonesia di salah satu stasiun televisi swasta masih hangat.

Peneliti Kebijakan Publik dari Saiful Mujani Research and Consulting Saidiman Ahmad menilai kebijakan stasiun TV tersebut tak lepas dari ulah Komisi Penyiaran Indonesia.

"Karena ada larangan KPI, jadi mereka (media) buat sensor sendiri, jadi muncul kesadaran untuk menjaga moral maka dilakukan sensor," ujar Saidiman di gedung LBH Jakarta, Rabu (2/3/2016)

Pengebluran tayangan, katanya, untuk menghindari agar tidak ditegur KPI.

"Mungkin ada doktrin semacam seperti saat Orde Baru. Media harus menjaga moralitas agar tidak boleh menayangkan yang merusak moral. Media televisi juga takut mendapat teguran KPI yang dianggap bahaya bagi media tersebut," katanya.

Saidiman sampai sekarang masih tidak habis pikir tayangan Putri Indonesia yang tengah mengenakan kebaya diblur.

"Itu kelihatan bodoh, masa pakai kebaya saja disensor. Kita punya identitas sendiri yang harus dilestarikan," kata Saidiman.

Saidiman juga mempersoalkan surat edaran KPI untuk melarang tayangan di TV atau radio yang mereka anggap mempromosikan LGBT.

"Kalau pria nggak boleh keperempuan-keperempuanan definisi gimana? kan itu multi definisi (edaran KPI)," kata dia.

Surat edaran KPI yang dipersoalkan adalah yang terbit pada 23 Februari 2016 lalu. Konten yang dilarang disiarkan adalah:
1. Gaya berpakaian kewanitaan;
2. Riasan kewanitaan;
3. Bahasa tubuh kewanitaan (termasuk  gaya berjalan, gaya duduk, gerakan tangan, ataupun perilaku lainnya);
4. Gaya bicara kewanitaan;
5. Menampilkan pembenaran atau promosi seorang pria untuk berperilaku kewanitaan;
6. Menampilkan sapaan terhadap pria dengan sebutan yang seharusnya diperuntukkan bagi wanita;
7. Menampilkan istilah dan ungkapan khas yang sering dipergunakan kalangan pria kewanitaan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Surat Edaran KPI Berpotensi Mematikan Keberagaman di Indonesia

Surat Edaran KPI Berpotensi Mematikan Keberagaman di Indonesia

News | Selasa, 01 Maret 2016 | 18:51 WIB

Larang Tayangan Lelaki "Melambai" di TV, Anggota KPI Disemprot

Larang Tayangan Lelaki "Melambai" di TV, Anggota KPI Disemprot

News | Selasa, 01 Maret 2016 | 16:12 WIB

GIB Dukung KPI Tolak Tayangan Kebanci-Bancian

GIB Dukung KPI Tolak Tayangan Kebanci-Bancian

News | Selasa, 01 Maret 2016 | 15:40 WIB

KPI Diprotes Gara-gara Serukan Stop Tayangan Lelaki "Melambai"

KPI Diprotes Gara-gara Serukan Stop Tayangan Lelaki "Melambai"

News | Selasa, 01 Maret 2016 | 13:16 WIB

Ini Tantangan Industri Televisi versi Tantowi Yahya

Ini Tantangan Industri Televisi versi Tantowi Yahya

News | Jum'at, 26 Februari 2016 | 17:05 WIB

Terkini

Houthi Ultimatum Arab Saudi: Serang Yaman, Bandara Bakal Hancur Lebur

Houthi Ultimatum Arab Saudi: Serang Yaman, Bandara Bakal Hancur Lebur

News | Minggu, 20 September 2026 | 21:05 WIB

Prabowo Minta Sanksi Pembakar Hutan Masuk Kategori Terorisme Ekologi

Prabowo Minta Sanksi Pembakar Hutan Masuk Kategori Terorisme Ekologi

Video | Minggu, 20 September 2026 | 21:01 WIB

5 Alasan Tarik Tunai di ATM Masih Terasa Merepotkan di Era Digital

5 Alasan Tarik Tunai di ATM Masih Terasa Merepotkan di Era Digital

Jabar | Minggu, 20 September 2026 | 20:58 WIB

Gibran Sentil Pegawai SPPG yang Olok-olok Korban Keracunan MBG: Jangan Bully Anak-anak

Gibran Sentil Pegawai SPPG yang Olok-olok Korban Keracunan MBG: Jangan Bully Anak-anak

News | Minggu, 20 September 2026 | 20:51 WIB

6 Masalah Tarik Tunai Konvensional yang Bikin Orang Beralih ke Dompet Digital

6 Masalah Tarik Tunai Konvensional yang Bikin Orang Beralih ke Dompet Digital

Sulsel | Minggu, 20 September 2026 | 20:48 WIB

5 Masalah Keuangan yang Sering Dialami Wisatawan Indonesia di Luar Negeri

5 Masalah Keuangan yang Sering Dialami Wisatawan Indonesia di Luar Negeri

Jatim | Minggu, 20 September 2026 | 20:33 WIB

Di Hadapan Pemimpin Kota Dunia, Pramono Pamer Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,52 Persen

Di Hadapan Pemimpin Kota Dunia, Pramono Pamer Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,52 Persen

News | Minggu, 20 September 2026 | 20:32 WIB

Startup Digital Purwodadi Bangun Ekosistem Kreatif, Anak Muda Lokal Jadi Motor Penggerak

Startup Digital Purwodadi Bangun Ekosistem Kreatif, Anak Muda Lokal Jadi Motor Penggerak

Tekno | Minggu, 20 September 2026 | 20:30 WIB

Terbentur Modal, UMKM Sulam Kasab Aceh Bangkit Berkat PNM Mekaar dan BRI

Terbentur Modal, UMKM Sulam Kasab Aceh Bangkit Berkat PNM Mekaar dan BRI

Bri | Minggu, 20 September 2026 | 20:20 WIB

Untung Rugi PT 5 Persen, Bikin Parlemen Efektif atau Hanguskan Suara Rakyat?

Untung Rugi PT 5 Persen, Bikin Parlemen Efektif atau Hanguskan Suara Rakyat?

News | Minggu, 20 September 2026 | 20:15 WIB

×