Suara.com - Kepergian legenda tinju dunia Muhammad Ali membuat umat Muslim di Amerika Serikat merasa kehilangan. Ali dipandang sebagai duta Islam di negara di mana Islam kerap disalahartikan dan dicurigai.
"Kami bersyukur pada Tuhan atas dirinya," kata ketua dan imam Masjid Muhammad di Washington, Talib Shareef dalam pertemuan pemimpin Muslim yang memberikan penghormatan terakhir kepada Ali di Washington, pada Sabtu(4/6/2016), sehari setelah Ali wafat di sebuah rumah sakit di Phoenix pada usia 74 tahun.
"Amerika harus bersyukur pada Tuhan atas dirinya. Ia adalah seorang pahlawan Amerika," sambung Shareef.
Dari kerusuhan terkait hak asasi dan pergerakan kaum kulit hitam pada era 1960an, hingga masa-masa gelap pascaserangan teror 11 September 2001, Ali tampil sebagai pahlawan bagi warga Muslim AS, juga bagi warga AS lainnya.
Bagi umat Islam, Ali dikenal sebagai sosok yang peduli pada keadilan sosial, sosok yang mendukung pekerjaan-pekerjaan amal, dan penentang perang AS di Vietnam.
Seperti diketahui, Ali mengejutkan masyarakat AS saat menjadi anggota Negara Islam pada tahun 1964 dan mengubah namanya yang semula adalah Cassius Clay.
"Ketika kami melihat sejarah komunitas Afrika-Amerika, salah satu faktor penting yang mempopulerkan Islam di Amerika adalah Muhammad Ali," kata putra mantan pemimpin Negara Islam, Warith Deen Mohammed Il.
Memang ada tokoh-tokoh kulit hitam lain yang juga memperkenalkan Islam seperti Elijah Muhammad dan Malcolm X. Mereka ini juga memperjuangkan persamaan hak bagi kaum mereka.
Namun, Ali dipandang sebagai salah satu sosok yang lebih populer dan disukai. Kendati demikian, ada masa ketika ia ditolak, terutama oleh kaum kulit putih lantaran menentang ideologi supremasi kulit putih, juga oleh sebagian pemimpin kulit hitam lantaran menentang pemikiran yang disampaikan oleh tokoh pejuang hak kulit hitam, Martin Luther King.
Ali juga pernah dianggap sebagai pengkhianat negara lantaran menolak ikut wajib militer pada masa perang Vietnam. Pada tahun 1970, Ali memeluk Islam Sunni dan memilih jalur sufisme.
Bulan Desember tahun lalu, Ali melontarkan pembelaan setelah kandidat presiden dari Partai Republik Donald Trump, mengajukan rencana untuk melarang umat Islam masuk ke AS. Rencana itu dilontarkan Trump menyusul aksi terorisme di Paris, Prancis, dan San Bernardino, California.
"Para pemimpin politik kita seharusnya menggunakan posisi mereka untuk memberikan pemahaman soal agama Islam, dan mengklarifikasi pembunuhan sesat ini merusak pandangan orang tentang Islam yang sesungguhnya," kata Ali dalam sebuah pernyataan.
"Muhammad Ali adalah anugerah dari Tuhan," kata direktur eksekutif Dewan Hubungan Amerika-Islam, Nihad Awad.
"Bukan hanya anugerah bagi Muslim, tapi juga bagi seluruh dunia," ujarnya. (Reuters)