Suara.com - Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) malas berdebat dengan politisi PDI Perjuangan yang tak menyukainya maju ke pilkada Jakarta periode 2017-2022. Ahok mengatakan keputusan PDI Perjuangan ada di tangan Megawati Soekarnoputri.
"Putusan di Bu Mega, ngapain aku ribut sama mereka. Dan aku juga tahu PDIP kok, kalau udah dibuat keputusan, semua ini diam," ujar Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (8/8/2016).
Ahok bisa memahami pro kontra di internal PDI Perjuangan saat ini. Gejolak yang disebut Ahok untuk mempengaruhi sikap Megawati terjadi karena Megawati belum mengambil keputusan.
"Justru kalau nggak segera diputusin inilah jadi pada manuver, berusaha mempengaruhi ibu ketua umum," katanya.
Ahok kemudian menceritakan pengalaman menjelang Pilkada Jakarta tahun 2012 ketika PDI Perjuangan masih mewacanakan mengusung Joko Widodo dan Ahok. Ketika itu, banyak politisi PDI Perjuangan yang menolak mengusung Jokowi, termasuk almarhum suami Megawati, Taufik Kiemas.
Setelah menilai kinerja dan prestasi Jokowi di Solo, akhirnya Megawati memutuskan mendukung Jokowi, lalu semua kader mendukung.
"Dulu Ibu Mega lawan lho, sampai Pak Taufik Kiemas pun dia lawan, termasuk Mbak Puan Maharani pun lebih setuju Foke (Fauzi Bowo) dulu," kata Ahok.
Di PDI Perjuangan, kata Ahok, sudah menjadi tradisi sebelum ada keputusan Megawati, internal akan bergejolak, tetapi setelah Megawati memutuskan, semua akan mendukung.
"Dulu Bu Mega bilang, 'saya yakin Jokowi - Ahok akan menang' kira-kira gitu kata Bu Mega, 'semua harus turun bekerja, semua DPR dari PDIP turun, semua kepala daerah PDIP turun, karena ini Ibu Kota," kata Ahok.