Pembelaan Orangtua Gadis Belia yang Meninggal Usai Puasa 68 Hari

Arsito Hidayatullah

Senin, 10 Oktober 2016 | 20:07 WIB
Pembelaan Orangtua Gadis Belia yang Meninggal Usai Puasa 68 Hari
Ilustrasi. [Shutterstock]

Suara.com - Seorang gadis belia berusia 13 tahun harus meninggal usai menjalani ritual puasa --hanya minum air tanpa makan-- selama 68 hari di India. Konon, itu dilakukannya untuk meramaikan lagi bisnis ayahnya yang sempat lesu. Pihak kepolisian setempat kini tengah menginvestigasi kasusnya, sementara banyak pihak pun telah melontarkan kecaman.

Kepada BBC, pihak kepolisian di selatan Hyderabad menyatakan bahwa saat ini mereka hendak memastikan apakah Aradhana Samdariya, nama sang gadis yang jadi korban, telah dipaksa untuk berpuasa. Namun sejauh ini, orangtua Aradhana bersikeras bahwa gadis itu berpuasa secara sukarela, sebagai bagian dari ritual Jainism, salah satu kepercayaan tertua di dunia yang ada di India.

Menurut juru bicara pihak kepolisian setempat, kasus ini kini ditangani polisi setelah masuknya laporan dari sebuah organisasi hak-hak anak-anak. Kedua orangtua Aradhana, yakni Laxmi Chand dan Manshi Samdariya, kini diduga melakukan tindak pembunuhan tidak langsung (tindakan yang menyebabkan kematian/culpable homicide) serta tindak kekejaman terhadap anak di bawah umur.

Sementara itu, orangtua Aradhana membantah keras telah memaksa putri mereka menjalankan puasa itu. Sang orangtua yang adalah juga pedagang perhiasan cukup kaya itu justru mengaku sempat meminta anak mereka menghentikan ritual puasanya.

"Dia meminta izin untuk melakukan upvaas (puasa tanpa makanan). Kami memintanya untuk berhenti setelah 51 hari, tapi dia tidak mau menyerah. Puasa yang dilakukannya sukarela. Tidak ada yang memaksanya," ungkap Samdariya, sang ayah.

Bantahan juga disampaikan oleh kakek sang gadis, Manekchand Samdariya, yang mengaku bahwa mereka sendiri masih bersedih sang putri meninggal. Sebagaimana dilansir AFP, Manekchand juga menyatakan bahwa tidak ada paksaan atau perintah kepada Aradhana untuk berpuasa.

"Ini soal keyakinannya. Tidak ada yang memaksanya untuk berpuasa. Dia pernah berpuasa 34 hari pada tahun 2015, dan delapan hari pada 2014," tuturnya.

"Orang-orang datang untuk menunjukkan simpati kepada keluarga kami usai kematiannya. Tidak ada urusan agama yang dilibatkan di sini. Dia sendiri memang penganut yang teguh, dan kami bukan keluarga yang percaya hal-hal mistis," tambahnya.

Sebaliknya, kalangan aktivis pemerhati hak-hak anak menolak bantahan keluarga tersebut.

"Bangsa ini harusnya malu bahwa praktik seperti itu masih ada. Guru ayahnya menyarankan keluarga itu bahwa jika dia (Aradhana) berpuasa 68 hari, bisnis ayahnya akan menguntungkan," ujar aktivis Achyut Rao, kepada BBC Hindi.

"Aspek yang mengejutkan adalah bahwa keluarga itu merasa bahagia karena dia (Aradhana) merupakan sosok langka yang telah diambil oleh dewa," tuturnya lagi.

Sementara, dari pihak pemuka agama Jainism, pembelaan terhadap praktik puasa itu pun disampaikan, kendati dijelaskan bahwa ada batasan-batasan tertentu yang seharusnya berlaku.

"Perempuan hamil dan mereka yang tidak sehat tidak boleh berpuasa. Tapi tidak ada larangan terhadap anak-anak berpuasa. Namun soal seberapa banyak (lama) mereka berpuasa, harusnya tergantung pada kemampuan masing-masing individu," ungkap Maharasa Ravinder Muniji, seorang biksu Jain di Hyderabad. [BBC/AFP]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Ngeri, Perempuan Dimangsa Hidup-hidup 100 Anjing Liar

Ngeri, Perempuan Dimangsa Hidup-hidup 100 Anjing Liar

News | Senin, 22 Agustus 2016 | 19:05 WIB

Terkini

Satu Pakaian, Sejuta Harapan: CSR ibis Styles Bogor Pajajaran Bersama Yayasan Gemilang Indonesia

Satu Pakaian, Sejuta Harapan: CSR ibis Styles Bogor Pajajaran Bersama Yayasan Gemilang Indonesia

Bogor | Kamis, 23 Juli 2026 | 10:21 WIB

Nanik Tetap Jabat Komisaris Pertamina Usai Mundur dari BGN, Tunjangannya Lebih Besar

Nanik Tetap Jabat Komisaris Pertamina Usai Mundur dari BGN, Tunjangannya Lebih Besar

Bisnis | Kamis, 23 Juli 2026 | 10:18 WIB

Selat Hormuz Bakal Jadi 'Neraka Dunia', Ranjau Tanker Siap Meledak Kapan Saja

Selat Hormuz Bakal Jadi 'Neraka Dunia', Ranjau Tanker Siap Meledak Kapan Saja

News | Kamis, 23 Juli 2026 | 10:10 WIB

Harga Tiket Piala Presiden 2026 Murah Meriah, Seharga Dua Gelas Kopi!

Harga Tiket Piala Presiden 2026 Murah Meriah, Seharga Dua Gelas Kopi!

Bola | Kamis, 23 Juli 2026 | 10:10 WIB

Siapa itu Sudaryono Kepala BGN? Ini Profil, Silsilah Keluarga, dan Kekayaannya

Siapa itu Sudaryono Kepala BGN? Ini Profil, Silsilah Keluarga, dan Kekayaannya

News | Kamis, 23 Juli 2026 | 10:10 WIB

4 HP Midrange Samsung Terbaru 2026 dari Paling Murah hingga Spek Mirip Flagship

4 HP Midrange Samsung Terbaru 2026 dari Paling Murah hingga Spek Mirip Flagship

Tekno | Kamis, 23 Juli 2026 | 10:08 WIB

BNI Perkuat Program Pencegahan Stunting pada Hari Anak Nasional

BNI Perkuat Program Pencegahan Stunting pada Hari Anak Nasional

Bisnis | Kamis, 23 Juli 2026 | 10:06 WIB

MUI Usul Zakat Jadi Kredit Pajak, Bos DJP: Harus Berlaku Adil untuk Semua Umat Beragama

MUI Usul Zakat Jadi Kredit Pajak, Bos DJP: Harus Berlaku Adil untuk Semua Umat Beragama

Bisnis | Kamis, 23 Juli 2026 | 10:05 WIB

FIGC Rela Jebol Rekening Demi Rekrut Pep Guardiola Latih Timnas Italia

FIGC Rela Jebol Rekening Demi Rekrut Pep Guardiola Latih Timnas Italia

Bola | Kamis, 23 Juli 2026 | 10:00 WIB

Memaknai Hari Anak Nasional: Pesantren Sebagai Ruang Tumbuh Karakter Anak

Memaknai Hari Anak Nasional: Pesantren Sebagai Ruang Tumbuh Karakter Anak

Bisnis | Kamis, 23 Juli 2026 | 10:00 WIB

×