Array

Walau Dikritik, MUI Tak Tarik Fatwa Ahok Hina Quran dan Ulama

Kamis, 13 Oktober 2016 | 11:53 WIB
Walau Dikritik, MUI Tak Tarik Fatwa Ahok Hina Quran dan Ulama
Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin di kantor MUI, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis ( 13/10/2016). [suara.com/Dian Rosmala]

Suara.com - Meski sejumlah kalangan menganggap fatwa tidak berdasar pada analisis tafsir yang mendalam, MUI tetap tidak menarik kembali pendapat mereka. Majelis ini tetap menganggap pernyataan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menghina Al Quran dan ulama terkait pengutipan surat Al Maidah ayat 51 ketika bertemu dengan warga di Kepulauan Seribu, beberapa waktu yang lalu.

"MUI tetap teguh pada pernyataan resmi tersebut. Karena merupakan bagian dari tugas MUI membimbing umat dan menjaga negara," kata Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin di kantor MUI, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis ( 13/10/2016).

Ma'ruf menegaskan sikap MUI terhadap Ahok tidak berhubungan dengan kepentingan di pilkada Jakarta. Ma'ruf memastikan ketika MUI bersikap, tidak dalam tekanan atau intervensi.

"Tidak ada hubungannya dengan masalah hiruk-pikuk yang di luar. Tidak ada tekanan, tidak ada intervensi. Tidak ada yang mempengaruhi sikap MUI. Itu semata-mata sikap keagamaan. Murni," ujar Ma'ruf.

Sebelum MUI mengeluarkan fatwa, Ahok terlebih dahulu meminta maaf atas pernyataannya yang dianggap menghina. Ahok mengatakan ketika mengutip ayat Al Quran sama sekali tidak dimaksudkan untuk melecehkan siapapun.

Kemarin, Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia Hamka Haq menilai keputusan MUI terhadap pernyataan Ahok tidak melalui kajian secara mendalam.

"Fatwa itu tidak berdasar pada analisis tafsir yang mendalam," kata guru besar IAIN Alauddin Makassar itu di DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (12/10/2016).

Menurut anggota Fraksi PDI Perjuangan itu surat Al Maidah ayat 51 tidak menyangkut kepemimpinan secara secara umum.

"Menurut kajian saya, Al Maidah Ayat 51 bukan menyangkut kepemimpinan secara umum. Dalam tafsir Al Kurtubi menerangkan ayat turun ketika umat Islam hadapi kaum jahiliyah. Pasukan dikumpulkan kala itu, Yahudi, Nasrani hadapi jahiliyah," ujar Hamka.

Lebih jauh, Hamka menjelaskan sebab turunnya ayat tersebut.

"Umat Islam khawatir jumlahnya sedikit, peralatan, keahlian belum ada, makanya ditunjuk Yahudi pimpinan pasukan. Turunlah ayat itu. Itu pimpinan dalam arti perang bukan civil society," kata Hamka.

Buntut pernyataan Ahok tempo hari, sejumlah organisasi masyarakat melaporkan Ahok atas dugaan penistaan agama ke polisi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI