Array

Ketua Umum PBNU: Islam Adalah Nasionalisme

Jum'at, 09 Juni 2017 | 19:30 WIB
Ketua Umum PBNU: Islam Adalah Nasionalisme
Buku Miqat Kebinekaan Sebuah Renungan Meramu Pancasila, Nasionalisme dan NU sebagai Titik Pijak Perjuangan resmi diluncurkan. [Suara.comDwi Bowo Raharjo]

Buku Miqat Kebinekaan: Sebuah Renungan Meramu Pancasila, Nasionalisme dan NU sebagai Titik Pijak Perjuangan resmi diluncurkan. Buku ditulis oleh Sekretaris Jendral Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Helmy Faishal dalam merespon berbagai persoalan nasioanlisme Kebinekaan Indonesia dari sudut pandang warga Nahdlatul Ulama.

Helmy menerangkan, kata Miqot diambil dari bahasa Arab dan memiliki dua arti, yakni berdasarkan dimensi waktu dan yang kedua berdasarkan dimensi ruang.

"Jadi dimensi ruang dan waktu yang ketemu jadi kebersamaan, itu yang menjadi Miqot Kebinekaan," kata Helmy di Auditorium PBNU, Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2017).

Selain itu, Helmy mengatakan buku ini menjawab kegelisaan soal munculnya aliran yang mengatasnamakan Islam, padahal jauh dari nilai keislaman.

"Ada upaya maksaan kehendak baik dari gerakan politik, maupun dari gerakan yang seolah-olah ini atas nama Islam. Kita kenal ada gerakan ISIS yang kita ketahui sekarang, kalau kita ikuti perkembangan di Filipina, Malawi, ini mengkhawatirkan kita," kata dia.

Melalui buku ini, Helmy ingin mengedepankan Islam yang Rahmatan Lil 'Alamin. Islam yang mengajarkan kedamaian, Islam yang ramah bukan Islam yang marah, Islam yang mengajak bukan Islam yang mengejek, Islam yang merangkul bukan islam yang memukul.

"Itu suatu pandangan keagamaan. NU salah satu ormas terbesar dan ikut mendirikan republik ini, telah memberikan pondasi dalam kehidupan kemasyarakatan, keagaman," ujar Helmy.

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj mengapresi buku ini. Dia mengajak masyarakat Indonesia bangga lahir dan tinggal di tanah air dengan keberagaman suku, bahasa, dan agama.

Baca Juga: Ketua PBNU: Kalau Tak Salah, Pulanglah Habib Rizieq

"Kita merasa gembira mendapatkan penghargan dari tuhan, kita tinggal di Indonesia sudah disiapkan untuk hidup dari bangsa yang bhinneka," kata Aqil.

Mengutip Hasim Asy'ari, Aqil mengatakan Islam dan nasionalisme harus saling memperkuat dan tidak boleh dipertentangkan.

"Islam adalah nasionalisme, nasionalisme adalah Islam. Nasionalisme bagian dari iman," kata Aqil.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI