”Sejak saat itu, Facebook ku dibanjiri kata-kata hinaan dan pesan kutukan dari seluruh dunia. Teman-temanku, dan juga keluargaku juga mendapat hal yang sama dari warga dunia.”
Rebecca menuturkan, dirinya merasa sakit hati karena banyak orang yang menilai ia tak seharusnya ada di Israel dan memerangi warga Palestina. Apalagi Rebecca lahir dan besar di AS, bukan Israel.
“Tapi, saya tetap mencintai Israel dan saya berdiri di sini sebagai tentara penjaganya. Pada saat yang sama, saya bisa melakukan sesuatu yang baik untuk seseorang yang saya mau, terlepas dari politik.”
Rebecca menuturkan, ia sudah mengajukan permohonan tahun jeda (cuti) ke IDF untuk menjadi sukarelawan membantu pengungsi konflik Suriah di Yunani.
“Aku akan mengajari pengungsi Suriah Bahasa Inggris, sebagai bekal mereka berimigrasi ke AS atau Eropa. Aku memulai tugas sebagai sukarelawan di Yunani mulai pekan depan. Itu tugas pentingku, terlepas dari perbedaan politik maupun agama.”