Pangdam Cenderawasih: 600 Prajurit TNI Akan Disebar di Trans Papua

Liberty Jemadu
Pangdam Cenderawasih: 600 Prajurit TNI Akan Disebar di Trans Papua
Pembangunan jalan Trans Papua di Papua. [Dok Kementerian PUPR]

Pembangunan jalan Trans Papua akan diteruskan oleh TNI AD dengan bantuan tenaga ahli dari PT Istaka Karya dan PT. Brantas Adibraya.

Suara.com - Panglima Kodam (Pangdam) XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Yosua Pandit Sembiring mengatakan 600 prajurit TNI akan disebar di sepanjang jalan Trans Papua antara Wamena hingga Mumugu.

"Pasukan TNI tersebut akan digelar di sepanjang jalur pembangunan transPapua Wamena-Mumugu, khususnya dalam pembangunan jembatan," katanya di Kota Jayapura, Papua, Selasa (5/3/2019).

Untuk teknis pelaksanaan pembangunannya akan dilanjutkan oleh satuan zeni konstruksi (zikon) TNI AD, sedangkan tenaga ahli tetap dari PT Istaka Karya dan PT. Brantas Adibraya.

"Untuk tenaga ahlinya tetap dari perusahaanya. Dan ini kami mau sampaikan bahwa dalam kasus di Nduga, negara tidak boleh mundur hanya karena adanya teror dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab," tegasnya.

Negara, tambahnya akan tetap melanjutkan pembangunan sampai selesai, karena hal ini demi untuk kemaslahatan dan kesejahteraan seluruh rakyat Papua.

"Ini demi memajukan Papua, agar sama dengan daerah lainnya di Indonesia," ujarnya.

Ketika ditanya apakah rakyat tidak trauma atas kehadiran prajurit TNI di Kabupaten Nduga, Pangdam menyebutkan bahwa situasi di Nduga saat ini kondusif.

"Rakyat yang mengungsi akibat insiden pembantaian terhadap karyawan PT Istaka Karya pada awal Desember 2018 sudah mulai kembali ke kampung dan menjalani kehidupan sosial dan ekonomi secara normal," katanya.

Ia mengklaim bahwa rakyat justru trauma karena tindakan kekerasan oleh kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB).

"Anda bisa membayangkan bagaimana rakyat sipil diikat tangannya dari belakang, dikumpulkan jadi satu kemudian ditembak dan dibantai secara sadis tanpa prikemanusiaan?" lanjutnya.

Belum lagi, ungkap dia guru-guru dan tenaga kesehatan yang sedang bertugas di Mapenduma dianiaya dan diperkosa pada Oktober 2018.

"TNI tidak mungkin dan tidak akan pernah melakukan tindakan biadab seperti itu. KKSB selalu memutarbalikkan fakta, dibuat seakan-akan TNI adalah pelaku penjahat kemanusiaan," tambahnya.

KKSB, kata dia sengaja membuat opini bahwa yang dibantai di Distrik Yigi pada Desember tahun lalu adalah anggota TNI yang menyamar, tapi nyatanya media bisa melihat langsung korban dikembalikan ke keluarga dan semuanya adalah warga sipil.

"Bahkan kita lihat yang sedang viral di media sekarang, keluarga membuat surat terbuka kepada presiden agar informasi tentang nasib anggota keluarganya yang masih dinyatakan hilang agar segera terungkap," tutup dia. [Antara]

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS