4 Anak Kecil Jadi Tumbal Kekejian Pelaku Penembakan Masjid Selandia Baru

Bangun Santoso Suara.Com
Kamis, 21 Maret 2019 | 09:38 WIB
4 Anak Kecil Jadi Tumbal Kekejian Pelaku Penembakan Masjid Selandia Baru
Bunga-bunga yang diletakkan warga Christchurch, Selandia Baru, di depan Masjid Al Noor yang menjadi lokasi penembakan massal pada Jumat (15/3/2019). [Marty Melville/AFP]

Abdullah (4), yang paling muda di keluarganya, bersama empat saudaranya di dalam masjid yang semuanya selamat dari serangan teroris.

Keluarganya telah menyelamatkan diri dari Somalia, yang dicabik perang, pada pertengahan 1990-an sebagai pengungsi dan menetap di Selandia Baru.

Pamanya, Abdulrahman Hashi, seorang tokoh agama di satu masjid di Kota Minnepolis, AS, mengatakan kepada New Zealand Herald bahwa serangan teror adalah masalah ekstremisme.

"Sebagian orang mengira orang Muslim di negeri mereka adalah bagian dari itu, tapi ini adalah orang yang tak bersalah," katanya.

Sayyad Milne

"Saya mencintai anak lelaki kecil saya. Ia baru berusia 14 tahun," kata ayah Sayyad Milne, John, kepada The New Zealand Herald. Ia menangis sepanjang wawancara.

Sayyad, siswa yang berusia 10 tahun dan mencintai sepak bola, adalah salah satu dari dua siswa Sekolah Menengah Cashmere yang meninggal dalam serangan teroris bersama Hamza Mustafa --siswa yang berusia 12 tahun.

"Ia membuktikan dirinya bukan hanya sebagai penjaga gawang sejati tapi seorang rekan dan teman yang luar biasa, pemain tim sesungguhnya dengan sikap yang luar biasa dan kepribadian yang hangat serta bersahabat," kata St. Albans Shirley Football Club di dalam satu pernyataan di Facebook.

"Sayyad adalah salah seorang dari kami, dan kami akan selalu mengingat dia," katanya.

Baca Juga: Dituduh Jadi Pelakor, Caleg PKPI Dilaporkan ke Polisi

Hamza Mustafa

Warga lintas agama di Christchurch Selandia Baru memberi penanda kepada warga Muslim di depan Masjid Al Noor yang menjadi lokasi penembakan massal pada Jumat (15/3/2019). [AFP/ Michael Bradley]
Warga lintas agama di Christchurch Selandia Baru memberi penanda kepada warga Muslim di depan Masjid Al Noor yang menjadi lokasi penembakan massal pada Jumat (15/3/2019). [AFP/ Michael Bradley]

Hamza Mustafa, yang berusai 16 tahun, secara insting menelepon ibunya ketika penembakan dimulai di Masjid An-Nur.

"Ia mengatakan 'Ibu, ada seseorang memasuki masjid dan ia menembaki kami'," kata ibunya, Salwa, sebagaimana diberitakan jejaring berita Stuff.

"Saya menelepon 'Hamza, Hamza', dan saya dapat mendengar suara pelannya, dan setelah itu, semuanya hening," katanya.

Wanita itu terus memegang telepon selama 22 menit, dengan harapan Hamza akan menjawab.

"Teleponnya nyala, tapi saya tak bisa ngomong dengan dia. Setelah itu seseorang mengambil telepon tersebut dan memberitahu saya 'anakmu tidak bernafas, saya kira ia meninggal'."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI