Beda Aksi Mahasiswa 1998 dengan 2019: Gembira Ria Lawan Penguasa

Reza Gunadha

Rabu, 25 September 2019 | 15:24 WIB
Beda Aksi Mahasiswa 1998 dengan 2019: Gembira Ria Lawan Penguasa
[Facebook/Dandhy Dwi Laksono]

Beragam isu ini disertai dengan beragam aktor-aktor politik dan ekonomi di setiap isu tersebut. Para aktor politik dan ekonomi ini memiliki misi untuk menggiring opini publik juga. Hasilnya adalah masyarakat sipil, termasuk mahasiswa, rentan terhadap fragmentasi, baik dari segi isu maupun pengelompokan sosial.

Akibat lanjutnya adalah sulit sekali mencari common ground atau kepentingan bersama yang menyatukan semua kelompok, dan selanjutnya musuh bersama. Musuh gerakan 2019 ini sangat banyak, termasuk para senior mereka sendiri–aktivis ‘98–baik yang telah duduk di posisi strategis lembaga negara dan partai politik, atau yang sekadar menjadi pengamat.

Poster unik massa aksi mahasiswi di Malang. [Suara.com/Aziz Ramadani]
Poster unik massa aksi mahasiswi di Malang. [Suara.com/Aziz Ramadani]

Generasi 1998 tidak mengalami kerumitan isu ini. Isunya tunggal yakni turunnya Suharto. Common ground kami sudah terbentang rapi. Sehingga saat rapat persiapan aksi, yang kami resahkan lebih pada strategi berhadapan dengan aparat yang mungkin akan sangat represif.

Dalam rapat-rapat tersebut, kami diteror kabar yang menciutkan hati. Konon, ratusan tentara sedang dalam perjalanan dari Jakarta untuk menghalau aksi.

Selain itu, isu yang diusung generasi 2019 lebih nyata dan bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya mereka menolak RKUHP karena salah satu pasalnya akan mengancam pekerja generasi Z dan milenial yang pulang malam dengan denda yang signifikan angkanya.

Sedangkan isu yang diusung generasi 1998 sangat besar dan makro yang 'nun jauh di sana’. Generasi 1998 mengangkat isu terkait dengan hak politik seperti kebebasan berpendapat dan berkumpul. Isu yang diangkat tidak terlalu menyentuh hak warga sehari-hari, seperti kebebasan untuk melakukan mobilitas fisik seperti bepergian karena bekerja.

Dulu, tentara dan orang tua tersayang adalah dua pihak yang paling kami takuti. Tentara akan mementungi kami, dan mengejar kami sampai ke kampus. Orangtua akan menelepon dan berpesan pelan untuk fokus pada kuliah. Sekarang, para orang tua pasti masih mengirim pesan pada para ananda. Peran tentara diganti para polisi.

2. Peran penting media sosial

Penggunaan teknologi informasi adalah kunci dari cepatnya proses persiapan aksi protes mahasiswa kali ini. Generasi 2019 sangat mahir dalam penggunaan media sosial. Mereka melakukan koordinasi, penyebaran informasi, dan bahkan penggalangan dana untuk mendukung aksi unjuk rasa melalui media sosial.

baca juga

Info tentang aksi bisa dengan cepat disebarluaskan. Gerakan masa kini bisa dengan mudah menjadi inklusif, merangkul sebanyak mungkin pihak.

Tagar #SemuaBisaKena, dan #ReformasiDikorupsi yang muncul di media sosial adalah strategi yang sangat baik untuk membangun kesamaan yang mampu menyatukan semua elemen warga di tengah banyaknya isu yang diperjuangkan.

Pada 1998, alat komunikasi yang tersedia adalah sambungan telepon rumah dan telepon umum. Sehingga koordinasi aksi membutuhkan waktu berminggu-minggu. Ketiadaan alat komunikasi dan media sosial tersebut menyulitkan gerakan untuk menjadi inklusif, merangkul semua kalangan dari beragam elemen.

Poster unik mahasiswa saat aksi Gejayan Memanggil. (Twitter)
Poster unik mahasiswa saat aksi Gejayan Memanggil. (Twitter)

Terus maju

Sebagai bagian dari sejarah yang berhasil meruntuhkan dinasti Suharto pada 1998, saya melihat begitu banyak hal yang menarik dan lebih canggih dari gerakan mahasiswa saat ini dibanding 20 tahun yang lalu.

Ada setidaknya tiga hal yang bisa menjadi pembelajaran penting buat kita semua dalam aksi bersama menggugat penguasa:

Pertama, pentingnya untuk terus mencari kesamaan dan “musuh bersama”, membuat platform kolektif, agar gerakan bisa menjangkau lebih banyak warga baik di kampus maupun luar kampus, dan agar gerakan bisa lebih berkelanjutan.

Semakin banyak dukungan semakin baik. Kerja kreatif dengan menghasilkan berbagai hashtag seperti #SemuaBisaKena akan sangat mendukung gerakan.

Kedua, terus menjadi diri mereka sendiri dan bergembira saat aksi.

Generasi ini ditandai dengan kadar “kerecehannya” yang sangat tinggi. Angkatan 2019 berbeda dengan angkatan 1998 yang selalu hikmat dan serius, dan cenderung baperan. Mungkin karena kami selalu takut dikejar tentara, ditekan petinggi kampus, atau merasa frustasi karena sulitnya mengajak rekan mahasiswa untuk ikut aksi. Isi spanduk kami pun sangat serius dan berwibawa. Bagi kami menulis spanduk nyeleneh mengkhianati perjuangan.

Namun, atmosfer aksi di Yogyakarta Senin lalu penuh dengan kegembiraan. Demikian juga di kota lain, sebelum dipentung dan dikejar para polisi.

Ketiga, perlunya untuk terus mengoptimalkan platform media sosial sebagai alat membangun gerakan dalam rangka mendorong gerakan yang lebih inklusif dan luas. Pemanfaatan teknologi adalah salah satu kunci bagi kelancaran konsolidasi gerakan mahasiswa saat ini.

Sungguh, kami perlu banyak belajar dari gerakan mahasiswa 2019!

The Conversation

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Blitar Bersihkan "Sampah UU dan RUU"

Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Blitar Bersihkan "Sampah UU dan RUU"

Jatim | Rabu, 25 September 2019 | 14:04 WIB

6 Poster Lucu Aksi Mahasiswa: 1 Permen Milkita = 4 Otak DPR

6 Poster Lucu Aksi Mahasiswa: 1 Permen Milkita = 4 Otak DPR

Jatim | Rabu, 25 September 2019 | 13:56 WIB

Siswa STM Mau Aksi Bantu Kakak Mahasiswa di DPR, Tapi Malah Dijemur Polisi

Siswa STM Mau Aksi Bantu Kakak Mahasiswa di DPR, Tapi Malah Dijemur Polisi

News | Rabu, 25 September 2019 | 13:27 WIB

Mahasiswa Pendemo DPR: Saat Sesak Napas, Mulut Saya Ditembak Peluru Karet

Mahasiswa Pendemo DPR: Saat Sesak Napas, Mulut Saya Ditembak Peluru Karet

News | Rabu, 25 September 2019 | 12:58 WIB

Babak Belur saat Demo, Naufal: Perusuh di DPR Tua-tua Tak Pakai Almamater

Babak Belur saat Demo, Naufal: Perusuh di DPR Tua-tua Tak Pakai Almamater

News | Rabu, 25 September 2019 | 12:33 WIB

5 Video Tingkah Polisi di Demo Mahasiswa, Kejar sampai Masjid dan Mal

5 Video Tingkah Polisi di Demo Mahasiswa, Kejar sampai Masjid dan Mal

News | Rabu, 25 September 2019 | 13:28 WIB

Terkini

AI Makin Banyak Dipakai Perusahaan, A10 Siapkan Satu Pusat Kontrol untuk Atur Model dan Biaya

AI Makin Banyak Dipakai Perusahaan, A10 Siapkan Satu Pusat Kontrol untuk Atur Model dan Biaya

Tekno | Senin, 21 September 2026 | 08:40 WIB

Amerika Keluarkan Peringatan Darurat di Arab Saudi Usai Serangan Rudal Houthi

Amerika Keluarkan Peringatan Darurat di Arab Saudi Usai Serangan Rudal Houthi

News | Senin, 21 September 2026 | 08:35 WIB

Kuliah Makin Mahal, tapi Kenapa Gaji Fresh Graduate Tetap Segitu-gitu Aja?

Kuliah Makin Mahal, tapi Kenapa Gaji Fresh Graduate Tetap Segitu-gitu Aja?

Your Say | Senin, 21 September 2026 | 08:30 WIB

SMGR Hadapi Banjir Semen, Tata Kelola Jadi Benteng

SMGR Hadapi Banjir Semen, Tata Kelola Jadi Benteng

Bisnis | Senin, 21 September 2026 | 08:26 WIB

Donald Trump Ancam Hancurkan Iran Jelang Pertemuan di Sidang PBB: Mereka Harus Jaga Sikap

Donald Trump Ancam Hancurkan Iran Jelang Pertemuan di Sidang PBB: Mereka Harus Jaga Sikap

News | Senin, 21 September 2026 | 08:24 WIB

Agar Warga Tinggalkan Mobil Pribadi, Tarif LRT Harus Terintegrasi dan Terjangkau

Agar Warga Tinggalkan Mobil Pribadi, Tarif LRT Harus Terintegrasi dan Terjangkau

News | Senin, 21 September 2026 | 08:24 WIB

Spesifikasi dan Harga Helm KYT Elsico, yang Nyaman Buat Perempuan Berhijab

Spesifikasi dan Harga Helm KYT Elsico, yang Nyaman Buat Perempuan Berhijab

Otomotif | Senin, 21 September 2026 | 08:20 WIB

Pengusaha Mau Genjot Ekonomi Daerah, UMKM Dipacu Naik Kelas

Pengusaha Mau Genjot Ekonomi Daerah, UMKM Dipacu Naik Kelas

Bisnis | Senin, 21 September 2026 | 08:19 WIB

Gak Bikin Iritasi! 5 Invisible Acne Patch yang Aman untuk Kulit Sensitif

Gak Bikin Iritasi! 5 Invisible Acne Patch yang Aman untuk Kulit Sensitif

Your Say | Senin, 21 September 2026 | 08:10 WIB

Harga Emas Berpotensi Dijual Rp2,82 Juta per Gram

Harga Emas Berpotensi Dijual Rp2,82 Juta per Gram

Bisnis | Senin, 21 September 2026 | 08:10 WIB

×