Mulai Barbar, Berang-Berang yang Menginvasi Singapura Picu Perdebatan

Reza Gunadha | Fitri Asta Pramesti
Mulai Barbar, Berang-Berang yang Menginvasi Singapura Picu Perdebatan
Ilustrasi Berang-Berang. (Pixabay.com/veverkolog)

Kawanan berang-berang masuk ke kolam milik Jazreel Low dan memangsa ikan arwana

Suara.com - Tak melulu dapat sambutan hangat, warga Singapura kini punya pandangan berbeda dengan fenomena berang-berang yang menginvansi kota selama masa lockdown.

Menyadur The Star, beberapa warga sekarang banyak yang kesal lantaran tingkah beberapa kawanan berang-berang yang perlahan disebut barbar, alih-alih menggemaskan.

Hal ini bermula ketika semakin banyaknya hewan mamalia yang menduduki kota dan melakukan hal yang lebih berani namun cenderung merusak.

Salah satunya adalah hal yang menimpa seorang pemilik bisnis spa, Jazreel Low, mengunggah postingan soal berang-berang yang masuk ke kolam miliknya.

Berang-berang ini memangsa beberapa ikan peliharaan Jazreel termasuk arwana yang bernilai tinggi.

"Mereka mungkin menyadari bahwa tidak ada orang di sana dan menjadi lebih berani," ujar Jazreel.

Berang-berang menyambangi kawasan kota di Singapura selama lockdown. (AFP)
Berang-berang menyambangi kawasan kota di Singapura selama lockdown. (AFP)

Dalam insiden lain, sekelompok berang-berang juga terlihat mengunjungi rumah sakit anak-anak dan masuk hingga ke bagian lobi sebelum akhirnya diusir.

Sebelumnya, satu keluarga hewan yang berhabitat di perairan ini juga bertandang ke salah satu kawasan perbelanjaan di pusat kota.

Serentetan kejadian kawanan berang-berang main ke kota ini pun memicu perdebatan soal upaya untuk mencegah hewan ini berkeliaran.

Beberapa artikel di media lokal menyebutkan opsi pencegahan dengan menembak hewan ini dengan peluru karet.

"Babi hutan tidak pernah diperbolehkan untuk masuk ke kawasan perkotaan, begitu pula dengan berang-berang hanya karena mereka terlihat lucu," tulis Ong Junkai dalam korespondensi dengan Straits Times.

Kendati demikian, para peneliti hewan ini menganggap kemarahan adalah reaksi berlebihan dan menyebut berang-berang mungkin hanya ingin menikmati kebebasan ekstra untuk meenjelajah tempat-tempat yang belum pernah mereka kunjungi.

Sivasothi dari NUS mengkritik tindakan larangan untuk berang-berang sebagai "respon yang cukup tidak berpendidikan," dan mengatakan langskah seperti itu tidak akan efektif.

Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong melalui akun facebook pribadinya, juga angkat suara terkait fenomena berang-berang plesiran di kota.

"Daripada berfokus pada melindungi 'wilayah', kita harus menemukan cara untuk hiudp berdampingan dan berkembang dengan flora dan fauna lokal kita," ujarnya unggahan Loong.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS