Wagub DKI Ungkap Alasan Pakai Istilah PSBB Transisi, Bukan New Normal

Agung Sandy Lesmana | Erick Tanjung
Wagub DKI Ungkap Alasan Pakai Istilah PSBB Transisi, Bukan New Normal
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria berbincang dengan Direktur Perumda Pasar Jaya Arief Nasrudin usai mengecek penerapan protokol kesehatan di Pasar Palmerah, Jakarta Barat, Sabtu (20/6/2020) (ANTARA/Laily Rahmawaty)

"Di masa ini virus corona masih ada, karena virus masih ada itu berpotensi penyebaran dan berbahaya, apalagi kita tahu vaksinnya belum ditemukan hingga hari ini."

Suara.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria mengatakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang kembali diperpanjang saat ini merupakan yang kelima kalinya.

Pemprov DKI menyebutnya dengan sebutan PSBB transisi menuju masyarakat sehat, aman dan produktif.

PSBB transisi diterapkan dengan adanya pelonggaran bagi masyarakat untuk beraktivitas di tengah kondisi kesulitan ekonomi akibat dampak pandemi Covid-19. Dengan adanya pelonggaran berarti potensi warga warga beraktivitas di luar rumah dan interaksi semakin tinggi, sehingga potensi penyebaran virus juga meningkat.

"Untuk itu sekalipun kami melaksanakan pelonggaran, PSBB tetap kami berlakukan," kata Riza dalam diskusi daring bertajuk Jelang Usai PSBB Transisi yang digelar Populi Center dan Smart FM Network, Sabtu (4/7/2020).

Riza menjelaskan, alasan Pemprov DKI menyebutnya dengan PSBB transisi, tidak kenormalan baru atau new normal supaya warga Ibu Kota tak salah memahami. Sebab istilah normal dinilai dapat berpotensi salah pemahaman di masyarakat, seolah-olah situasi sudah aman, virusnya sudah hilang, sudah bebas dan lain sebagainya.

"Di masa ini virus corona masih ada, karena virus masih ada itu berpotensi penyebaran dan berbahaya, apalagi kita tahu vaksinnya belum ditemukan hingga hari ini," terangnya.

Oleh sebab itu, Pemprov DKI melonggarkan PSBB dengan membuka sebagai ruang publik, mal, pasar, perkantoran secara terbatas, maksimal kapasitasnya 50 persen. Sehingga sejumlah tempat wisata hanya dibuka kapasitas pengunjung cuma 20-30 persen.

Meski ada warga yang euforia karena 3 bulan berada di rumah, namun lebih banyak warga yang berpendidikan memahami kondisi dan situasi masa PSBB transisi. Hal itu terlihat dari pengunjung mal yang tak terlalu membludak setelah dibuka. Bahkan jumlah pengunjung mal sekarang tak sampai setengah dari yang dipersyaratkan pemerintah.

"Itu artinya masyarakat menyadari bahwa virus masih ada dan perlu hati-hati. Kami selalu menyampaikan tempat terbaik adalah tetap berada di rumah. Kalau harus keluar rumah cuci tangan pakai sabun, pakai masker, jaga jarak dan hindari kerumunan," jelasnya.

"Kenapa PSBB transisi? supaya jelas batasannya, bahwa ini belum new normal."

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS