Suara.com - Amerika kembali menekan China dan menolak impor tomat dan kapas dari Provinsi Xinjiang. Menyadur New York Times, Rabu (09/09/2020) keputusan ini merujuk pada dugaan kerja paksa saat proses produksi.
Selain tomat dan kapas, Pejabat Bea Cukai dan perlindungan perbatasan AS atau CBP juga mengumumkan lima larangan impor lainnya yang melibatkan pelanggaran kerja paksa Xinjiang.
"Kami memiliki bukti yang masuk akal tetapi tidak konklusif bahwa ada risiko kerja paksa dalam rantai pasokan yang terkait dengan tekstil kapas dan tomat yang keluar dari Xinjiang," kata Asisten Komisaris Eksekutif CBP Brenda Smith.
"Kami akan terus melakukan penyelidikan kami untuk mengisi celah itu."
![Presiden Amerika Serikat Donald Trump . [Foto / AFP]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/07/02/14123-donald-trump.jpg)
Ini adalah langkah tegas yang belum pernah diambil oleh CBP sebelumnya dan diduga akan memicu ketegangan antara dua raksasa ekonomi dunia tersebut.
"Perintah Pembebasan Penahanan" memungkinkan CBP untuk menahan pengiriman berdasarkan kecurigaan keterlibatan kerja paksa di bawah undang-undang AS.
Aturan ini sudah lama berlaku dan bertujuan untuk memerangi perdagangan manusia, pekerja anak dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya.
Pemerintahan Donald Trump menggalakkan aturan ini pada China atas perlakuannya terhadap Muslim Uighur di Xinjiang.
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan memiliki laporan yang dapat dipercaya bahwa 1 juta Muslim telah ditahan di kamp-kamp di wilayah tersebut, tempat mereka ditempatkan untuk bekerja.
Namun China membantah penganiayaan terhadap Uighur dan mengatakan kamp-kamp itu adalah pusat pelatihan kejuruan yang diperlukan untuk melawan ekstremisme.