Array

Warga Kawasan Kumuh Kelaparan saat Pandemi, Makan Tikus hingga Ular

Senin, 26 Oktober 2020 | 12:57 WIB
Warga Kawasan Kumuh Kelaparan saat Pandemi, Makan Tikus hingga Ular
IIustrasi Kawasan Kumuh. (Pixabay.com/vleyva)

Suara.com - Pandemi virus corona dan aturan penguncian membuat warga kawasan kumuh di Myanmar semakin terhimpit. Mereka terpaksa berburu hewan seperti tikus hingga reptil di saluran air agar bisa bertahan.

Menyadur Asia One, Senin (26/10/2020), gelombang kedua Covid-19 menghantam Myanmar pada September, di mana pemerintah meminta warga untuk tinggal di rumah.

Akibatnya, banyak dari mereka yang kehilangan pekerjaan. Tak terkecuali warga Hlaing Thar Yar, salah satu lingkungan termiskin di Yangon.

Kondisi krisis memaksa para warga berburu hewan malang di semak-semak belakang rumah untuk diolah dan disantap.

Keluarga di daerah pedesaan disebutkan memakan tikus, reptil, dan serangga di tengah hantaman virus corona.

Ma Suu merupakan satu di antara warga Myanmar yang terpukul akibat pandemi. Sejak gelombang pertama pada Maret, ia telah menutup kios, mengggadaikan perhiasan serta emas demi membeli kebutuhan pokok sehari-hari, seperti makanan.

Pada gelombang kedua, Ma Suu kembali menutup kios dan menjual pakaian, piring, hingga pot yang ada di rumah.

Hingga tak ada yang tersisa untuk dijual, suami Ma Suu, yang saat ini tak bekerja, terpaksa berburu makanan di saluran air terbuka di daerah kumuh tempat mereka tinggal, Hlaing Thar Yar, di pinggiran kota terbesar Myanmar.

"Orang-orang memakan tikus dan ular," ujar Ma Suu sambil menangis.

Baca Juga: Ada 250 Tamu, Polisi Gagalkan Pesta Pernikahan Rahasia di Tengah Pandemi

"Tanpa penghasilan, mereka perlu makan seperti itu untuk memenuhi kebutuhan anak mereka," sambung perempuan berusia 36 tahun itu.

Dengan lebih dari 40.000 kasus infeksi dan 1.000 kematian, Myanmar menghadapi salah satu wabah virus coroa terburuk di Asia Tenggara, dan lockdown Yangon berujung pada ratusan ribu orang, seperti Ma Suu, tak memiliki pekerjaa dan sedikit dukungan.

Administrator lokal Myanmar, Nay Min Tun, mengatakan 40 persen keluarga di Hlaing Thar Yar telah menerima bantuan pemerintah, tapi karena banyak tempat kerja di tutup, warga menjadi lebih putus asa.

Anggota dewan setempat, Myat Min Thu menyebut bantuan pemerintah dan sumbangan pribadi sedang didistribusikan, tapi ia mengakui jumlahnya kurang, tak bisa mencakup semua orang.

Disebutkan, sepertiga dari 53 juta penduduk Myanmar dianggap sangat rentan terjerumus dalam jurang kemiskinan, bahkan sebelum pandemi Covid-19 dimulai.

Pemerintah Myanmar telah menawarkan bantuan paket makanan satu kali dan tiga hibah tunai masing-masing USD 15 atau sekitar Rp 220 ribu. Namun, penduduk menyebut hal itu tak akan cukup.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI