Momok Jihad Cinta, Nasib Ribuan Kekasih Lintas Agama di India Terancam

Reza Gunadha, BBC

Sabtu, 12 Desember 2020 | 19:00 WIB
Momok Jihad Cinta, Nasib Ribuan Kekasih Lintas Agama di India Terancam
[BBC]

Suara.com - Sedikitnya seribu pasangan kekasih di India, setiap tahunnya, mengadukan nasib kepada kelompok sipil penyokong keberagaman yang berbasis di New Delhi, untuk mencari bantuan.

Pasangan lintas agama dari penganut Hindu dan Islam itu biasanya mengadu ke kelompok bernama Dhanak, ketika keluarga mereka tak mengizinkan mereka menikah.

Berusia antara 20-30 tahun, pasangan itu ingin kelompok tersebut berbicara dengan keluarga mereka atau membantu mereka mencari bantuan hukum.

Di antara pasangan yang datang ke Dhanak, 52 persen adalah perempuan Hindu yang berencana menikah dengan pria Muslim; dan 42 persen adalah perempuan Muslim yang berencana menikah dengan pria Hindu.

"Keluarga Hindu dan Muslim di India dengan keras menentang pernikahan beda agama," Asif Iqbal, pendiri Dhanak, mengatakan kepada BBC.

"Mereka akan melakukan segala cara untuk menghentikan mereka. Orang tua bahkan mencoreng reputasi putri mereka untuk menghalangi keluarga kekasihnya. Yang disebut 'jihad cinta' adalah senjata lain untuk mematahkan hubungan semacam itu."

Momok "jihad cinta", istilah yang diciptakan kelompok Hindu radikal untuk menuduh pria Muslim hendak menjadikan perempuan Hindu seorang mualaf melalui pernikahan, telah kembali menghantui hubungan antaragama di India.

Pekan lalu, polisi di negara bagian Uttar Pradesh di India utara menahan seorang pria Muslim karena diduga ingin menjadikan seorang perempuan Hindu sebagai mualaf. Pria itu adalah orang pertama yang ditangkap berdasarkan undang-undang baru yang menentang perpindahan agama yang menargetkan jihad cinta.

Setidaknya, empat negara bagian lain yang dikuasai oleh partai nasionalis Hindu, Partai Bharatiya Janata, merencanakan undang-undang serupa.

Juru bicara partai mengatakan undang-undang semacam itu diperlukan untuk menghentikan "penipuan dan intepretasi yang keliru".

"Ketika seorang umat Hindu menikahi perempuan Muslim, itu selalu digambarkan sebagai romansa dan cinta oleh organisasi Hindu, sedangkan ketika yang terjadi sebaliknya digambarkan sebagai pemaksaan," kata Charu Gupta, seorang sejarawan di Universitas Delhi, yang meneliti "mitos jihad cinta".

Cinta lintas agama sulit - dan berbahaya - di sebagian besar wilayah India di mana patriarki, kekerabatan, agama, kasta, dan kehormatan keluarga memegang kendali.

Namun pria dan perempuan muda di seluruh pelosok menantang perlawanan sosial selama berabad-abad di desa dan kota kecil.

Dengan ponsel, data internet murah dan situs jejaring sosial, mereka bertemu dan jatuh cinta dalam jumlah yang lebih besar dari sebelumnya.

Mereka melanggar apa yang penulis Arundhati Roy, dalam novelnya The God of Small Things, gambarkan sebagai "hukum cinta" yang "menetapkan siapa yang harus dicintai ... dan bagaimana ... dan seberapa".

Pernikahan monogami dari pasangan heteroseksual dan dari komunitas yang sama menjadi pernikahan yang ideal - lebih dari 90% dari semua pernikahan di India merupakan hasil perjodohan.

Sementara, pernikahan beda agama jarang terjadi, dengan jumlah sekitar 2% dari seluruh pernikahan di India, menurut sebuah studi.

Banyak yang percaya bahwa momok jihad cinta dibangkitkan dari waktu ke waktu oleh kelompok-kelompok Hindu untuk keuntungan politik.

Kampanye melawan pernikahan lintas agama yang memiliki sejarah panjang dan berpetak-petak di India didokumentasikan dengan baik.

Dengan latar belakang meningkatnya ketegangan agama pada tahun 1920-an dan 1930-an, kelompok nasionalis Hindu di beberapa bagian India utara melancarkan kampanye melawan "penculikan" perempuan Hindu oleh pria Muslim.

Sebuah kelompok Hindu didirikan di United Provinces (sekarang Uttar Pradesh, negara bagian terpadat di India) untuk mencegah Muslim dari tuduhan penculikan perempuan Hindu.

Pada tahun 1924, seorang birokrat Muslim di kota Kanpur dituduh "menculik dan merayu" seorang gadis Hindu dan memaksa menjadikannya mualaf. Sebuah kelompok Hindu menuntut "pemulihan" perempuan itu.

Penculikan perempuan Hindu bahkan diperdebatkan di parlemen di India kolonial. Kongres Nasional India, sekarang partai oposisi utama, mengeluarkan resolusi yang mengatakan bahwa "perempuan yang telah diculik dan menikah paksa harus dikembalikan ke rumah mereka; perpindahan agama massal tidak memiliki signifikansi atau validitas dan orang harus diberikan setiap kesempatan untuk kembali ke kehidupan pilihan mereka".

Ketika India dibagi menjadi dua negara bagian yang terpisah pada bulan Agustus 1947, satu juta orang meninggal dan 15 juta mengungsi karena Muslim melarikan diri ke Pakistan, dan Hindu dan Sikh menuju ke arah yang berlawanan.

Perempuan sering kali menanggung beban kekerasan, menciptakan garis trauma yang dalam.

Belakangan ini, kelompok-kelompok nasionalis Hindu telah mengangkat momok "jihad cinta" menjelang pemilihan umum untuk mempolarisasi pemilih. Salah satu contohnya adalah saat pemilihan lokal di Uttar Pradesh pada tahun 2014.

Profesor Gupta mengatakan kelompok-kelompok Hindu meluncurkan "kampanye propaganda yang diatur", menggunakan poster, rumor dan gosip, melawan "dugaan penculikan dan perpindahan agama perempuan Hindu oleh pria Muslim, mulai dari tuduhan pemerkosaan dan pernikahan paksa, hingga kawin lari, cinta, pemikat dan konversi".

Corong-corong dari tokoh nasionalis Hindu sayap kanan Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), sumber ideologis BJP, memuat cerita-cerita tentang "jihad cinta" dan mendesak orang-orang untuk mengangkat slogan "cinta untuk selamanya, jihad cinta tidak pernah!".

Bukan hanya stereotip laki-laki Muslim yang ada dalam narasi itu. Tapi juga rumor tentang "konspirasi Islamis global" untuk memikat perempuan Hindu.

Pria Muslim diduga menerima dana dari luar negeri untuk membeli pakaian mahal, mobil, hadiah, dan bahkan menyamar sebagai orang Hindu untuk merayu perempuan Hindu.

Seorang juru bicara BJP di Uttar Pradesh mengatakan ini adalah "bagian dari jihad cinta global yang menargetkan gadis-gadis Hindu yang rentan".

Semua ini adalah "upaya mobilisasi politik dan agama atas nama perempuan", menurut Prof Gupta.

Ada kesamaan mencolok antara kampanye 'jihad' cinta' di masa lalu dan sekarang, kata para pakar. Namun seiring waktu, kampanye tersebut menjadi lebih kuat karena dipimpin oleh BJP yang berkuasa.

"Sebelum kemerdekaan, kampanye semacam itu terkubur di halaman-halaman dalam surat kabar. Tidak ada partai atau pemimpin arus utama yang memicu ketegangan seperti itu.

"Sekarang ini menjadi subjek halaman depan dan negara secara kritis terlibat dalam penegakan hukum ini. Media sosial dan layanan pesan adalah digunakan untuk menyebarkan pesan bahwa pria Muslim secara paksa mengubah perempuan Hindu [sebagai mualaf] untuk menikah," kata Prof Gupta.

Banyak yang mengatakan perpindahan agama terjadi ketika pasangan memilih pernikahan agama untuk "melarikan diri" dari Undang-Undang Pernikahan Khusus India, yang mengizinkan pernikahan beda agama hanya setelah pemberitahuan sebulan kepada pihak berwenang yang berisi detail pribadi pasangan tersebut.

Jadi pasangan takut keluarga mereka akan turun tangan untuk mencegah pernikahan.

Banyak yang percaya bahwa memperkenalkan undang-undang untuk membatasi pilihan orang dewasa lintas agama tentang pasangan mereka sekarang memperkenalkan "budaya ketakutan" yang dapat digunakan oleh orang tua dan pihak berwenang untuk memperingatkan kaum muda.

Di sisi lain, semakin banyak pria dan perempuan yang juga menantang kasta dan agama dan memisahkan diri dari keluarga.

Banyak yang menemukan tempat berlindung di rumah persembunyian yang dikelola negara pada saat negara sendiri mencoba untuk menekan serikat seperti itu.

"Cinta itu rumit dan keras di India," kata Iqbal, pendiri Dhanak.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Sama-sama Positif Covid-19, Dua Mempelai Ini Menikah Pakai APD

Sama-sama Positif Covid-19, Dua Mempelai Ini Menikah Pakai APD

News | Kamis, 10 Desember 2020 | 17:59 WIB

Misterius, Timbal Ditemukan dalam Darah Pasien di India

Misterius, Timbal Ditemukan dalam Darah Pasien di India

Tekno | Kamis, 10 Desember 2020 | 14:30 WIB

500 Orang di India Tertular Penyakit Misterius, Inikah Sebabnya?

500 Orang di India Tertular Penyakit Misterius, Inikah Sebabnya?

Health | Rabu, 09 Desember 2020 | 18:05 WIB

Tiga Kisah ini Bukti Kegagalan India Beri Keadilan bagi Korban Pemerkosaan

Tiga Kisah ini Bukti Kegagalan India Beri Keadilan bagi Korban Pemerkosaan

News | Rabu, 09 Desember 2020 | 16:05 WIB

India Menjadi Negara yang Paling Banyak Beli Vaksin Covid, 1,6 Miliar Dosis

India Menjadi Negara yang Paling Banyak Beli Vaksin Covid, 1,6 Miliar Dosis

News | Rabu, 09 Desember 2020 | 13:15 WIB

Nggak Punya Hati! Habis Tusuk-tusuk Istri, Suami Ini Konsentrasi Main Games

Nggak Punya Hati! Habis Tusuk-tusuk Istri, Suami Ini Konsentrasi Main Games

Batam | Selasa, 08 Desember 2020 | 15:28 WIB

Muslimah Pakai Burqa Tewas Setelah Diperkosa, Wajah Hancur Dihantam Batu

Muslimah Pakai Burqa Tewas Setelah Diperkosa, Wajah Hancur Dihantam Batu

Batam | Selasa, 08 Desember 2020 | 12:01 WIB

Ratusan Warga India Terkena Penyakit Misterius, Gejalanya Kejang & Muntah!

Ratusan Warga India Terkena Penyakit Misterius, Gejalanya Kejang & Muntah!

Health | Selasa, 08 Desember 2020 | 12:01 WIB

India Diserang Virus Misterius, 400 Orang Mendadak Kejang dan Pingsan

India Diserang Virus Misterius, 400 Orang Mendadak Kejang dan Pingsan

News | Selasa, 08 Desember 2020 | 11:47 WIB

Terkini

IMM Minta Polemik Sapi Kurban Presiden Prabowo Disudahi: Tak Langgar Aturan dan Banyak Manfaatnya

IMM Minta Polemik Sapi Kurban Presiden Prabowo Disudahi: Tak Langgar Aturan dan Banyak Manfaatnya

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 00:18 WIB

Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur

Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur

News | Kamis, 28 Mei 2026 | 23:37 WIB

AS Tiba-tiba Serang Iran, IRGC Balas Hantam Pangkalan Udara di Kuwait!

AS Tiba-tiba Serang Iran, IRGC Balas Hantam Pangkalan Udara di Kuwait!

News | Kamis, 28 Mei 2026 | 21:51 WIB

Tragedi TV Tabung di Atas Kepala Siswi SD, Akhir Tragis JN di Tangan Pemuda Haus Darah

Tragedi TV Tabung di Atas Kepala Siswi SD, Akhir Tragis JN di Tangan Pemuda Haus Darah

News | Kamis, 28 Mei 2026 | 21:50 WIB

Satu Keluarga Rugi Rp700 Juta, Jemaah Hanania Travel Geruduk Polda Metro Jaya

Satu Keluarga Rugi Rp700 Juta, Jemaah Hanania Travel Geruduk Polda Metro Jaya

News | Kamis, 28 Mei 2026 | 20:57 WIB

Siapa Dalangnya? Polisi Kumpulkan Bukti Dugaan Pembubaran Ibadah di Gereja Sewon Bantul

Siapa Dalangnya? Polisi Kumpulkan Bukti Dugaan Pembubaran Ibadah di Gereja Sewon Bantul

News | Kamis, 28 Mei 2026 | 20:50 WIB

Harta Karun RI Nyaris Lenyap, TNI AL Sergap 25 Kontainer Mineral Ilegal di Batam

Harta Karun RI Nyaris Lenyap, TNI AL Sergap 25 Kontainer Mineral Ilegal di Batam

News | Kamis, 28 Mei 2026 | 20:36 WIB

Tak Peduli Lokasi Munas, HIPMI Jaya: Di Mana Pun Oke, Yang Penting Jangan Pecah!

Tak Peduli Lokasi Munas, HIPMI Jaya: Di Mana Pun Oke, Yang Penting Jangan Pecah!

News | Kamis, 28 Mei 2026 | 20:04 WIB

Aksi Kamisan di Istana: Menagih Janji Negara yang Hobi Lupa pada Korban Penghilangan Paksa

Aksi Kamisan di Istana: Menagih Janji Negara yang Hobi Lupa pada Korban Penghilangan Paksa

News | Kamis, 28 Mei 2026 | 19:56 WIB

PKS Salurkan Hewan Kurban hingga ke Wilayah Bencana Banjir Sumatra

PKS Salurkan Hewan Kurban hingga ke Wilayah Bencana Banjir Sumatra

News | Kamis, 28 Mei 2026 | 19:00 WIB