facebook

Jokowi Disambut Tarian Petruk, Rocky Gerung: Ini Untuk Mengingatkan Istana

Reza Gunadha | Hernawan
Jokowi Disambut Tarian Petruk, Rocky Gerung: Ini Untuk Mengingatkan Istana
Rocky Gerung. (Suara.com/Muhamad Yasir)

"Itu untuk mengingatkan istana (Jokowi) atau kekuasaan bahwa sinisme bahkan masuk sampai masuk ke wilayah kepekaan estetik," kata Rocky Gerung.

Suara.com - Pengamat politik Rocky Gerung mengomentari kedatangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk meninjau vaksinasi 500 seniman Jogja yang disambut rombongan Petruk di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK), Bantul, Rabu (10/3/201).

Rocky Gerung mengungkit reaksi publik yang mengindentikkan Petruk dengan Pinokio, tokoh dengan hidung panjang saat sedang berbohong.

Menurut Rocky Gerung, persembahan dari tim Butet Kartaredjasa tersebut merupakan salah satu bentuk sindiran yang harus didengar baik oleh Istana.

Bukan tanpa alasan, kata dia ada beberapa pesan penting yang bisa ditarik oleh Pemerintahan Jokowi, diantaranya terkait kepemimpinan, etika, dan integritas.

Baca Juga: Heboh Akad Nikah Mewah di Bioskop, Publik Langsung Sedih Pas Bayangin Biaya

"Begitu nama Butet, itu pasti isinya sindiran. Kan Butet gak bisa kita tafsirakan lain kecuali menganggap dia penyindir satire melalui karakter pewayangan," kata Rocky Gerung dikutip Suara.com dari tayangan dalam saluran YouTube-nya, Kamis (11/3/2021).

Rocky Gerung soal Jokowi disambut Tarian Petruk (YouTube).
Rocky Gerung soal Jokowi disambut Tarian Petruk (YouTube).

"Di kalangan seniman, saya kenal kultur seniman Jogja nyeleneh, ngeledek. Kita jangan lihat ngeledeknya, tapi kita pahami isi seniman Jogja yang berupaya memberi pesan pentingnya kepemimpinan, etika, integritas dan figur Petruk justru ngeledek tapi ada lucunya. Petruk jadi raja. Hal yang gak pernah dibayangkan orang," sambungnya.

Menyoal hal itu, Rocky Gerung mengatakan bahwa sekarang banyak pesan yang artinya sublimasi atau menggantikan sesuatu dalam upaya tidak terlalu menghina atau semacamnya.

Namun, dia merasa hal tersebut bagi orang Jawa justru menjadi simbol sinisme yang sangat dalam dan bisa menjadi pengingat bagi istana.

"Jadi seharusnya kita mau cari satu lokal wisdom dari peristiwa itu untuk mengingatkan istana atau kekuasaan bahwa sinisme bahkan masuk sampai masuk ke wilayah kepekaan estetik," papar Rocky.

Baca Juga: Fahri Hamzah Pamer Lobster, Susi Pudjiastuti Beri Kritikan Menohok

"Seringkali seni dimaksudkan untuk memberikan sindiran ke kekuasaan. Seni berfungsi meluruskan akal sehat, batin sehat. Butet tahu beri pesan rawatlah batin bangsa, kalau punya ambisi ditakar, ambisi lebih itu bisa membahayakan," tambahnya tegas.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar