Seorang Pemuda Berhasil Mencantumkan Kampungnya di Peta Digital

Siswanto | BBC | Suara.com

Senin, 19 April 2021 | 10:54 WIB
Seorang Pemuda Berhasil Mencantumkan Kampungnya di Peta Digital
BBC

Suara.com - Ketika kuliah di Amerika Serikat, Tawanda Kanhema ditanya di mana ibunya tinggal di negara asalnya, Zimbabwe. Namun ia tidak bisa menemukan rumah keluarganya, dan juga kampung halamannya di peta digital.

Di tengah kebingungan ini, Tawana yang memang belajar fotografi, mencari kampung halamannya di Google Street View dan aplikasi lain, namun tak menemukan banyak tempat di seputar kampung halamannya.

Kenyataan ini yang sangat sulit dia terima.

"Peta adalah sesuatu yang bukan hanya penunjuk jalan dari satu tempat ke tempat lain, namun sebagai bentuk cerita," katanya kepada BBC.

Misinya adalah mencantumkan kampung halamannya di peta. Tawanda menghabiskan US$5000 (Rp73 juta) uangnya sendiri untuk membidik sejumlah tempat indah di Zimbabwe.

Baca juga:

Dua miliar orang tak tercantum tempat tinggalnya di peta digital

Peta digital seperti Google Street View membantu kita mencari alamat serta membantu pengiriman barang di seluruh dunia.

Tetapi miliaran orang yang tinggal di kota-kota dan desa di negara-negara berkembang masih belum tercakup dalam operasi komersial ini.

Organisasi amal Humanitarian OpenStreetMap (informasi tentang organisasi ini akan lebih lanjut dijelaskan) memperkirakan ada sekitar "dua miliar orang di dunia yang alamatnya tak tercantum di peta."

"Bila Anda cari sejumlah tempat di online, Anda tak akan menemukan apa-apa. Tempat kosong ini menunjukkan ketidakadilan yang menyebabkan penderitaan manusia, dan hal ini bisa dihindari," kata Rebecca Firth dari Humanitarian OpenStreetMap team.

Orang-orang yang tempat tinggalnya tak tercantum di peta akan sulit terjangkau bila terjadi bencana atau insiden, sehingga akan menyulitkan tim penyelamat.

Jadi orang-orang seperti Tawanda dan perusahaan besar seperti Google dan badan amal termasuk OpenStreetMap bekerja sama untuk membantu mencantumkan di peta, tempat-tempat yang masih belum ada.

Membidik tempat-tempat yang sulit

Untuk mencantumkan satu tempat di peta digital, yang diperlukan adalah gambar satelit dan juga foto di lapangan.

Inilah yang dilakukan Tawanda. Ia mengambil banyak foto tempat-tempat indah di seputar kampung halamannya.

"Yang paling sulit adalah mengambil foto Air Terjun Victoria di Sungai Zambesi," kata Tawanda.

Ia berjalan jauh dengan memasang kamera di ranselnya dan mengendara dengan mobil serta menggunakan drone.

"Kapal bot tak stabil, menerbangkan drone juga sulit, saat bergerak. Jadi alat mudah hilang."

Sebagian besar proyek Tawanda dilakukan antara 2018 dan 2019. Ia bekerja sama dengan Google yang meminjamkannya kamera 360 untuk perjalanan dua minggu memetakan daerahnya.

Ia membidik setidaknya 480.000 foto dan sekarang tersedia di Google Street View dan Google Earth.

Namun proses menjadikan foto menjadi peta digital bukan pekerjaan mudah.

Bagaimana menyusun peta?

OpenStreetMap didirikan pada 2006 mengikuti model Wikipedia, sehingga siapapun bisa membuat, memperbarui dan mengedit peta.

Langkah pertama untuk membuat peta ini adalah dengan menyusun gambar-gambar satelit dan diubah menjadi peta.

Faktor kuncinya adalah penduduk setempat ikut membantu mengidentifikasi gedung-gedung dan tempat-tempat penting yang tak bisa diperkirakan dari gambar satelit.

Inilah yang dilakukan Tawanda di Zimbabwe saat ia bekerja sama dengan Google, walaupun proses raksasa internet itu berbeda dengan OpenStreetMap.

OpenStreetMap mengatakan tujuan mereka bukan komersial dan informasi dari penduduk setempat merupakan elemen penting. Informasi penting ini termasuk submer air, saluran pembuangan dan informasi tentang dokter-dokter di sekitar.

"Salah satu kekuatan OpenStreetMap adalah kita dapat menandai satu tempat dengan sejumlah nama, seperti nama lokal, nama resmi, nama terkait budaya dan sejarah, dengan berbagai ejaan dan dalam berbagai bahasa. Memadukan informasi lokal lebih akurat," kata Rebecca Firth dari badan amal OpenStreetMap.

Target besar

Target keseluruhan adalah memperoleh peta jalan secara rinci mencakup sekitar satu miliar orang yang tinggal di daerah yang rentan bencana di 94 negara.

Untuk menciptakan peta ini, para sukarelawan dilatih menggunakan aplikasi di telpon pintar dan terkadang drone serta kamera canggih untuk membentuk peta yang lengkap.

Penggunaan praktis

Sejak 2010, proyek ini mulai menghasilkan. Dalam sektiar 10 tahun, lebih dari 200.000 sukarelawan dari berbagai latar belakang seperti pengugnsi, pekerja kesehatan dan mahasiswa dapat memetakan daerah yang mencakup tempat tinggal 150 juta orang.

Melibatkan masyarakat membuat dan mengoeprasikan peta juga membantu memperbarui peta. Ini penting untuk menunjukkan perubahan tempat permukiman.

Peta-peta semacam ini terbukti diperlukan dalam upaya menangani bencana.

Peta ini juga penting untuk fasilitas kesehatan seperti memberikan informasi penting terkait vaksinasi polio di Nigeria, misalnya.

Pada akhir tahun lalu, sekitar 200 mahasiswa dari tiga universitas di Tanzania dilatih untuk membuat peta dengan tujuan memetakan daerah rawan banjir di Dar es Salaam.

Mereka bekerja selama dua bulan dengan penduduk setempat dan mengumpulkan data terkait kerusakan akibat banjir.

Dengan menggunakan alat murah, mereka untuk pertama kalinya dapat memetakan lokasi rentan banjir.

Di Peru, OpenStreetMaps digunakan utnuk menyalurkan silinder oksigen kepada yang memerlukan dan tinggal di lokasi terpencil selama pandemi virus corona.

Firth mengatakan data yang diunggah para penduduk selalu dicek dan diverifikasi. Ia mengatakan peta-peta semakin berguna bagi para petugas kemanusiaan.

Peta-peta ini juga digunakan untuk perbandingan dulu dan sekarang. Di sejumlah tempat, peta-peta ini bahkan digunakan untuk merencanakan jalur penerbangan helikopter darurat.

Namun demikan, membuat peta daerah konflik masih tetap sulit.

Yang dijadikan pertimbangan adalah, apakah membuat peta secara rinci akan membantu atau justru membahayakan warga yang tinggal di daerah konflik itu.

Keinginan Tawanda memetakan perubahan iklim

Namun bagi orang seperti Tawanda, menjadi bagian dari proses pemetaan merupakan hal istimewa. Ia mengakui bahwa keberhasilan pemetaan ini tergantung pada partisipasi komunitas.

Ia mengatakan perjalanannya membuat peta membantunya memahami bagaimana berbagai komunitas yang tinggal berjauhan, memiliki banyak hal yang sama.

Ia mengatakan ingin menggunakan peta untuk menunjukkan perubahan iklim.

"Saya belajar banyak tentang bagaimana orang di tempat berbeda di dunia berupaya beradaptasi karena perubahan lingkungan. Saya harap saya dapat berbagi cerita dan foto tentang itu."

Foto-foto Tawanda disaksikan oleh 30 juta orang di seluruh dunia. Ia mengatakan karyanya membuatnya puas karena bisa terhubung dengan orang-orang di berbagai tempat.

"Tempat-tempat itu tak punya Street View sebelum saya mulai proyek ini. Jadi saya rasa foto-foto itu membantu orang untuk mengeksplorasi dunia, khususnya pada saat seperti sekarang dengan keterbatasan," tutupnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Peta Digital Buatan Anak Bangsa Raih Pengakuan Global di Asia Pasifik, Ini Kata Sosok di Baliknya

Peta Digital Buatan Anak Bangsa Raih Pengakuan Global di Asia Pasifik, Ini Kata Sosok di Baliknya

Lifestyle | Kamis, 02 Oktober 2025 | 17:57 WIB

Ranking FIFA: Intip Sepak Bola Tiga Negara Afrika yang Berada di Atas Indonesia

Ranking FIFA: Intip Sepak Bola Tiga Negara Afrika yang Berada di Atas Indonesia

Bola | Sabtu, 12 Juli 2025 | 12:28 WIB

Al, El, Dul Diminta Nikah dengan Gadis Zimbabwe, Nurut Ahmad Dhani soal Naturalisasi Timnas Indonesia

Al, El, Dul Diminta Nikah dengan Gadis Zimbabwe, Nurut Ahmad Dhani soal Naturalisasi Timnas Indonesia

Bola | Jum'at, 07 Maret 2025 | 09:27 WIB

Bocah 8 Tahun Selamat 5 Hari di Hutan Penuh Singa, Hanya Bermodal Buah Liar dan Tongkat!

Bocah 8 Tahun Selamat 5 Hari di Hutan Penuh Singa, Hanya Bermodal Buah Liar dan Tongkat!

News | Minggu, 05 Januari 2025 | 15:55 WIB

Pemerintah Zimbabwe Akan Sembelih 200 Gajah untuk Warga Kelaparan, Ramai Dikritik

Pemerintah Zimbabwe Akan Sembelih 200 Gajah untuk Warga Kelaparan, Ramai Dikritik

News | Kamis, 19 September 2024 | 12:16 WIB

Fakta Suku Vadoma, Punya Kaki Burung Unta Tapi Mahir Memanjat

Fakta Suku Vadoma, Punya Kaki Burung Unta Tapi Mahir Memanjat

News | Senin, 11 September 2023 | 18:28 WIB

Melarang McDonald's Buka Cabang, ini 9 Daftar Negara yang Melarang McD

Melarang McDonald's Buka Cabang, ini 9 Daftar Negara yang Melarang McD

Your Say | Selasa, 25 Juli 2023 | 11:17 WIB

Daftar Negara Gagal Versi PBB, Benarkah Indonesia Termasuk?

Daftar Negara Gagal Versi PBB, Benarkah Indonesia Termasuk?

News | Senin, 24 Juli 2023 | 15:12 WIB

5 Negara dengan Harga BBM Termahal di Dunia, Ada Indonesia?

5 Negara dengan Harga BBM Termahal di Dunia, Ada Indonesia?

Bisnis | Selasa, 06 September 2022 | 17:38 WIB

80 Anak Meninggal karena Campak di Zimbabwe, Gara-gara Pertemuan Sekte Antivaksin?

80 Anak Meninggal karena Campak di Zimbabwe, Gara-gara Pertemuan Sekte Antivaksin?

Health | Senin, 15 Agustus 2022 | 23:05 WIB

Terkini

Dirjen Imigrasi Copot Pejabat Terkait Pungli Batam, Buka Peluang Proses Pidana

Dirjen Imigrasi Copot Pejabat Terkait Pungli Batam, Buka Peluang Proses Pidana

News | Senin, 13 April 2026 | 23:00 WIB

Formappi Soal Permintaan RDPU Kasus Korupsi Minyak Mentah: Komisi III Bukan Tempat Uji Hukum!

Formappi Soal Permintaan RDPU Kasus Korupsi Minyak Mentah: Komisi III Bukan Tempat Uji Hukum!

News | Senin, 13 April 2026 | 22:48 WIB

Cak Imin Dorong Koperasi Merah Putih Siap Bersaing di Tengah Kebuntuan Global

Cak Imin Dorong Koperasi Merah Putih Siap Bersaing di Tengah Kebuntuan Global

News | Senin, 13 April 2026 | 22:30 WIB

Survei Poltracking: Kepercayaan Publik pada Prabowo-Gibran Tembus 75,1 Persen

Survei Poltracking: Kepercayaan Publik pada Prabowo-Gibran Tembus 75,1 Persen

News | Senin, 13 April 2026 | 22:11 WIB

Golkar Bukan Milik Satu Keluarga! Bahlil Ingatkan Kader Tak Saling Singkirkan karena Beda Pilihan

Golkar Bukan Milik Satu Keluarga! Bahlil Ingatkan Kader Tak Saling Singkirkan karena Beda Pilihan

News | Senin, 13 April 2026 | 22:05 WIB

MKD DPR Panggil Aboe Bakar Besok Soal Isu Ulama Madura di Pusaran Narkoba

MKD DPR Panggil Aboe Bakar Besok Soal Isu Ulama Madura di Pusaran Narkoba

News | Senin, 13 April 2026 | 21:30 WIB

Kemhan Luruskan Kabar 'Akses Udara Tanpa Izin' Militer AS: Itu Masih Pembahasan, Jangan Terprovokasi

Kemhan Luruskan Kabar 'Akses Udara Tanpa Izin' Militer AS: Itu Masih Pembahasan, Jangan Terprovokasi

News | Senin, 13 April 2026 | 21:06 WIB

Mendagri Tegaskan Dana Otsus dan Dana Keistimewaan Harus Beri Manfaat Nyata bagi Masyarakat

Mendagri Tegaskan Dana Otsus dan Dana Keistimewaan Harus Beri Manfaat Nyata bagi Masyarakat

News | Senin, 13 April 2026 | 20:54 WIB

Mendagri Pastikan Pengawasan Diperketat, Pemanfaatan Dana Otsus Lebih Optimal

Mendagri Pastikan Pengawasan Diperketat, Pemanfaatan Dana Otsus Lebih Optimal

News | Senin, 13 April 2026 | 20:47 WIB

Diplomasi 'Sahabat' di Kremlin: Putin Puji Prabowo, Indonesia Tancap Gas Perkuat Ekonomi dan Energi

Diplomasi 'Sahabat' di Kremlin: Putin Puji Prabowo, Indonesia Tancap Gas Perkuat Ekonomi dan Energi

News | Senin, 13 April 2026 | 20:39 WIB