Kasus Pelecehan Berulang, Kita Hanya Sibuk Seperti Pemadam Kebakaran

Siswanto, BBC

Jum'at, 10 September 2021 | 15:31 WIB
Kasus Pelecehan Berulang, Kita Hanya Sibuk Seperti Pemadam Kebakaran
BBC

Suara.com - Pegawai Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) berinisial MS yang diduga menjadi korban perundungan dan pelecehan seksual akan segera berada di bawah lindungan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Dengan demikian, ia kemungkinan bisa terhindar dari ancaman laporan balik.

Kasus MS ini merupakan rentetan kasus kekerasan seksual di lingkungan lembaga pemerintahan, tanpa ada ruang pengaduan.

KPI sendiri menyerukan lembaga pemerintah lainnya belajar dari polemik ini untuk segera membuat aturan standar penanganan perundungan dan kekerasan seksual di tempat kerja.

Baca Juga:

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menerima permohonan perlindungan dari MS pegawai Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang diduga korban perundungan dan pelecehan seksual.

Wakil Ketua LPSK, Edwin Partog mengatakan, permohonan ini akan segera ditindaklanjuti untuk menetapkan status pemohon sebagai "terlindung" dari lembaganya setelah melalui "pendalaman".

"Kami juga akan mendalami tingkat ancaman, apakah ada ancaman yang dialami dari proses hukum yang berlangsung, dari upaya ancaman fisik, psikis atau laporan balik kepada pemohon," kata Edwin kepada BBC News Indonesia, Kamis (09/09).

Ketika statusnya sudah menjadi "terlindung", kata Edwin, segala tuduhan atau laporan balik terhadap MS "harus ditunda dulu prosesnya. Sampai laporan utamanya itu dibuktikan."

Bagaimana polemik ini berawal?

Beberapa waktu lalu, pegawai KPI berinsial MS membuat surat terbuka ke publik tentang perundungan termasuk pelecehan seksual yang diduga dilakukan delapan rekan kerjanya.

Dalam surat itu, MS mengaku, sejak mulai bekerja di KPI Pusat pada 2011, ia mengatakan rekan kerjanya beberapa kali telah "melecehkan, memukul, memaki, dan merundung tanpa bisa saya lawan."

baca juga

"Tahun 2015, mereka beramai ramai memegangi kepala, tangan, kaki, menelanjangi, memiting, melecehkan saya dengan mencorat-coret buah zakar saya pakai spidol. Kejadian itu membuat saya trauma dan kehilangan kestabilan emosi," tulis MS.

MS telah melaporkan kejadian dua kali ke kepolisian, akan tetapi laporan itu tidak ditindaklanjuti. "Kepada siapa lagi saya mengadu? Martabat saya sebagai lelaki dan suami sudah hancur."

Atas pesan yang telah beredar di publik ini, sejumlah rekan kerjanya yang dituduh melakukan perundungan dan pelecehan seksual mengancam akan melaporkan balik MS.

"Klien kami juga mengalami kerugian yang melebihi oleh pelapor kalau boleh dibilang," kata Tegar Putuhena, kuasa hukum pihak terlapor kepada awak media. Hal ini merujuk pada pesan yang ditulis MS dengan mencatat nama jelas terlapor sehingga berdampak terhadap keluarga mereka.

MS juga melaporkan kasusnya ke Komnas HAM.

Awal pekan ini MS dilaporkan telah memberikan keterangan kepada Komnas HAM atas dugaan perundungan dan kekerasan seksual selama bertahun-tahun bekerja di KPI.

Laporan ini setelah MS melaporkan kasusnya ke Polres Metro Jakarta Pusat awal bulan.

Anggota Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara mengatakan "MS menceritakan semua yang dia alami."

Komnas HAM mengagendakan pertemuan dengan kepolisian dan KPI. "Rencananya minggu depan," tambah Beka Ulung.

Bukan kasus pertama

Kasus yang dihadapi MS bukan pertama kalinya terjadi di lingkungan lembaga pemerintahan. Kasus terkait dengan dugaan kekerasan seksual pernah dialami staf BPJS berinisial RA yang dilakukan oleh atasannya pada 2019.

Sebelumnya, juga seorang pegawai Dirjen Pajak mengadu karena dilecehkan oleh atasannya pada 2016. Lalu, 2014 seorang pegawai di LKBN ANTARA mengadu ke LBH APIK untuk mendapatkan pendampingan karena mengaku mendapat pelecehan seksual dari seorang general manager.

Anggota Komnas Perempuan, Theresia Iswarini mengatakan belum mencatat ada kasus yang melibatkan pria namun dari data menyangkut perempuan kasus ini hanya fenomena gunung es.

"Itu betul kalau disebut fenomena gunung es. Karena karakter kasusnya. Ini karakter kasus di mana ada pola relasi yang sangat timpang antara atasan dan bawahan," kata Rini - sapaan Theresia Iswarini kepada BBC News Indonesia.

Dalam satu kasus yang ditangai Komnas Perempuan yang terjadi di kementerian, korban justru dipindah kerja. "Dan, korban itu tidak boleh didampingi oleh lembaga di luar institusi tersebut. Ini yang menjadi problem," kata Rini.

Laporan pengaduan yang diterima Komnas Perempuan terkait Kekerasan terhadap Perempuan pada 2020 mencapai 2.389 kasus. Meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 1.419 kasus. Namun jumlah kasus kekerasan terkait dengan lembaga negara atau instansi pemerintah, tidak banyak.

"Upaya untuk mengangkat kasus ini tidak gampang, karena karakter kasus, atau karakter relasi kuasa [yang] timpang itu," jelas Rini.

Kasus-kasus di lembaga negara atau instansi pemerintahan yang pernah ditangani LBH APIK juga demikian. Sebagian besar korban adalah bawahan dari pelakunya.

"Karena pelakunya punya kuasa, sehingga juga kerugian korban bisa berkali-kali lipat akan dipersalahkan. Terus orang nggak percaya sama keterangan dia, karena lebih percaya sama orang yang relasi kuasanya lebih tinggi. Atau ketidakberanian orang lain untuk melakukan pembelaan," kata Direktur LBH APIK Jakarta, Siti Mazumah kepada BBC News Indonesia.

Menurut Zumah—sapaan Siti Mazumah, peristiwa ini akan terus terjadi karena sejauh ini umumnya lembaga negara atau instansi pemerintahan belum punya unit layanan pengaduan khusus. Akibatnya, korban akan sepanjang hidupnya bekerja dalam kondisi "takut dan trauma".

"Kasus ini bukan sekali dua kali, tapi terus berulang terjadi. Dan kita hanya sibuk saja kayak pemadam kebakaran," lanjut Zumah.

Berpedoman pada etik dan disiplin

Kepala Biro Humas, Hukum, dan Kerja Sama Badan Kepegawaian Negara (BKN) Satya Pratama mengatakan, "Kalau pelecehan seksual, kita lihat dulu kasusnya, sebatas apa. Tapi karena pelecehan sifatnya pidana, maka bisa gunakan KUHP saja."

Sejauh ini, baik lembaga negara maupun instansi pemerintah berpatokan pada hukum kode etik dan disiplin untuk penyelesaian kasus-kasus perundungan maupun kekerasan seksual.

"Dasar Hukum PP 42/2004 Tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS; PP 53/2010 Tentang Disiplin PNS, dan Peraturan Kepala BKN 21 /2010 Tentang Ketentuan Pelaksanaan PP 53 Tahun 2010," kata Satya dalam pesan tertulis.

Namun, menurut Anggota Komnas Perempuan, Theresia Iswarini, mekanisme ini perlu dievaluasi. "Untuk hal-hal terkait dengan kekerasan seksual dia tidak bisa lagi disebut pelanggaran disipilin atau kode etik. Dia harus ada step [langkah] yang lebih kuat lagi," katanya.

Langkah tersebut adalah SOP pengaduan internal yang berpihak kepada korban, termasuk kemauan dari pimpinan lembaga atau instansi pemerintahan untuk menyelesaikan.

"Mekanisme internal harus dibangun dan meyakinkan korban, atau mereka yang potensial jadi korban untuk berani melaporkan apa yang dialami," tambah Rini.

Duduk bareng

Komnas Perempuan sendiri sudah memiliki mekanisme pengaduan internal terkait kasus kekerasan seksual, yang bisa dijadikan model oleh lembaga negara lainnya. Di antaranya membuka saluran anonimitas agar pelapor nyaman untuk mengutarakan persoalannya.

Sementara itu, Anggota Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara mengatakan dalam waktu dekat akan berkomunikasi dengan Komnas Perempuan, KPAI, dan LPSK untuk "merumuskan apa yang bisa dilakukan bersama."

"Ini saya kira bukan soal urgennya, tapi juga pencegahan supaya tidak terjadi yang sama di mana pun," kata Beka.

KPI serukan SOP internal di lembaga-lembaga

Dugaan pelecehan seksual dan perundungan di KPI, membuat lembaga ini merefleksikannya sebagai "warning bagi kita semua" untuk membuat prosedur penanganan kekerasan seksual dan perundungan di internal lembaga.

"Nah, itu yang menjadi evaluasi kita, bagaimana mekanisme prosedur penanganan ketika terjadi kekerasan di tempat kerja. Nanti juga kita akan dorong segera, siapkan ruang konseling dan ruang pengaduan bagi pegawai KPI," kata Anggota KPI, Nuning Rodiyah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

ART Diduga Lecehkan Anak Berkebutuhan Khusus karena Dijanjikan Uang

ART Diduga Lecehkan Anak Berkebutuhan Khusus karena Dijanjikan Uang

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 18:48 WIB

Pimpinan Ponpes di Lombok Barat Jadi Tersangka Dugaan Pelecehan Santriwati Berkedok Pengobatan

Pimpinan Ponpes di Lombok Barat Jadi Tersangka Dugaan Pelecehan Santriwati Berkedok Pengobatan

News | Selasa, 13 Oktober 2026 | 15:00 WIB

Kronologi Pelecehan Seksual Influencer Sashfir di Toilet Restoran Steak Senopati

Kronologi Pelecehan Seksual Influencer Sashfir di Toilet Restoran Steak Senopati

News | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 10:26 WIB

Kekerasan Seksual di Pesantren, Mengapa Terus Terjadi Objektifikasi

Kekerasan Seksual di Pesantren, Mengapa Terus Terjadi Objektifikasi

Your Say | Kamis, 08 Oktober 2026 | 15:20 WIB

Ancaman RUU Penyiaran: Larang Investigasi hingga Pangkas Kode Etik Jurnalis

Ancaman RUU Penyiaran: Larang Investigasi hingga Pangkas Kode Etik Jurnalis

Your Say | Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:20 WIB

Heboh Dugaan Kekerasan Guru di SMKN 27 Jakarta, Terduga Pelaku Resmi Dinonaktifkan

Heboh Dugaan Kekerasan Guru di SMKN 27 Jakarta, Terduga Pelaku Resmi Dinonaktifkan

News | Rabu, 07 Oktober 2026 | 17:04 WIB

Dugaan Pelecehan di ICM, Tamsil Linrung Tegaskan Tak Ada Intervensi: Semua Tunduk Aturan

Dugaan Pelecehan di ICM, Tamsil Linrung Tegaskan Tak Ada Intervensi: Semua Tunduk Aturan

News | Senin, 28 September 2026 | 07:36 WIB

Ketua Pembina ICM Minta Maaf atas Dugaan Pelecehan dan Perundungan Siswa

Ketua Pembina ICM Minta Maaf atas Dugaan Pelecehan dan Perundungan Siswa

News | Senin, 28 September 2026 | 07:29 WIB

Gandeng Kepolisian, Transjakarta Buru Terduga Pelaku Pelecehan Seksual di Mikrotrans JAK 31

Gandeng Kepolisian, Transjakarta Buru Terduga Pelaku Pelecehan Seksual di Mikrotrans JAK 31

News | Jum'at, 25 September 2026 | 16:44 WIB

Beautiful Pain Angkat Perjuangan Perempuan Hadapi KDRT hingga Pelecehan Seksual

Beautiful Pain Angkat Perjuangan Perempuan Hadapi KDRT hingga Pelecehan Seksual

Entertainment | Kamis, 24 September 2026 | 20:25 WIB

Terkini

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:16 WIB

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:04 WIB

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:25 WIB

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:59 WIB

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:35 WIB

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:30 WIB

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:47 WIB

×