Sebut Wacana Duet Prabowo-Cak Imin di Pilpres jadi Ijtihad Politik, Analis: Cuma Hasilkan 'Kawin Paksa'

Agung Sandy Lesmana, Bagaskara Isdiansyah

Jum'at, 04 Februari 2022 | 11:29 WIB
Sebut Wacana Duet Prabowo-Cak Imin di Pilpres jadi Ijtihad Politik, Analis: Cuma Hasilkan 'Kawin Paksa'
Prabowo Subianto. [Instagram/Prabowo]

Suara.com - Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif, Ahmad Khoirul Umam, menilai duet atau komposisi pasangan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin untuk Pilpres 2024 jika terwujud hanya akan menghasilkan kawin paksa. Hal itu terjadi lantara basis pendukung kedua tokoh tersebut berbeda. 

"Komposisi Prabowo-Muhaimin ini merupakan ijtihad politik yang hanya menghasilkan 'kawin paksa'," kata Khoirul Umam saat dihubungi, Jumat (4/2/2022). 

Ia mengatakan, berkaca dari Pemilu 2014 dan 2019, basis pemilih loyal Prabowo banyak didominasi oleh mereka yang berasal dari kalangan Islam konservatif, dengan akar ormas-ormas dan partai politik tertentu yang tersebar dan cukup kuat di wilayah Jawa Barat, Banten, dan Sumatra. 

Sedangkan, kata Khoirul, basis pemilih loyal PKB sendiri umumnya berasal dari kalangan Nahdliyyin yang notabene dinilai lebih moderat dan lebih terbuka mengekspresikan nasionalisme dalam kerangka pikir keislaman mereka. 

"Artinya, meskipun keduanya berdiri di atas basis pemilih loyal dari segmen Islam, namun karakter keislaman pendukung mereka cukup berbeda," tuturnya. 

Lebih lanjut, Khoirul menilai jika duet Prabowo-Cak Imin itu terus dilanjutkan, hal itu berpotensi menciptakan split ticket voting, atau pembelahan arah preferensi politik pemilih partai dengan pilihan Capres-Cawapres yang didukung. 

Wakil Ketua DPR RI, Abdul Muhaimin Iskandar. (Dok: DPR)
Wakil Ketua DPR RI, Abdul Muhaimin Iskandar. (Dok: DPR)

"Misalnya, jika Prabowo-Muhaimin maju, belum tentu pemilih PKB akan mencoblos Prabowo-Muhaimin mengingat sejumlah catatan akutnya eksploitasi politik identitas di Pemilu 2019 yang membuat banyak elemen Nahdlatul Ulama (NU) harus turun tangan, hingga PDIP sendiri legawa dan merasa urgen untuk memberikan posisi Wapres kepada perwakilan NU," tuturnya. 

Adapun memang Khoirul mengatakan, duet Prabowo-Cak Imin bisa juga menjanjikan, tapi hanya sekedar membentuk koalisi asal jadi saja. 

"Jadi, pasangan Prabowo-Muhaimin cukup menjanjikan untuk membentuk koalisi, namun efektivitas mesin politik yang dihasilkan cenderung tidak akan produktif dan optimal," tandasnya. 

baca juga

Soal Duet Cak Imin-Prabowo 

Untuk diketahui, PKB mulai membuka opsi menjadikan Muhaimin Iskandar sebagai calon wakil presiden di tengah upaya PKB menjadikan ketua umum mereka itu sebagai calon presiden.

Opsi itu muncul seiring adanya deklarasi untuk pasangan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto-Muhaimin Iskandar pada Pilpres 2024. Deklarasi itu salah satunya datang dari Barisan Prabowo-Muhaimin di Monumen Perjuangan Rakyat, Bandung Jawa Barat. 

Wakil Ketua Umum DPP PKB, Jazilul Fawaid tidak memungkiri bahwa banyak pihak memandang duet Prabowo-Muhaimin sebagai kombinasi pasangan capres dan cawapres yang ideal.  

Apalagi bila melihat posisi PKB yang jelas tidak mungkin bisa mencalonkan figur sendiri sebagai capres, tanpa berkoalisi. 

"Kami memang tidak bisa maju sendiri dan elektoral Pak Prabowo juga termasuk yang bagus. Banyak yang memandang kombinasi ini pasangan yang ideal untuk bisa mencapai kemenangan. Tapi kalau saya pribadi tetap berjuang Pak Muhaimin capres," kata Jazilul, Selasa (1/2/2022). 

Secara hitungan koalisi, kata Jazilul duet Prabowo-Muhaimin sudah tentu sudah memenuhi syarat presidential threshold (PT) minimal 20 persen. 

Diketahui, berdasarkan Pemilu 2019, Partai Gerindra memperoleh 17.594.839 suara (12,57 persen). Sementara PKB meraih 13.570.097 suara (9,69 persen). 

"Itu sudah lebih dari cukup untuk maju sebagai pasangan capres-cawapres," ujar Jazilul. 

Selain faktor raihan suara partai, koalisi antara Gerindra dan PKB dirasa ideal berdasarkan basis partai antara nasionalis dan religus. Di siai lain, duet dua figur yang berlatar belakang militer-sipil serta kalangan tua dan muda itu juga dipandang Jazilul sebagai pasangan ideal. 

Apalagi dua ketua umum partai itu cukup akrab mengingat keduanya sama-sama berada dalam satu koalisi di pemerintahan peridoe kedua Presiden Jokowi hingga kini. Dengan begitu, diakui Jazilul keduanya lebih mudah untuk melakukan konsolidasi. 

"Pak Muhaimin punya kultur pesantren dan NU, Pak Prabowo punya kultur militer, menurut saya komplit lah. Cuma saya pribadi masih berjuang agar Pak Muhaimin menjadi capres, RI 1. Tapi saya juga tidak menolak beberapa teman yang punya usulan karena pada ujungnya politik harus realistis juga," kata Jazilul. 

Namun adanya usulan duet Prabowo-Muhaimin belum ditanggapi lebih jauh nagi masing-masing partai. Duet itu masih sebatas usulan yang diterima sebagai aspirasi. 

"Ya enggak ada salahnya kalau pasangan ini dimunculkan lebih dulu untuk jalan karena cukup koalisinya," ujar Jazilul. 

Terpenting saat ini, menurut Jazilul masing-masing figur masih perlu meningkatkan popularitas dan elektabilitas di waktu tersisa menjelang Pilpres yang dilaksankan dua tahun lagi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bantah Cuma Pelengkap di Rezim Jokowi-Maruf, Gerindra: Jadi Modal Baik Kami jadikan Prabowo Presiden 2024

Bantah Cuma Pelengkap di Rezim Jokowi-Maruf, Gerindra: Jadi Modal Baik Kami jadikan Prabowo Presiden 2024

News | Jum'at, 04 Februari 2022 | 10:47 WIB

PKB Jateng: Gus Muhaimin Iskandar Kader NU Paling Siap Maju Presiden

PKB Jateng: Gus Muhaimin Iskandar Kader NU Paling Siap Maju Presiden

Jawa Tengah | Jum'at, 04 Februari 2022 | 07:00 WIB

Prabowo Ungkap Dapat Intruksi Tegas dari Presiden Jokowi, Tentang Hal Ini

Prabowo Ungkap Dapat Intruksi Tegas dari Presiden Jokowi, Tentang Hal Ini

Sumsel | Kamis, 03 Februari 2022 | 19:47 WIB

Survei LKPI: Elektabilitas Airlangga Hartarto Ungguli Prabowo Subianto hingga Ganjar Pranowo

Survei LKPI: Elektabilitas Airlangga Hartarto Ungguli Prabowo Subianto hingga Ganjar Pranowo

Surakarta | Kamis, 03 Februari 2022 | 19:26 WIB

Terkini

Prabowo Hanya Mengangguk Dapat Laporan Biaya Haji 2027 Diusulkan Naik

Prabowo Hanya Mengangguk Dapat Laporan Biaya Haji 2027 Diusulkan Naik

News | Selasa, 14 Juli 2026 | 19:00 WIB

Audit Digital Jadi Kunci! Dana Banpol Naik Tak Jamin Bebas Korupsi

Audit Digital Jadi Kunci! Dana Banpol Naik Tak Jamin Bebas Korupsi

News | Selasa, 14 Juli 2026 | 18:47 WIB

Pembongkaran JPO Tendean Selesai, Jalur Arah Pancoran Mulai Dibuka

Pembongkaran JPO Tendean Selesai, Jalur Arah Pancoran Mulai Dibuka

News | Selasa, 14 Juli 2026 | 18:41 WIB

KPK Geledah Rumah Anggota BPK Bobby Rizaldi, Dalami Kasus Dugaan Suap di Muara Enim

KPK Geledah Rumah Anggota BPK Bobby Rizaldi, Dalami Kasus Dugaan Suap di Muara Enim

News | Selasa, 14 Juli 2026 | 18:25 WIB

Kuntadi Masuk Bursa Jampidsus usai Febrie Adriansyah Mundur, Kejagung Belum Tahu?

Kuntadi Masuk Bursa Jampidsus usai Febrie Adriansyah Mundur, Kejagung Belum Tahu?

News | Selasa, 14 Juli 2026 | 18:18 WIB

Benarkah E-Voting untuk Pemilu Rawan Manipulasi? Pakar IT Ungkap Keunggulan Kertas Suara Manual

Benarkah E-Voting untuk Pemilu Rawan Manipulasi? Pakar IT Ungkap Keunggulan Kertas Suara Manual

News | Selasa, 14 Juli 2026 | 18:15 WIB

Sapa Jaksa Agung 'Kakak Asuh', Kapolri Dikritik: Sejak Kapan Jadi Subordinat?

Sapa Jaksa Agung 'Kakak Asuh', Kapolri Dikritik: Sejak Kapan Jadi Subordinat?

News | Selasa, 14 Juli 2026 | 18:10 WIB

Rumor Kuntadi Jadi Jampidsus Mencuat, Jaksa Agung Beri Respons Singkat

Rumor Kuntadi Jadi Jampidsus Mencuat, Jaksa Agung Beri Respons Singkat

News | Selasa, 14 Juli 2026 | 17:59 WIB

Tak Percaya Polri dan Kejagung, SEMA UGM Desak KPK Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah

Tak Percaya Polri dan Kejagung, SEMA UGM Desak KPK Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah

News | Selasa, 14 Juli 2026 | 17:54 WIB

Disimpan Dalam Koper President! Don Ritto Tak Berani Ungkap Pengusaha Pemilik Duit di Cafe de'Clan

Disimpan Dalam Koper President! Don Ritto Tak Berani Ungkap Pengusaha Pemilik Duit di Cafe de'Clan

News | Selasa, 14 Juli 2026 | 17:53 WIB

×