Suara.com - Ceramah UAS (Ustad Abdul Somad) yang menganggap sah bom bunuh diri dalam konteks konflik Palestina-Irael menjadi salah satu alasan ia ditolak masuk oleh Singapura.
Kementerian Dalam Negeri Singapura (MHA) memaparkan beberapa poin alasan penolakan UAS dalam rilis pernyataan yang terbit pada Selasa (17/5/2022).
"Somad telah memberikan ceramah yang memuat ajaran ekstrEmis, salah satunya adalah ia menyampaikan bahwa bom bunuh diri dalam konteks konflik Israel-Palestina adalah sah dan dianggap sebagai operasi martir," tulis MHA Singapura melalui rilis pres.
Lantas, bagaimana isi dari ceramah UAS soal bom bunuh diri tersebut?
Menjawab pertanyaan jemaah
Adapun ceramah yang dipermasalahkan pihak Singapura tersebut merujuk pada ceramah UAS menjawab pertanyaan jemaat soal bom bunuh diri.
Ia menyebut bahwa tindakan bom bunuh diri yang dilakukan rakyat Palestina terhadap Israel bukan bunuh diri tapi mati syahid.
“Pertanyaannya ‘bagaimana pendapat ustaz tentang orang yang meledakkan dirinya di tengah tentara Israel di Palestina?’ Saya katakan, ‘jangan katakan itu bunuh diri, tapi itu adalah gerakan mati syahid’,” kata Ustaz Somad.
UAS juga menjelaskan latar belakang dalil mayi syahid tersebut.
“Zaman Nabi pakai pedang, zaman sekarang tak pakai pedang, letupkan, ledakkan, mati syahid. Namanya harokah istisyhadiyah. Itu dalil Perang Uhud," lanjut UAS.
Tak berhenti di situ, UAS menyebut orang-orang yang mengolok-ngolok orang yang mati syahid sebagai mati konyol adalah antek Zionis.
“Adapun orang yang mengejek ini mati konyol, inilah antek Zionist Amerika. Orang mati syahid, dia katakan mati konyol. Kita pun ikut latah mengatakan ‘berita pagi ini, telah mati gerakan bom bunuh diri.’ Jangan katakan bom bunuh diri!” lanjut Ustaz Somad.
Klarifikasi UAS
Kadung viral, UAS memberikan klarifikasi terhadap ceramah lawas tersebut pada 2018 silam.
UAS menegaskan bahwa bom bunuh diri yang ia nilai mati syahid hanya berlaku dalam konteks di Palestina.
Kumpulan Kuis Menarik
Komentar
Terkait
Ini Perbedaan Not to Land Notice dengan Deportasi Seperti yang Dialami UAS di Singapura
News | Rabu, 18 Mei 2022 | 12:58 WIB
Dituding Ekstremis oleh Singapura, Ini 4 Klarifikasi UAS soal Ceramah Salib yang Pernah Viral
News | Rabu, 18 Mei 2022 | 12:41 WIB
Alasan Pemerintah Singapura Menolak UAS: Dari Ajarkan Ekstremis Hingga Kafir
Sumsel | Rabu, 18 Mei 2022 | 12:36 WIB
Inilah Isi Ceramah Lawas UAS soal Salib yang Dipermasalahkan Singapura
News | Rabu, 18 Mei 2022 | 12:31 WIB
Deportasi Artinya Apa? Ini Penjelasan Lengkap dan Penyebab Seseorang Dideportasi
News | Rabu, 18 Mei 2022 | 12:29 WIB
Dianggap Nistakan Agama Kristen Oleh Singapura, Abu Janda Minta Gus Yaqut Tertibkan Ustaz Abdul Somad
Surakarta | Rabu, 18 Mei 2022 | 12:26 WIB
Terkini
Cekcok Saat Main Bola, Dua Pemuda Cengkareng Nekat Siram Air Keras Hingga Masuk Sel
News | Rabu, 29 April 2026 | 18:52 WIB
Peneliti Soroti Kebijakan Menhan Soal Militer Asing di Langit RI, Minta DPR Perketat Pengawasan
News | Rabu, 29 April 2026 | 18:46 WIB
Jelang May Day KSPSI Bocorkan Permenaker Outsourcing, Bakal Lebih Ketat?
News | Rabu, 29 April 2026 | 18:44 WIB
Selamat Ginting Nilai Prabowo Masih Konsolidasi Hadapi Pengaruh Jokowi
News | Rabu, 29 April 2026 | 18:38 WIB
Kemenhan Bahas Akses Langit RI, Connie Bakrie: Harga Diri Bangsa Lebih Mahal dari Bantuan Keamanan
News | Rabu, 29 April 2026 | 18:36 WIB
Sadis dan Terencana: 7 Fakta Pengeroyokan Pelajar di Bantul, Motif Geng hingga Ancaman Hukuman Mati
News | Rabu, 29 April 2026 | 18:36 WIB
Kisah Haru Evakuasi Kecelakaan KRL Bekasi, Suami Temani Istri Terjepit 10 Jam Sambil Ngelus Pundak
News | Rabu, 29 April 2026 | 18:30 WIB
May Day di Monas, Andi Gani Pastikan Tanpa Dana Oligarki
News | Rabu, 29 April 2026 | 18:29 WIB
Prabowo Tunjuk Jumhur Jadi Menteri, Analis: Sinyal Perang ke Oligarki Hitam Lingkungan
News | Rabu, 29 April 2026 | 18:24 WIB