Gletser Gunung Everest Mencair, Nepal Hendak Relokasi Kamp Pendakian

Siswanto, BBC

Minggu, 19 Juni 2022 | 12:02 WIB
Gletser Gunung Everest Mencair, Nepal Hendak Relokasi Kamp Pendakian
BBC

Suara.com - Nepal sedang menyiapkan pemindahan kamp pendakian Gunung Everest karena gletser gunung tersebut mencair akibat pemanasan global sehingga bisa membahayakan manusia.

Kamp pendakian yang dapat digunakan hingga 1.500 orang pada musim semi itu terletak di Gletser Khumbu. Namun, akhir-akhir ini gletser tersebut kian menipis.

Sejumlah peneliti mengatakan lelehan es membuat gletser tidak stabil. Bahkan, para pendaki melihat retakan semakin banyak bermunculan di kamp pendakian saat mereka sedang tidur di tenda.

Sebuah lokasi baru untuk kamp pendakian ditemukan pada level yang lebih rendah. Di tempat itu tidak ada es yang membeku sepanjang tahun, kata pejabat Nepal kepada BBC.

"Kami sedang menyiapkan relokasi dan kami akan segera memulai konsultasi dengan semua pemangku kepentingan," papar Taranath Adhikari, Direktur Jenderal Departemen Pariwisata Nepal, kepada BBC.

"Pada dasarnya [relokasi] ini adalah bagaimana beradaptasi pada perubahan yang kami saksikan di kamp pendakian dan hal ini semakin penting bagi kesinambungan bisnis pendakian itu sendiri."

Kamp pendakian saat ini terletak pada ketinggian 5.364 meter, sedangkan yang baru bakal didirikan 200 meter atau 400 meter lebih rendah, ujar Adhikari.

Baca juga:

Rencana relokasi kamp pendakian mengikuti rekomendasi sebuah komite yang dibentuk pemerintah Nepal guna memfasilitasi dan memonitor pendakian di kawasan Everest.

baca juga

Berdasarkan temuan para peneliti, Gletser Khumbu dan gletser lainnya di Pegunungan Himalaya semakin meleleh dan menipis di tengah pemanasan global.

Sebuah kajian pada 2018 yang dilakoni sejumlah peneliti dari Universitas Leeds, Inggris, mendapati bahwa Gletser Khumbu kehilangan 9,5 juta meter kubik air per tahun. Adapun bagian yang dekat dengan kamp pendakian menipis sebanyak 1 meter per tahun.

"Kami menemukan laju penipisan es pada area kamp pendakian lebih banyak dari bagian-bagian lain pada gletser karena lapisan batu dan bongkahannya tipis," jelas Scott Watson, salah seorang peneliti, kepada BBC.

Sebagian besar gletser tertutup serpihan batu, namun ada pula area yang lapisan es-nya menonjol ke permukaan. Ini disebut tebing es. Melelehnya tebing es inilah yang paling membuat gletser tidak stabil," kata Watson.

"Tatkala tebing es meleleh, serpihan dan bongkahan batu yang berada di atas tebing es bergerak dan jatuh. Kemudian pelelehan juga menciptakan kumpulan air.

"Dengan demikian, pelelehan ini membuat runtuhan batu semakin meningkat dan gerakan air meleleh pada permukaan air bisa berbahaya."

Baca juga:

Para pendaki dan aparat Nepal mengatakan aliran air di tengah kamp pendakin semakin lebar setiap tahun.

Mereka juga mengatakan retakan pada permukaan gletser semakin sering terjadi dari masa-masa sebelumnya.

"Kami terkejut melihat retakan muncul di mana-mana pada malam hari ketika kami tidur," ujar Kolonel Kishor Adhikari dari militer Nepal. Dia berada di kamp pendakian ketika memimpin operasi pembersihan pada musim pendakian yang berlangsung dari Maret sampai akhir Mei.

"Pada pagi hari, banyak di antara kami yang punya pengalaman mengerikan karena kami bisa saja terperosok ke dalamnya. Retakan pada permukaan tanah sering terjadi, cukup berisiko," tambah Adhikari.

Baca juga:

Tshering Tenzing Sherpa, manajer kamp pendakian Gunung Everest yang tergabung dalam Komite Pengendalian Polusi Sagarmatha (SPCC), mengamini keterangan Adhikari.

Menurutnya, suara bising juga kerap terdengar yang disebabkan pergerakan es atau batu jatuh.

Itu sebabnya, lanjut Tshering, penting untuk meratakan permukaan bebatuan yang menutupi es sebelum mendirikan tenda. Langkah ini juga harus diulangi dari waktu ke waktu seiring dengan pergerakan gletser.

"Di masa lalu, permukaan tanah yang diratakan bakal menyembul setelah dua atau tiga pekan. Namun sekarang itu terkadi hampir setiap pekan," ucapnya.

Khimlal Gautam, seorang anggota senior komite yang merekomendasikan pemindahan kamp pendakian, menilai keberadaan begitu banyak orang di kamp berkontribusi pada masalah yang kini dihadapi.

"Sebagai contoh, kami menemukan bahwa para pengunjung buang air kecil sebanyak 4.000 liter di kamp pendakian setiap hari," ungkap Gautam.

"Dan jumlah bahan bakar yang sedemikian besar, seperti minyak tanah dan gas, yang digunakan untuk memasak dan menghangatkan tubuh tentu bakal berdampak pada lapisan es gletser," sambungnya.

Adrian Ballinger, pendiri perusahaan pemandu pendakian Alpenglow Expeditions, sepakat dengan relokasi kamp pendakian. Dia memprediksi akan ada lebih banyak longsor serta keruntuhan es dan batu di area yang kini dijadikan kamp pendakian.

"Bagi pemimpin ekspedisi, kejadian tersebut tidak bisa diterima mengingat hal itu bisa dihindari," ujarnya.

Kekurangan utama dari pemindahan kamp ke lokasi dengan ketinggian lebih rendah adalah jarak pendakian dari satu kamp ke kamp lain akan bertambah jauh.

Sebagian besar pendaki masih menempuh perjalanan ke Gunung Everest dari sisi Nepal, namun jumlah yang memulai perjalanan dari China kian banyak.

Tshering Tenzing Sherpa dari SPCC menilai lokasi kamp pendakian saat ini masih stabil, walau terdapat berbagai masalah. Bahkan, kamp tersebut bisa terus digunakan selama tiga hingga empat tahun ke depan.

Namun, sejumlah pejabat Nepal mengatakan relokasi mungkin berlangsung pada 2024.

"Kami telah meninjau aspek teknis dan lingkungan kamp pendakian. Tapi sebelum kami merelokasinya, kami harus mendiskusikannya dengan komunitas lokal mengingat ada aspek lain seperti budaya mereka," kata Adhikari.

"Kami baru bisa melakukannya setelah mendiskusikannya dengan semua pihak."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Teknologi Mikroalga Diklaim Serap Karbon Setara 110 Pohon, Bagaimana Cara Kerjanya?

Teknologi Mikroalga Diklaim Serap Karbon Setara 110 Pohon, Bagaimana Cara Kerjanya?

Lifestyle | Senin, 12 Oktober 2026 | 14:14 WIB

Food Waste Makin Mengkhawatirkan, Mengapa Sampah Makanan Bisa Picu Pemanasan Global?

Food Waste Makin Mengkhawatirkan, Mengapa Sampah Makanan Bisa Picu Pemanasan Global?

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 15:20 WIB

Mendaki Gunung Everest Makin Susah, Duit Bukan Lagi Segalanya di Sana

Mendaki Gunung Everest Makin Susah, Duit Bukan Lagi Segalanya di Sana

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:34 WIB

Mengenal Proses Terjadinya Efek Rumah Kaca dan Pemanasan Global

Mengenal Proses Terjadinya Efek Rumah Kaca dan Pemanasan Global

Tekno | Kamis, 03 September 2026 | 15:10 WIB

Peringatkan! Suhu Bumi Lampaui Batas Ambang Kritis, Sangat Rawan Bencana

Peringatkan! Suhu Bumi Lampaui Batas Ambang Kritis, Sangat Rawan Bencana

News | Rabu, 02 September 2026 | 16:44 WIB

Di Balik Server Raksasa: Rahasia Kelam di Balik Kecepatan Kecerdasan Buatan

Di Balik Server Raksasa: Rahasia Kelam di Balik Kecepatan Kecerdasan Buatan

Your Say | Rabu, 15 Juli 2026 | 11:42 WIB

Panas Lembap Kian Berbahaya akibat Perubahan Iklim, Mengapa Tubuh Semakin Sulit Beradaptasi?

Panas Lembap Kian Berbahaya akibat Perubahan Iklim, Mengapa Tubuh Semakin Sulit Beradaptasi?

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 16:35 WIB

Studi: Pemanasan Global Berpotensi Memicu Pelepasan Metana Lebih Besar dari Ekosistem Alami

Studi: Pemanasan Global Berpotensi Memicu Pelepasan Metana Lebih Besar dari Ekosistem Alami

News | Rabu, 17 Juni 2026 | 10:42 WIB

Beruang Kutub Dulu Putih Kini Kelabu: Tanda Alam yang Terabaikan dari Krisis Iklim Global

Beruang Kutub Dulu Putih Kini Kelabu: Tanda Alam yang Terabaikan dari Krisis Iklim Global

Your Say | Selasa, 16 Juni 2026 | 18:17 WIB

6 Hari Hilang Keluarga Sudah Anggap Tewas, Pemandu Gunung Ini Tiba-tiba Muncul dan Hidup

6 Hari Hilang Keluarga Sudah Anggap Tewas, Pemandu Gunung Ini Tiba-tiba Muncul dan Hidup

News | Kamis, 04 Juni 2026 | 17:53 WIB

Terkini

Hybrid Fitness Race Khusus Perempuan Hadir di Indonesia

Hybrid Fitness Race Khusus Perempuan Hadir di Indonesia

Sport | Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:45 WIB

Sumsel United Tak Terkalahkan 4 Laga, Tegar Hening Absen Jelang Derby Sumatera

Sumsel United Tak Terkalahkan 4 Laga, Tegar Hening Absen Jelang Derby Sumatera

Sumsel | Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:42 WIB

Laba PTBA Tembus Rp4,41 Triliun, Pendapatan Naik 12 Persen hingga Kuartal III 2026

Laba PTBA Tembus Rp4,41 Triliun, Pendapatan Naik 12 Persen hingga Kuartal III 2026

Sumsel | Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:31 WIB

Nugroho Herucahyono Dorong Talenta Indonesia Berani Bangun Teknologi untuk Dunia

Nugroho Herucahyono Dorong Talenta Indonesia Berani Bangun Teknologi untuk Dunia

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:17 WIB

35 Tahun Yugoslavia Bubar, Siapa Paling Untung di Sepak Bola? Kroasia dan Serbia Menonjol

35 Tahun Yugoslavia Bubar, Siapa Paling Untung di Sepak Bola? Kroasia dan Serbia Menonjol

Bola | Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:10 WIB

Gibran Kalahkan Prabowo di Puncak Elektabilitas, Begini Respon Santai Jokowi

Gibran Kalahkan Prabowo di Puncak Elektabilitas, Begini Respon Santai Jokowi

Surakarta | Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:06 WIB

Dari Urusan Kerja hingga Menyusui, Teknologi Makin Dekat dengan Rutinitas Harian Perempuan

Dari Urusan Kerja hingga Menyusui, Teknologi Makin Dekat dengan Rutinitas Harian Perempuan

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:57 WIB

Indosat Perkuat 5G di Semarang, Cakupan Capai 96 Persen, UMKM hingga Pengguna AI Jadi Sasaran

Indosat Perkuat 5G di Semarang, Cakupan Capai 96 Persen, UMKM hingga Pengguna AI Jadi Sasaran

Jawa Tengah | Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:54 WIB

Hashim Klaim Indonesia Negara Super Kaya, Sebut Mampu Biayai MBG & Kopdes Merah Putih

Hashim Klaim Indonesia Negara Super Kaya, Sebut Mampu Biayai MBG & Kopdes Merah Putih

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:43 WIB

Tiga Insiden Terjadi di Porprov Jateng, KONI dan Panitia Evaluasi Prosedur Keselamatan Atlet

Tiga Insiden Terjadi di Porprov Jateng, KONI dan Panitia Evaluasi Prosedur Keselamatan Atlet

Jawa Tengah | Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:36 WIB

×