Nelayan Indonesia Diduga Membunuh Penyu Hijau yang Hampir Punah di Perairan Australia

Siswanto, ABC

Senin, 20 Juni 2022 | 13:59 WIB
Nelayan Indonesia Diduga Membunuh Penyu Hijau yang Hampir Punah di Perairan Australia
Ilustrasi penyu hijau. (Pixabay/Skitterphoto)

Suara.com - Muncul kekhawatiran bahwa nelayan asal Indonesia membunuh dan memakan penyu hijau yang diburu di perairan Australia Barat, dengan pihak berwenang mengukuhkan delapan penyu hijau ditemukan dengan perut terbuka dan telurnya diambil.

Penyu hijau tersebut ditemukan di dua pulau terpencil di sebelah barat perairan Broome, oleh patroli yang dilakukan Departemen Konservasi (DBCA).

Dalam pernyataannya, departemen tersebut mengatakan rangka penyu yang ditinggal tersebut 'tampaknya disebabkan oleh ulah manusia yang membelah tubuh binatang tersebut untuk mengambil telurnya."

"Penemuan bangkai penyu ini mengkhawatirkan dari sisi ilmu pengetahuan, karena hilangnya penyu dari populasi yang sudah kecil akan menyebabkan menurunnya pasokan genetik binatang tersebut," kata departemen itu.

"Pakar penyu dan badan pemerintah sepakat bahwa nelayan Indonesia yang bertanggung jawab, melihat lokasinya yang terpencil dan metode pembunuhannya."

Penemuan menyedihkan ini terjadi di saat tingginya angka nelayan asal Indonesia yang memasuki perairan Australia secara ilegal dalam 20 tahun terakhir.

'Menemukan penyu secara kebetulan'

Bangkai penyu tersebut ditemukan di pantai di pulau Scott Reef dand Browse Island, yang terletak beberapa ratus kilometer dari Pantai Kimberley di Australia Barat.

Professor James Fox dari Australian National University yang sudah mempelajari mengenai perilaku nelayan Indonesia selama 40 tahun terakhir mengatakan pembunuhan penyu ini adalah hal yang tidak biasanya terjadi.

"Bila perut penyu tersebut dibelah dan telurnya diambil, besar kemungkinan menurut saya dilakukan nelayan Indonesia," katanya.

baca juga

"Telur penyu adalah hal yang mereka cari dan mereka sukai.

"Saya menduga penyu tersebut ditemukan secara kebetulan oleh nelayan yang sebelumnya tidak pernah berlayar sampai ke sana."

Penemuan penyu yang diburu ketika hendak bertelur di pantai tersebut menimbulkan kekhawatiran para ilmuwan karena penyu hijau masuk dalam kategori binatang yang hampir punah dan hanya bertelur di beberapa pulau terpencil di Australia.

Kepada ABC, Departemen Konservasi mengatakan hanya ada sekitar 500 penyu hijau di sekitar Browse Island dan Scott Reef, menjadikan mereka kelompok penyu hijau paling kecil yang ada di Australia.

Data menunjukkan peningkatan kedatangan perahu gelap

Insiden ini muncul di saat angka resmi dari pemerintah Australia menunjukkan peningkatan kegiatan penangkapan ikan ilegal di perairan Australia dalam 18 bulan terakhir.

Peter Venslovas dari Otoritas Manajemen Perikanan Australia (AFMA) mengatakan sudah terjadi peningkatan pemergokan perahu dan kapal ikan asing sepanjang tahun ini.

"Dalam masa tahun keuangan sekarang sampai 14 Juni, kami sudah memergoki 337 perahu," katanya.

"Sebagai perbandingan, kami tidak pernah mengalami jumlah seperti ini sejak pertengahan tahun 2000-an, ketika jumlahnya tertinggi saat itu."

Peningkatan penangkapan ikan ilegal ini dikaitkan dengan pandemi COVID di mana para nelayan Indonesia banyak kehilangan sumber mata pencarian lain.

Beberapa komunitas nelayan juga mengalami kesulitan untuk bangkit secara perekonomian menyusul badai topan Seroja yang menimbulkan banyak kerusakan di bulan April 2021.

Sebelum COVID, nelayan ilegal yang ditangkap kemudian dibawa ke daratan Australia untuk diadili dan dideportasi.

Namun, karena pertimbangan soal kesehatan terkait pandemi, hal tersebut tidak dilakukan lagi selama dua tahun terakhir.

Pemerintah Australia mengatakan mereka terus berusaha menjaga wilayah perairan sebaik mungkin dengan menangkap perahu nelayan dan isinya, kemudian mengusir mereka dari perairan Australia.

Dalam 12 bulan terakhir, 44 perahu nelayan ilegal dibakar di tengah laut, karena tersedia cukup perahu bagi para nelayan yang dipergoki untuk bisa dengan aman keluar dari wilayah Australia.

Kampanye media di Indonesia

Peter Venslovas dari AFMA mengatakan bahwa mereka sekarang sedang  melakukan kampanye pendidikan di Indonesia agar nelayan tidak masuk ke perairan Australia.

"Kami membuat animasi video baik dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, dan menjelaskan aturan  penangkapan ikan ilegal dan hukuman bila mereka tertangkap," katanya.

"Ini sudah disebarkan di media sosial dan berbagai media lain dengan sasaran berbagai pelabuhan di mana para nelayan berasal."

Ada petunjuk bahwa kampanye ini mulai memberikan hasil, dengan menurunnya perahu nelayan yang dcegat di tahun 2022 dibandingkan jumlah yang sama di paruh kedua tahun lalu.

Namun, beberapa pakar mengatakan usaha penangkapan ikan ilegal masih akan terus berlanjut karena para nelayan mencari produk laut yang harganya tinggi yaitu teripang.

Teripang adalah makanan laut yang banyak dicari untuk dijual ke China.

Professor James Fox sudah memantau perkembangan perdagangan internasional makanan laut dan mengatakan permintaan akan teripang sekarang sedang tinggi-tingginya.

"Selama 18 bulan terakhir, harga pasaran untuk beberapa jenis teripang di pasar China melonjak tinggi karena semakin makmurnya warga di sana," kata Professor Fox.

"Harga di Hong Kong bisa mencapai Rp3,5 juta per kilo.

"Di Indonesia teripang ini sudah hampir habis namun di perairan utara Australia masih banyak, jadi ini cuma masalah permintaan dan pasokan saja."

Professor Fox memperingatkan bahwa nelayan akan terus mendatangi wilayah perairan Australia meski ada tragedi tenggelamnya sembilan nelayan Indonesia di perairan dekat Karang Ashmore bulan Maret lalu.

"Saya yakin jumlah perahu yang akan masuk ke perairan Australia akan meningkat drastis dalam bulan-bulan mendatang,"" katanya.

"Akan ada lebih banyak perahu yang datang, dalam usaha mereka untuk mendapatkan teripang."

Professor Fox mengatakan pengembangan industri untuk mengambil teripang di sepanjang pantai Indonesia akan bisa membantu mengurangi kemungkinan perahu nelayan mendatangi wilayah Australia.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Polemik Penggeledahan Rumah Tahfiz di Sukoharjo Kian Memanas, DPR Desak Pembentukan TGPF Independen

Polemik Penggeledahan Rumah Tahfiz di Sukoharjo Kian Memanas, DPR Desak Pembentukan TGPF Independen

News | Senin, 02 November 2026 | 01:02 WIB

KAI Mulai Buka Tiket Kereta untuk Perjalanan Desember 2026

KAI Mulai Buka Tiket Kereta untuk Perjalanan Desember 2026

Foto | Senin, 02 November 2026 | 00:11 WIB

SMK Nusantara Kembali Juara AXIS Nation Cup 2026

SMK Nusantara Kembali Juara AXIS Nation Cup 2026

Foto | Senin, 02 November 2026 | 00:09 WIB

Alex Marquez Persembahkan Podium untuk BK8 Gresini Racing di MotoGP Malaysia 2026

Alex Marquez Persembahkan Podium untuk BK8 Gresini Racing di MotoGP Malaysia 2026

Sport | Minggu, 01 November 2026 | 23:37 WIB

Rumor MSCI Downgrade IHSG Panaskan Hubungan RI-Singapura

Rumor MSCI Downgrade IHSG Panaskan Hubungan RI-Singapura

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 22:20 WIB

Target Harga Saham BBCA di Tengah Koreksi Ekstrem

Target Harga Saham BBCA di Tengah Koreksi Ekstrem

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 22:11 WIB

Patuhi Danantara, PTBA Resmi Bubarkan Anak Usaha

Patuhi Danantara, PTBA Resmi Bubarkan Anak Usaha

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 22:05 WIB

Danantara Gandeng 32 Kampus, Hasil Riset Didorong Tak Berhenti di Meja Penelitian

Danantara Gandeng 32 Kampus, Hasil Riset Didorong Tak Berhenti di Meja Penelitian

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:05 WIB

Aparat Bersenjata Geledah Ponpes Putri saat Santri Tidur, Komnas HAM Turun Tangan

Aparat Bersenjata Geledah Ponpes Putri saat Santri Tidur, Komnas HAM Turun Tangan

News | Minggu, 01 November 2026 | 22:00 WIB

Jadi Media Peredaran Narkotika Cair, Kapolri Larang Anggota Polri Pakai Vape

Jadi Media Peredaran Narkotika Cair, Kapolri Larang Anggota Polri Pakai Vape

News | Minggu, 01 November 2026 | 21:41 WIB

Terkini

The Last 10 Years: Ketika Kita Hanya Punya Sedikit Waktu untuk Bisa Bahagia

The Last 10 Years: Ketika Kita Hanya Punya Sedikit Waktu untuk Bisa Bahagia

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 07:20 WIB

BNPB Terbitkan 8 Instruksi Hadapi Musim Hujan, Pemda Diminta Siaga Bencana 24 Jam!

BNPB Terbitkan 8 Instruksi Hadapi Musim Hujan, Pemda Diminta Siaga Bencana 24 Jam!

News | Senin, 02 November 2026 | 07:17 WIB

KPK Limpahkan Berkas ke Jaksa, Kasus Suap Suhardiman Amby Segera Disidang

KPK Limpahkan Berkas ke Jaksa, Kasus Suap Suhardiman Amby Segera Disidang

Riau | Senin, 02 November 2026 | 07:17 WIB

4 Shio Paling Hoki Hari Ini 2 November 2026, Apakah Kamu Termasuk?

4 Shio Paling Hoki Hari Ini 2 November 2026, Apakah Kamu Termasuk?

Lifestyle | Senin, 02 November 2026 | 07:14 WIB

JK: Orang Maluku Jangan Jadi Penonton Proyek Gas Blok Masela

JK: Orang Maluku Jangan Jadi Penonton Proyek Gas Blok Masela

Sulsel | Senin, 02 November 2026 | 07:07 WIB

Bertolak ke Sulbar, Gibran akan Hadiri 100 Tahun Injil Masuk Tanah Kalumpang hingga Tinjau RSUD

Bertolak ke Sulbar, Gibran akan Hadiri 100 Tahun Injil Masuk Tanah Kalumpang hingga Tinjau RSUD

News | Senin, 02 November 2026 | 07:04 WIB

KPK Ingatkan Pejabat Kepri Hindari Flexing, Gaya Hidup Mewah Bisa Picu Korupsi

KPK Ingatkan Pejabat Kepri Hindari Flexing, Gaya Hidup Mewah Bisa Picu Korupsi

Batam | Senin, 02 November 2026 | 07:03 WIB

TPA Degayu Pekalongan Terbakar, Api Meluas hingga 1,5 Hektare

TPA Degayu Pekalongan Terbakar, Api Meluas hingga 1,5 Hektare

Foto | Senin, 02 November 2026 | 07:00 WIB

Eks Bupati Gowa Husniah Talenrang Kembali Jadi Tersangka, Ini Kasusnya

Eks Bupati Gowa Husniah Talenrang Kembali Jadi Tersangka, Ini Kasusnya

Sulsel | Senin, 02 November 2026 | 06:52 WIB

Alicia's Law Tayang 11 November di Netflix, Adaptasi Serial The Good Wife

Alicia's Law Tayang 11 November di Netflix, Adaptasi Serial The Good Wife

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 06:50 WIB

×