Banyak Perusahaan Raksasa Bermimpi Mendulang Emas di Pasar China, Kini Mereka Pergi dengan Tangan Hampa

Siswanto, ABC

Jum'at, 15 Juli 2022 | 11:58 WIB
Banyak Perusahaan Raksasa Bermimpi Mendulang Emas di Pasar China, Kini Mereka Pergi dengan Tangan Hampa
Ilustrasi Chinatown Food Street Singapura (Unsplash @lvnatikk)

Suara.com - Kalangan bisnis Amerika Serikattelah lama terpikat pada kutipan dari Jack Welch, mantan CEO General Electric, tentang masa depan pasar China.

"Kita semua berharap hanya langit yang akan jadi batasnya," ujarnya saat berkunjung ke Shanghai pada 1990-an.

Dorongan dari Jack Welch tentang peluang tak terbatas ini tak ayal lagi memikat perusahaan-perusahaan AS lainnya ke China.

Salah satunya Jeff Bezos, pendiri perusahaan raksasa teknologi Amazon.

Perusahaan itu masuk ke China sejak tahun 2004 melalui akuisisi penjual buku online lokal Joyo seharga $110 juta, mengubah namanya menjadi Amazon China sebagai platform e-commerce pada tahun 2011.

Namun pada 2019, ketika China membuat rekor penjualan online senilai $2,3 triliun dengan lebih dari 900 juta pembeli domestik, Amazon justru mengumumkan akan menutup bisnis domestiknya, dan lebih fokus pada penjualan lintas negara untuk pelanggan China.

Surat kabarThe New York Times melaporkan, meskipun minat belanja online kuat di dalam negeri, namun China hanya menyumbang kurang dari 6 persen dari penjualan global Amazon tahun itu.

Bukan hanya pasar perdagangan online Amazon gagal mencapai tujuannya di China, tapi juga pasar e-book (buku digital) yang bernilai miliaran dolar.

Kindle akan meninggalkan China

Salah satu produk Amazon, Kindle,diluncurkan di China pada tahun 2013,dengan perangkat rak buku virtualnya yang berisi jutaan e-book. Produk ini langsung menarik konsumen China yang masih mengandalkan buku-buku bersampul tipis pada saat itu.

baca juga

Kindle juga mendorong ledakan di pasar e-book China. Pemerintah melaporkan bahwa Amazon menduduki 65 persen pangsa pasar pada tahun 2019.

Pada tahun 2021, data pemerintah China menunjukkan sektor e-reading telah memperoleh pendapatan $9 miliar, meningkat 20 persen dari tahun sebelumnya.

Lebih dari 506 juta pengguna China dilaporkan mengakses eBook tahun lalu, dengan rata-rata setiap orang membaca 11,58 judul buku digital.

Oleh karena itu, ketika bulan lalu Amazon mengumumkan akan menutup toko e-booknya di China mulai tahun depan, banyak yang kaget.

"Kami masih berkomitmen untuk pelanggan kami di China," kata juru bicara Amazon kepada ABC News.

"Sebagai perusahaan global, kami secara berkala mengevaluasi layanan dan terus melakukan penyesuaian, di mana pun kami beroperasi," katanya.

Amazon ternyata bukan satu-satunya raksasa teknologi AS yang akan hengkangdari China.

AirBnB juga akan hengkang

Pada bulan Mei, salah satu pendiri Airbnb, Nathan Biecharczyk, mengatakan dalam postingannya di media sosial WeChat bahwa perusahaan itu akan menutup bisnis domestiknya pada 30 Juli. Mereka, katanya, akan fokus pada perjalanan keluar dari China sebagai gantinya.

Implikasi keputusan ini menyebabkan AirBnB akan menghapus 150.000 tempat tinggal terdaftar di China.

Pada tahun 2020, Biecharczyk menyatakan China akan menjadi yang terbesar di Airbnb.

Keputusan Kindle dan Airbnb ini menyusul keputusan perusahaan teknologi AS sebelumnya, termasuk Yahoo dan LinkedIn Microsoft, yang telah menghentikan layanan mereka dari China.Google bahkan telah keluar dari negara itu pada tahun 2010.

Perusahaan raksasa AS di luar bidang teknologi kabarnya sedang memikirkan kembali produk digital merekadi China saat ini.

Pada bulan Juni, misalnya, merek pakaian Nike mengumumkan konsumen China akan kehilangan akses ke aplikasi Runner Club-nya, yang memungkinkan pengguna untuk melacak aktivitas olahraga mereka dan berbagi data dengan teman-teman mereka.

Perusahaan itu mengatakan kepada stasiun TV CNN bahwa mereka masih akan berinvestasi dalam mengembangkan platform digital di China, dan akan meluncurkan platform "lokal" untuk para olahragawan China di masa depan.

Tertekan oleh peraturan yang kian ketat

Karena semakin banyak merek teknologi Barat meninggalkan China, sejumlah pengamat menyebut adanya dua undang-undang keamanan data negara itu sebagai faktor penyebab.

Keduanya mulai berlaku pada tahun 2021, yaitu UU Keamanan Data Negara dan UU Perlindungan Informasi Pribadi yang membatasi perusahaan dan individu untuk mentransfer data yang dihasilkan di China ke luar negeri.

Undang-undang tersebut juga mewajibkan perusahaan asing untuk melokalkan penyimpanan data mereka dan mematuhi pemeriksaan dari regulator pemerintah.

Artinya, Pemerintah China akan dapat mengakses data pengguna melalui perusahaan media sosial milik China seperti TikTok.

"

Pekan ini, TikTok mengakui data pengguna Australia dapat diakses di China, tapi menyatakan: "Kami tidak pernah memberikan data pengguna Australia kepada pemerintah China ... dan tidak akan memberikannya jika kami diminta."

"

Kendra Schaefer, konsultan dari Trivium China yang berbasis di Beijing, mengatakan upaya pengetatan peraturan telah memaksa beberapa perusahaan teknologi untuk melepaskan fitur yang dulunya menjadi sumber keuntungan mereka.

Laporan Dewan Bisnis AS-China pada bulan April menunjukkan 81 persen perusahaan AS yang disurvei khawatir tentang kebijakan keamanan data China.

Kendra Schaefer menyebutkan selain UU keamanan data, banyak perusahaan teknologi Barat mengalami pengetatan peraturan China selama beberapa tahun terakhir.

"

"Airbnb menghadapi masalah signifikan di Beijing,Shanghai dan kota-kota besardalam hal peraturan persewaan yang ketat," katanya.

"

Amazon juga menghadapi masalah lisensi karena menerbitkan buku di e-reader.

Pada tahun 2021, laporan Reuters menunjukkan upaya Amazon menyelesaikan masalah ini dengan meluncurkan proyek Buku China, yang mensyaratkan kemitraan dengan organ propaganda Partai Komunis China dalam mempromosikan buku-buku Presiden Xi Jinping.

Amazon diketahui telah menghapus komentar dan ulasan untuk buku-buku Presiden Xisetelah ada permintaan dari Pemerintah China.

Pengalaman konsumen di China

Meskipun perusahaan Barat menyebutkan peraturan ketat sebagai penghalang dalam pasar China, namun sejumlah konsumen lokal menceritakan kisah yang berbeda.

Xiaofeng Luo, seorang kutu buku berusia 25 tahun dari Provinsi Zhejiang, mengaku telah membaca "sekitar 100 buku" melalui Kindle saat dia berusia 17 tahun.

Namun dalam dua tahun terakhir, dia tidak lagi menggunakan produk Amazon itu sama sekali.

"Saya tidak dapat menemukan buku yang saya ingin baca di Kindle. Saya akan mendapatkan novelnya di Amazon, tapi anehnya tidak ada versinya di Kindle," katanya.

Teman-teman Luo merekomendasikan untuk mencoba WeRead, platform e-reading yang dibuat oleh Tencent sebagai produk sampingan dari aplikasi sosial WeChat.

"Mereka menawarkan banyak jenis buku dari penerbit yang sangat bagus, biaya keanggotaan juga murah," jelasnya.

Luo juga menikmati fitur sosial WeRead, yang memungkinkan pengguna untuk berbagi daftar bacaan mereka atau mendiskusikan konten dengan pengguna lain di platform.

"Saya memberikan akun Kindle saya kepada ibu saya, karena dia juga membaca novel dan e-book di Amazon. Tapi dia bilang tidak pernah menggunakannya," katanya.

Pengalaman Luo ini senada dengan pengamatan Mark Tanner dari perusahaan konsultan pemasaran China Skinny di Shanghai.

"Selalu ada e-reader lokal, inovatif, atau benar-benar murah,menawarkannilai yang lebih baik dan memiliki buku yang sangat bagus.Jadi tidak ada keuntungan apa pun untuk berlangganan Kindle," kata Tanner.

Airbnb juga menghadapi tantangan dari para pesaing lokal seperti Tujia, yang memiliki 2 juta akomodasi terdaftar pada tahun 2020. Jumlah ini sama dengan13 kali lebih banyak dari Airbnb.

Schaefer mengatakan kurangnya penjualan di pasar China adalah salah satu pendorong utama di balik kegagalan merek teknologi Barat di China selain faktor regulasi.

"Mereka tidak mencoba menjadi aplikasi China, padahal ada semacam ekosistem pengguna yang sangat berbeda di China denganpengguna internasional," katanya.

Masih gagal setelah dua dekade

Menurut Tanner meskipun sejumlah merek Barat sekarang telah memahami pasar China dengan baik, namun banyak yang masih kesulitan untuk mencapai keberhasilan di China.

"Perusahaan China sangat cepat dalam membuat keputusan, sangat dinamis, dan mereka siap untuk membuang banyak hal yang sulit," katanya.

Dia mengatakan banyak perusahaan Silicon Valley memiliki pola pikir yang sama, tapi karena pengambil keputusan tidak berbasis di China, mereka butuh waktu lebih lama untuk meresponpasar lokal.

"Banyak dari mereka ini yang membuat keputusan di luar China belum kembali sejak 2019," kata Tanner.

Dia menambahkan,sektor lain seperti produk kesehatan dan kecantikan, sangat sedikit merekasing yang berhasilmemenangkan pasar China.

Schaefer mengatakan perusahaan teknologi yang memasuki pasar China harus siap dengan ekosistem teknologi yang berbeda.

"Anda harus bisa melokalkan produk Anda . Sama dengan membangun produk kedua," katanya.

"Tidak bisa hanya datang dengan produk digital dari luar, lalu menerjemahkan dan meluncurkannya di China," paparnya.

Diproduksi oleh Farid Ibrahim dari artikel ABC News.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kisah di Balik Reshuffle Purbaya: Ditelepon Mensesneg Saat Rapat, Tak Kembali ke Ruang Sidang

Kisah di Balik Reshuffle Purbaya: Ditelepon Mensesneg Saat Rapat, Tak Kembali ke Ruang Sidang

News | Selasa, 15 September 2026 | 06:11 WIB

Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda Diperpanjang 3 Hari

Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda Diperpanjang 3 Hari

Foto | Selasa, 15 September 2026 | 06:00 WIB

20 Kardus dan Koper Berisi Uang Ratusan Miliar Diamankan KPK saat OTT Kasus HGB Bogor

20 Kardus dan Koper Berisi Uang Ratusan Miliar Diamankan KPK saat OTT Kasus HGB Bogor

News | Selasa, 15 September 2026 | 00:17 WIB

Titik Terang Kabar Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby, KUA: Surat Rekomendasi Sudah Masuk

Titik Terang Kabar Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby, KUA: Surat Rekomendasi Sudah Masuk

Entertainment | Selasa, 15 September 2026 | 00:04 WIB

KPK Tangkap 17 Orang saat OTT Kasus HGB Bogor! Ada Fahd A Rafiq hingga Arif Sugiyanto

KPK Tangkap 17 Orang saat OTT Kasus HGB Bogor! Ada Fahd A Rafiq hingga Arif Sugiyanto

News | Senin, 14 September 2026 | 23:56 WIB

Disulap 'Penyihir' Makassar, Toyota Alphard 2012 Ini Bisa 'Time Travel' ke Tahun 2026

Disulap 'Penyihir' Makassar, Toyota Alphard 2012 Ini Bisa 'Time Travel' ke Tahun 2026

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 23:54 WIB

Di Balik Penembakan 3 ASN di Muliama: Mengapa Konflik Bersenjata Papua Tak Kunjung Reda?

Di Balik Penembakan 3 ASN di Muliama: Mengapa Konflik Bersenjata Papua Tak Kunjung Reda?

News | Senin, 14 September 2026 | 22:51 WIB

Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor

Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor

News | Senin, 14 September 2026 | 22:08 WIB

Dugaan Pelecehan di Klub SCBD, Pengacara Korban Curiga Betrand Peto Dalam Pengaruh Zat Tertentu

Dugaan Pelecehan di Klub SCBD, Pengacara Korban Curiga Betrand Peto Dalam Pengaruh Zat Tertentu

News | Senin, 14 September 2026 | 21:38 WIB

Tak Hanya Obat, Aktivitas Kreatif Bisa Bantu Jaga Kesejahteraan Psikologis Pasien Kanker

Tak Hanya Obat, Aktivitas Kreatif Bisa Bantu Jaga Kesejahteraan Psikologis Pasien Kanker

Health | Senin, 14 September 2026 | 21:35 WIB

Terkini

Kisah di Balik Reshuffle Purbaya: Ditelepon Mensesneg Saat Rapat, Tak Kembali ke Ruang Sidang

Kisah di Balik Reshuffle Purbaya: Ditelepon Mensesneg Saat Rapat, Tak Kembali ke Ruang Sidang

News | Selasa, 15 September 2026 | 06:11 WIB

Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda Diperpanjang 3 Hari

Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda Diperpanjang 3 Hari

Foto | Selasa, 15 September 2026 | 06:00 WIB

20 Kardus dan Koper Berisi Uang Ratusan Miliar Diamankan KPK saat OTT Kasus HGB Bogor

20 Kardus dan Koper Berisi Uang Ratusan Miliar Diamankan KPK saat OTT Kasus HGB Bogor

News | Selasa, 15 September 2026 | 00:17 WIB

Titik Terang Kabar Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby, KUA: Surat Rekomendasi Sudah Masuk

Titik Terang Kabar Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby, KUA: Surat Rekomendasi Sudah Masuk

Entertainment | Selasa, 15 September 2026 | 00:04 WIB

KPK Tangkap 17 Orang saat OTT Kasus HGB Bogor! Ada Fahd A Rafiq hingga Arif Sugiyanto

KPK Tangkap 17 Orang saat OTT Kasus HGB Bogor! Ada Fahd A Rafiq hingga Arif Sugiyanto

News | Senin, 14 September 2026 | 23:56 WIB

Disulap 'Penyihir' Makassar, Toyota Alphard 2012 Ini Bisa 'Time Travel' ke Tahun 2026

Disulap 'Penyihir' Makassar, Toyota Alphard 2012 Ini Bisa 'Time Travel' ke Tahun 2026

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 23:54 WIB

Kepala BPN Kabupaten Bogor Diamankan KPK dalam OTT, 17 Orang Diperiksa

Kepala BPN Kabupaten Bogor Diamankan KPK dalam OTT, 17 Orang Diperiksa

Jabar | Senin, 14 September 2026 | 23:42 WIB

Di Balik Penembakan 3 ASN di Muliama: Mengapa Konflik Bersenjata Papua Tak Kunjung Reda?

Di Balik Penembakan 3 ASN di Muliama: Mengapa Konflik Bersenjata Papua Tak Kunjung Reda?

News | Senin, 14 September 2026 | 22:51 WIB

Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor

Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor

News | Senin, 14 September 2026 | 22:08 WIB

KPK Konfirmasi Penindakan Senyap, Pihak Kantor Pertanahan Terjaring OTT

KPK Konfirmasi Penindakan Senyap, Pihak Kantor Pertanahan Terjaring OTT

Bogor | Senin, 14 September 2026 | 22:05 WIB

×