Suara.com - Sean Turnell, seorang profesor ekonomi asal Australia, dijatuhi hukuman tiga tahun penjara di Myanmar karena dianggap sudah melanggar undang-undang kerahasiaan negara di Myanmar.
Pria asal Sydney tersebut sebelumnya bekerja di Myanmar sebagai penasehat untuk Aung San Suu Kyi saat berkuasa, kemudian ditahan di bulan Februari 2021 ketika kudeta militer terjadi.
Dia selalu membantah tuduhan yang dijatuhkan terhadapnya.
Pengadilan terhadap Sean Turnell dilakukan secara rahasia di pengadilan militer di ibu kota Naypyidaw.
Pejabat konsuler Australia dan media dilarang untuk mengikuti persidangan, sementara pengacaranya juga dilarang untuk berbicara mengenai persidangan kepada publik.
Aung San Suu Kyi dijatuhi hukuman penjara selama tiga tahun dengan tuduhan yang sama, yakni melanggar undang-undang kerahasiaan negara. Ia juga sudah dijatuhi hukuman17 tahun penjara untuk pelanggaran lainnya.
Sebelum keputusan pengadilan, sebuah sumber yang dekat dengan pengadilan mengatakan kepada ABC jika Sean memiliki kondisi kesehatan yang bagus, baik secara fisik maupun mental selama persidangan.
Belum diketahui bagaimana tanggapannya soal dijatuhi hukuman tiga tahun penjara.
Para pengamat berulang kali menggambarkan kasus Sean sebagai salah satu dari contoh "diplomasi sandera", sesuatu yang dibantah oleh kedutaan Myanmar di Australia.
Selama berbulan-bulan ia ditahan di penjara Insein di Yangon, yang terkenal karena bereputasi buruk, sebelum dipindahkan ke ruang khusus peradilan militer, yang berada di dalam komplek penjara yang sama dengan Suu Kyi.
Elaine Pearson, direktur Human Rights Watch untuk cabang Asia menyerukan agar Sean dibebaskan segera.
"
"Penjatuhan hukuman bermotif politik terhadap warga Australia Sean Turnell adalah tindakan penyalahgunaan hukum yang kejam," katanya.
"
"Dia dinyatakan bersalah dalam pengadilan tertutup tanpa akses bagi bantuan hukum sama sekali."
Kumpulan Kuis Menarik
Komentar
Terkait
Bertambah, Total Hukuman Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi Kini Jadi 33 Tahun Penjara
Your Say | Jum'at, 30 Desember 2022 | 15:58 WIB
ASEAN Serukan Penghentian Pertempuran di Myanmar
News | Rabu, 26 Oktober 2022 | 18:27 WIB
Rangkaian Vonis Penjara Pengadilan Militer Myanmar
News | Jum'at, 30 September 2022 | 09:20 WIB
Junta Myanmar Pindahkan Sidang Suu Kyi ke Penjara
News | Rabu, 22 Juni 2022 | 16:18 WIB
Terkini
Tak Jauh dari Indonesia, Negara Ini Mulai Irit BBM Hingga Nyatakan Darurat Energi
News | Rabu, 25 Maret 2026 | 10:41 WIB
2000 Tentara AS Dikirim Donald Trump ke Timur Tengah, Bersiap Masuki Iran
News | Rabu, 25 Maret 2026 | 10:33 WIB
Penjelasan Shell terkait Stok BBM yang Masih Kosong di Seluruh SPBU
News | Rabu, 25 Maret 2026 | 10:25 WIB
Serangan Balik, Iran Hujan Rudal Israel Hingga 12 Orang Tewas
News | Rabu, 25 Maret 2026 | 10:24 WIB
Tak Sekadar Halalbihalal di Rumah SBY, Puri Cikeas jadi Saksi Cinta Lama Anies-AHY Bersemu Kembali?
News | Rabu, 25 Maret 2026 | 10:15 WIB
Iran Makin Terdesak, Negara Teluk Mulai Izinkan Militer Amerika Serikat Gunakan Pangkalan Udara
News | Rabu, 25 Maret 2026 | 10:13 WIB
Putra Mahkota Arab Saudi MBS Diklaim Dukung AS - Israel vs Iran Perang Terus
News | Rabu, 25 Maret 2026 | 09:59 WIB
BBM Stabil Tapi WFH Digalakkan? Pakar UGM Minta Pemerintah Jujur Soal Kebijakan Kontroversial Ini
News | Rabu, 25 Maret 2026 | 09:52 WIB
Media Arab Telanjangi Kasus Mohammad Bagher Ghalibaf: Berkali-kali Gagal Jadi Presiden Iran
News | Rabu, 25 Maret 2026 | 09:41 WIB