Soroti Kematian Anak dan Warga Sipil di Dogiyai, Mahasiswa Papua Ajukan 19 Tuntutan ke Pemerintah

Bella

Senin, 11 Mei 2026 | 19:33 WIB
Soroti Kematian Anak dan Warga Sipil di Dogiyai, Mahasiswa Papua Ajukan 19 Tuntutan ke Pemerintah
Pembacaan 19 poin tuntutan oleh Koordinator Lapangan, Oktowimelek Gobay, di depan Kantor Kementerian HAM, Jakarta. [Suara.com/Dinda]
baca 10 detik
  • Aliansi mahasiswa SRP-IPMADO menggelar aksi di depan Kantor Kementerian HAM pada 11 Mei 2026 menuntut pertanggungjawaban hukum.
  • Massa menuntut transparansi atas kematian lima warga sipil serta anak-anak akibat tindak kekerasan militer di Kabupaten Dogiyai, Papua.
  • Demonstran menyampaikan 19 tuntutan, termasuk penarikan seluruh aparat militer serta penghentian proyek strategis nasional di wilayah Tanah Papua.

Suara.com - Gelombang protes terkait situasi keamanan di Tanah Papua kembali memuncak. Aliansi mahasiswa yang tergabung dalam SRP-IPMADO Se-Jawa Bali menggelar aksi massa di depan Kantor Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM), menuntut pertanggungjawaban atas rentetan kekerasan yang menewaskan warga sipil, termasuk anak-anak di Kabupaten Dogiyai.

Dalam orasi yang berlangsung emosional, orator aksi menegaskan bahwa kehadiran militer di Bumi Cendrawasih bukan membawa kesejahteraan, melainkan ancaman bagi nyawa orang asli Papua (OAP).

“Bagaimana militer yang datang ke tanah Papua adalah pembunuh kita semua, masyarakat Papua. Dengan dalih kesejahteraan, keadilan, dan lain-lain sebagainya, mereka merampas harta kita, merampas kekayaan kita, lalu menuduh kita sebagai kelompok separatis," teriak salah satu orator di atas mobil komando, Senin (11/5/2026).

Fokus utama aksi ini adalah menuntut transparansi hukum atas tewasnya lima warga sipil di Dogiyai. Dalam pernyataan sikapnya, massa menyoroti gugurnya remaja dan anak di bawah umur yang dianggap sebagai kelompok rentan.

"Mendesak pertanggungjawaban hukum yang transparan atas meninggalnya lima orang warga sipil termasuk remaja berusia 19 tahun seperti Septianus ST, Tibakoto, Angki Ngadowai, dan Ferdinand Auwe di Kabupaten Dogiyai," ujar Oktowimelek Gobay membacakan poin pernyataan sikap di depan Kantor Kementerian HAM, Senin (11/5/2026).

Mereka juga mengutuk keras penembakan terhadap Martinus Yobee, seorang anak berusia 11 tahun, serta Michael Waine (11) dan seorang lansia, Mama Yulita Pigai (70), yang tewas di tempat.

19 Tuntutan: Dari Tarik Militer Hingga Tolak PSN

Tak hanya soal kekerasan fisik, massa juga menyoroti ancaman “genosida perlahan” melalui proyek-proyek investasi skala besar. Dalam dokumen tertulisnya, mereka menyebut Papua sedang mengalami ekosida dan etnosida akibat hutan yang dirusak oleh tambang dan Proyek Strategis Nasional (PSN).

Setidaknya ada 19 poin tuntutan yang dibawa, di antaranya:

  1. Menarik militer organik dan non-organik dari seluruh Tanah Papua.
  2. Menghentikan operasi militer di Puncak Jaya dan Mimika.
  3. Menutup perusahaan asing seperti PT Freeport Indonesia dan BP LNG Tangguh.
  4. Menghentikan proyek PSN di seluruh Indonesia, termasuk Merauke.
  5. Memberikan hak penentuan nasib sendiri (self-determination) bagi bangsa Papua.

"Hidup rakyat yang dikorbankan! Hidup bangsa Papua! Hidup kawan-kawan Indonesia yang melawan!" seru massa sembari mengepalkan tangan kiri ke udara.

baca juga

Desakan kepada Komnas HAM

Massa juga menuntut Komnas HAM RI untuk segera mengungkap fakta jujur mengenai pembunuhan aparat yang kerap dijadikan dalih untuk melakukan “Operasi Balas Dendam” atau operasi represif terhadap warga sipil yang tidak bersalah.

Aksi yang berlangsung di bawah pengawalan ketat aparat keamanan ini ditutup dengan pekikan tegas mengenai status politik Papua.

"Papua? MERDEKA! Papua? MERDEKA!” tutup mereka sebelum membubarkan diri.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Kementerian HAM maupun perwakilan pemerintah belum memberikan tanggapan resmi terkait 19 poin tuntutan yang diajukan oleh massa SRP-IPMADO Se-Jawa Bali tersebut.

Reporter: Dinda Pramesti K

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Andrie Yunus Tolak Hadiri Sidang Kasus Penyiraman Air Keras

Andrie Yunus Tolak Hadiri Sidang Kasus Penyiraman Air Keras

Foto | Senin, 11 Mei 2026 | 18:29 WIB

Musamus, Arsitektur Alam Papua yang Terancam Ekspansi Proyek Besar

Musamus, Arsitektur Alam Papua yang Terancam Ekspansi Proyek Besar

Lifestyle | Senin, 11 Mei 2026 | 17:37 WIB

Andrie Yunus Tolak Bersaksi di Sidang Militer, KontraS: Kasus Air Keras Itu Pidana Umum!

Andrie Yunus Tolak Bersaksi di Sidang Militer, KontraS: Kasus Air Keras Itu Pidana Umum!

News | Senin, 11 Mei 2026 | 15:52 WIB

KontraS Kritik Hakim Pengadilan Militer yang Ancam Pidanakan Saksi Korban Andrie Yunus

KontraS Kritik Hakim Pengadilan Militer yang Ancam Pidanakan Saksi Korban Andrie Yunus

News | Senin, 11 Mei 2026 | 15:47 WIB

Yusril Ingatkan Hakim Militer di Kasus Andrie Yunus: Jangan Sekadar Formalitas

Yusril Ingatkan Hakim Militer di Kasus Andrie Yunus: Jangan Sekadar Formalitas

News | Senin, 11 Mei 2026 | 13:52 WIB

Menko Yusril Warning Sidang Penyiraman Air Keras Andrie Yunus: Jangan Sekadar Jadi Formalitas

Menko Yusril Warning Sidang Penyiraman Air Keras Andrie Yunus: Jangan Sekadar Jadi Formalitas

News | Senin, 11 Mei 2026 | 13:26 WIB

Riset Soroti Dampak Krisis Iklim terhadap Ketahanan Pangan di NTT dan Flores

Riset Soroti Dampak Krisis Iklim terhadap Ketahanan Pangan di NTT dan Flores

News | Senin, 11 Mei 2026 | 13:15 WIB

Front Anti Militerisme Gelar Aksi di Kementerian HAM, Soroti Konflik dan Kekerasan di Papua

Front Anti Militerisme Gelar Aksi di Kementerian HAM, Soroti Konflik dan Kekerasan di Papua

News | Senin, 11 Mei 2026 | 12:17 WIB

Bocah Perempuan Tewas Ditembak, TNI Buru OPM Pimpinan Guspi Waker di Tembagapura

Bocah Perempuan Tewas Ditembak, TNI Buru OPM Pimpinan Guspi Waker di Tembagapura

News | Minggu, 10 Mei 2026 | 07:41 WIB

Bia dan Kapak Batu: Kisah Inspiratif Perempuan Papua di Tengah Arus Zaman

Bia dan Kapak Batu: Kisah Inspiratif Perempuan Papua di Tengah Arus Zaman

Your Say | Sabtu, 09 Mei 2026 | 20:05 WIB

Terkini

PAM Jaya Siapkan Ribuan Toren Gratis, Warga Jakarta Diminta Tak Tunggu Kemarau Datang

PAM Jaya Siapkan Ribuan Toren Gratis, Warga Jakarta Diminta Tak Tunggu Kemarau Datang

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 22:08 WIB

Kerry Dibebani Rp13,4 Triliun, Pengacara Sebut Hakim Pakai Analisis LSM yang Tak Berwenang

Kerry Dibebani Rp13,4 Triliun, Pengacara Sebut Hakim Pakai Analisis LSM yang Tak Berwenang

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 21:58 WIB

Putusan Banding Dianggap Janggal, Kerry Riza Ajukan Kasasi ke MA

Putusan Banding Dianggap Janggal, Kerry Riza Ajukan Kasasi ke MA

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 21:53 WIB

Kepercayaan Polri Tembus 82,4 Persen, Habiburokhman: Jangan Puas Diri, Terus Berbenah

Kepercayaan Polri Tembus 82,4 Persen, Habiburokhman: Jangan Puas Diri, Terus Berbenah

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 21:26 WIB

Prabowo Tanya Akademisi: Kenapa 81 Tahun RI Tidak Bisa Bikin Mobil Buatan Sendiri?

Prabowo Tanya Akademisi: Kenapa 81 Tahun RI Tidak Bisa Bikin Mobil Buatan Sendiri?

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 21:12 WIB

Sikat Parkir Liar di Cawang, 250 Personel Gabungan Derek Mobil yang Nekat Bandel!

Sikat Parkir Liar di Cawang, 250 Personel Gabungan Derek Mobil yang Nekat Bandel!

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 21:12 WIB

Perempuan Didorong Jadi Aktor Utama Ekonomi Restoratif, Tak Lagi Sekadar Penerima Manfaat

Perempuan Didorong Jadi Aktor Utama Ekonomi Restoratif, Tak Lagi Sekadar Penerima Manfaat

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 20:50 WIB

Terkuak! Ini Pemicu Longsor Petamburan: Dari Abrasi Kali BKB hingga Bangunan di Sempadan

Terkuak! Ini Pemicu Longsor Petamburan: Dari Abrasi Kali BKB hingga Bangunan di Sempadan

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 20:16 WIB

Sekjen Partai Buruh Ferri Nuzarli Mundur! 1,3 Juta Anggota ORI Kompak Tinggalkan Partai

Sekjen Partai Buruh Ferri Nuzarli Mundur! 1,3 Juta Anggota ORI Kompak Tinggalkan Partai

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 20:13 WIB

Prabowo Singgung Kegaduhan Usai Pemilu, Istana Langsung Klarifikasi

Prabowo Singgung Kegaduhan Usai Pemilu, Istana Langsung Klarifikasi

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 20:05 WIB

×