Namun saat ngobrol degan pria yang baru dikenalnya itu, Bima tak pernah merasa bosan. Bima justru mulai memiliki ketertarikan dengan obrolan tentang teologi.
“Orang itu ngasih masukannya pelan, gak merintah. Jadi kami kayak ngobrol sama teman aja.”
Perlahan tapi pasti. Bima mulai menjalankan salat, meski tidak lima waktu. Kebiasaan minum-minuman beralkohol mulai ia tinggalkan. Bima belajar menjadi sosok lebih baik, minimal untuk dirinya sendiri.
Halang rintang hijrah
Hijrah ke jalan yang lebih baik tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Banyak halangan dan rintangan yang harus dilewati. Namun semua bisa dilalui, kembali lagi karena ada niat.
"Innamal a'malu binniyat. Wa innama likullimri'in maa nawaaa. Artinya segala sesuatu tergantung dari niat dan setiap orang akan mendapat apa yang diniatkannya,” ujar Bima.
Bima sering mendapatkan tatapan sinis ketika melangkah ke dalam masjid. Hampir separuh wajahnya ditato menjadi stigma negatif bagi hampir sebagian orang di sana.
Ia bahkan pernah dilarang saat hendak memanggunakan kamar mandi musala untuk mensucikan diri sebelum salat.
![Sejumlah anak Punk yang tergabung dalam Seniman Terminal (Senter) melakukan kegiatan ngaji bersama di Kampung Lio, Depok, Rabu (15/5). [Suara.com/Arief Hermawan P]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2019/05/16/29859-anak-punk-mengaji.jpg)
“Kadang masjid atau musala yang merupakan tempat bernaung untuk hamba Allah, malah di sana kami gak diterima. Mending pom bensin atau mini market,” ucap dia.
Namun hal itu tidak membuat Bima patah arang dalam menunaikan ibadah. Ia tetap giat salat berjemaah di setiap masjid yang ia singgahi tiap kota.
"Udah biasa gue kalau mereka kayak gitu. Yang penting niat kita buat ibadah. Lagian juga surga bukan punya bapak moyangnya," katanya.
Bagi Bima setiap manusia terlahir suci, semua bagi terlahir dengan kebaikan. Namun perjalanan hidup bisa membuatnya keliru dan terjerembat dalam lubang hitam.
Meski demikian, selalu ada cara untuk pulang atau kembali ke jalan kebaikan,seburuk apapun perbuatan yang pernah dilakukan.
Sebagai muslim, Bima ingin meninggal nanti dalam keadaan muslim meski telah banyak melakukan kesalahan.
"Hijrah buat saya mungkin sebuah jalan untuk pulang."
Dakwah lewat musik
Sebagai orang yang biasa hidup di jalanan, musik jadi sumber penghidupan Bima. Sehari-hari ia mengamen untuk menyambung hidup.
Setelah berhijrahpun, Bima masih kerab bermain musik. Terlebih saat ia tergabung dalam komunitas Tasawuf Underground.
Saat itu Bima sempat membuat sebuah band yang dinamainya Fly Over. Mengingat pusat kegiatan Tasawuf Underground berada di bawah kolong jembatan layang Tebet.
“Kami udah pernah main di (program TV) Hitam Putih dulu.”
Dalam penampilannya, band Fly Over memainkan musik-musik religi. Mungkin bagi sebagian orang merasa aneh melihat sekelompok orang bertato dan berpenampilan punk namun memainkan musik religi. Namun itu fase perubahan seorang yang menuju jalan kebaikan.
“Mungkin itu cara saya dan kawan-kawan lainnya untuk berdakwah.”
Sosiolog Agama Universitas Negeri Jakarta, Abdi Rahmat menilai maraknya fenomena punk hijrah tidak terlepas dari gejala meningkatnya gairah keberagamaan dan keberislaman masyarakat di Indonesia dalam dua dekade terakhir. Khususnya dalam lima sampai sepuluh tahun terakhir.
Masifnya penyebaran dakwah lewat sosial media seperti facebook, Instagram, twitter, youtube, dan twitter membuat dakwah lebih mudah ditangkap oleh banyak lapisan.
“Komunitas punk adalah anggota masyarakat yang juga sangat dekat dengan penggunaan media sosial tersebut,” kata Rahmat.
Anak punk itu bisa saja secara tidak sengaja menjadi penonton setia dakwah, karena memiliki ketertarikan dengan penyampaian para dai.
![Sejumlah anak Punk yang tergabung dalam Seniman Terminal (Senter) melakukan kegiatan ngaji bersama di Kampung Lio, Depok, Rabu (15/5). [Suara.com/Arief Hermawan P]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2019/05/16/44279-anak-punk-mengaji.jpg)
“Respon dari anggota punk yang hijrah bisa dijelaskan sebagai respon terhadap makna baru dalam beragama yang mungkin saja selama ini hilang atau tidak lagi mereka rasakan,” jelasnya.
“Pencarian dan penemuan makna beragama secara teori searching for meaning and belonging dalam beragama mendorong mereka untuk berhijrah,” lanjutnya.
Hanya saja, kata Rahmat, banyak dari anak punk yang hijrah belum dapat menghapus tatto mereka. Sehingga masih ada stigma negatif yang melekat bagi anak-anak punk.
“Karena tato di masyarakat kita masih dipandang sebagai perilaku menyimpang. Tapi lambat laun seiring masyarakat mengenal mereka lebih jauh, tentu mereka juga harus menampilkan perubahan perilaku yang semakin Islami, maka stigma masyarakat kepada mereka lambat laun akan hilang juga.”