"Kakak perempuan, Afrina," sahut Fify.
Lebih lanjut, dia mengatakan uang yang dipinjam olehnya dicicil kepada kakak perempuannya melalui tunai maupun transfer.
Fify kemudian mengaku keberatan lantaran adanya plang 'disita' KPK di depan rumah tersebut. Sebab, kata dia, rumah itu dibeli langsung olehnya.
"Jadi, sebenarnya waktu saya pinjam itu internal kami saudar, tapi begitu tidak sengaja, bapak saya sakit, jadi saya gak rutin singgah di rumah Sedayu, sampai lah saya lihat dipasang plang," ujar Fify.
"Di plang itu lah yang saya nggak langsung lapor cuman saya bingung ini kenapa, dibilang saya sudah keberatan itu disita, saya sudah jelaskan waktu saya diperiksa, tapi tetap dipasangi plang," lanjut dia.
Sebelumnya, jaksa menyebut Gazalba melunasi cicilan rumah mewah teman dekatnya, Fify setelah menerima uang dari berbagai sumber.
"Pada tahun 2019 bertempat di Sedayu City at Kelapa Gading Cluster Eropa Abbey Road 3 No. 039 Cakung, Jakarta Timur, terdakwa bersama-sama dengan Fify Mulyani yang merupakan teman dekat terdakwa membeli satu unit rumah dengan harga Rp 3.891.000.000 (Rp 3,8 miliar)," ucap jaksa dalam dakwaannya.
Diketahui, Gazalba didakwa menerima gratifikasi secara bersama-sama senilai Rp 650 juta. Dia diduga menerima uang itu terkait perkara kasasi Nomor 3679 K/PID.SUS-LH/2022 di Mahkamah Agung.
Dia diduga menerima uang dari Jawahirul Fuad yang mengalami permasalahan hukum terkait pengelolaan limbah B3 tanpa izin dan diputus bersalah dengan vonis 1 tahun penjara.
Dalam dakwaan jaksa, Gazalba juga disebut menerima Rp 37 miliar saat menangani peninjauan kembali yang diajukan oleh Jaffar Abdul Gaffar pada 2020.
Selain itu, dia juga disebut mendapatkan penerimaan lain, yakni SGD 1.128.000, USD 181.100 dan Rp 9,4 miliar pada 2020 hingga 2022.
Tak hanya itu, Gazalba juga didakwa melakukan TPPU dengan membelanjakannya menjadi sejumlah aset seperti mobil Alphard, menukar ke valuta asing, membeli tanah/bangunan di Jakarta Selatan, membeli emas hingga melunasi KPR teman dekat. Total TPPU-nya sekitar Rp 24 miliar.