Suara.com - Konfrontasi panas antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Ruang Oval memicu kegembiraan di Rusia, di mana pemimpin Ukraina itu dicemooh dan dianggap telah menerima tamparan keras.
Trump secara terbuka mengecam Zelenskyy sebagai pemimpin yang tidak sopan dan menudingnya mempertaruhkan Perang Dunia III. Ketegangan itu mencapai puncaknya ketika Trump, didampingi Wakil Presiden JD Vance, menolak menandatangani kesepakatan terkait sumber daya mineral yang seharusnya mempererat hubungan antara Washington dan Kyiv.
Setelah pertemuan yang berlangsung hampir 45 menit, Zelenskyy diminta keluar dari Gedung Putih oleh para penasihat utama pemerintahan Trump. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kemudian membela Trump, dengan menyatakan bahwa publik hanya melihat akhir pertemuan tanpa mengetahui semua hal yang menyebabkan ini terjadi.
"Kalian hanya melihat akhir, kalian tidak melihat semua hal yang menyebabkan ini." ucapnya.
Di Moskow, konfrontasi ini menjadi sorotan utama. Kirill A. Dmitriev, Utusan Khusus Presiden Rusia untuk investasi dan kerja sama ekonomi, mengunggah komentar pedas di platform X.
"Babi kurang ajar itu akhirnya mendapat tamparan keras di Ruang Oval. Dan @realDonaldTrump benar: Rezim Kyiv berjudi dengan Perang Dunia III," tulisnya.
Sementara itu, beberapa pejabat Rusia menyambut ketegangan ini sebagai bukti melemahnya hubungan antara Ukraina dan AS. Kremlin telah lama mengkritik bantuan besar yang diberikan Washington kepada Kyiv, dan ketegangan terbaru ini dinilai sebagai tanda bahwa dukungan AS terhadap Ukraina mulai goyah.
Selama pertemuan di Gedung Putih, Trump berulang kali menekan Zelenskyy mengenai kesediaannya untuk bernegosiasi dengan Rusia. Vance juga menuding pemimpin Ukraina itu sebagai sosok yang terus-menerus mengadakan "tur propaganda" untuk mengamankan dana dan senjata dalam perang melawan Rusia.
"Anda membawa mereka dalam tur propaganda," sindir Vance.
Namun, Zelenskyy tak tinggal diam. Ia menantang balik dengan bertanya, "Apakah Anda pernah ke Ukraina?" Ketika Vance tidak menjawab, Zelenskyy melanjutkan, "Apakah Anda sudah melihat masalah yang kita hadapi? Datanglah sekali saja... Semua orang punya masalah, termasuk Anda. Namun, Anda memiliki lautan yang indah dan tidak merasakannya sekarang. Namun, Anda akan merasakannya di masa mendatang."
Konfrontasi semakin panas ketika Trump mengkritik pilihan busana Zelenskyy yang selalu mengenakan pakaian serba hitam, memperlihatkan ketegangan yang lebih dari sekadar perdebatan kebijakan.
Setelah pertemuan, Rubio kembali menegaskan bahwa Trump hanya ingin menyelesaikan konflik antara Rusia dan Ukraina.
"Presiden sudah sangat jelas tentang ini, dia berkampanye tentang ini. Dia pikir perang ini seharusnya tidak pernah terjadi dan saya setuju bahwa jika dia menjadi presiden, hal itu tidak akan pernah terjadi," kata Rubio.
Lebih lanjut, Rubio menegaskan bahwa Zelenskyy telah salah langkah dengan menantang Trump sebelum pertemuan, terutama setelah Trump menyebutnya sebagai "diktator" dan menuding Ukraina sebagai pihak yang memulai perang.
"Jangan datang ke sini dan menguliahi kami tentang bagaimana diplomasi tidak akan berhasil. Zelenskyy mengambil langkah itu dan hasilnya bisa ditebak," tambahnya.