Waspada Pencemaran Sungai, Ancaman Bahan Kimia Abadi Mengintai Sumber Air Indonesia

M. Reza Sulaiman

Kamis, 29 Mei 2025 | 20:01 WIB
Waspada Pencemaran Sungai, Ancaman Bahan Kimia Abadi Mengintai Sumber Air Indonesia
Ilustrasi pencemaran sungai - polusi air. (Photo by Yogendra Singh/Pexels)

Namun, keunggulan ini justru menjadi bumerang: ikatan karbon-fluorin yang menyusun PFAS sangat kuat, sehingga membuatnya nyaris tidak bisa terurai oleh proses alami.

PFAS dapat masuk ke dalam sistem air melalui berbagai jalur, seperti limbah industri, rembesan dari tempat pembuangan sampah, hingga penggunaan produk yang mengandung senyawa ini.

Ketika masuk ke lingkungan, PFAS tidak hanya mencemari air, tapi juga terakumulasi dalam tubuh manusia dan hewan, memicu berbagai gangguan kesehatan serius.

Sejumlah penelitian mengaitkan paparan PFAS dengan gangguan hormon, masalah kesuburan, penurunan fungsi kekebalan tubuh, dan risiko kanker.

Indonesia: Rentan Namun Belum Siap

Seiring meningkatnya perhatian global terhadap PFAS, sejumlah penelitian lokal juga mulai mengungkap kehadiran senyawa ini di Indonesia.

Studi yang dilakukan Nexus3 Foundation dan IPEN menemukan PFAS dalam produk konsumen seperti pakaian sintetis dan kemasan makanan yang beredar di pasaran. Lebih dari 60% sampel yang diuji menunjukkan kadar PFAS yang melampaui batas aman yang diusulkan Uni Eropa.

Ironisnya, meski ancaman sudah nyata, Indonesia belum memiliki kerangka regulasi khusus untuk PFAS. Tidak adanya standar nasional untuk mengukur, membatasi, atau mengelola keberadaan PFAS membuat negara ini sangat rentan terhadap risiko jangka panjang.

Tanpa regulasi yang tegas, industri tidak memiliki dorongan kuat untuk menghentikan penggunaan senyawa ini, dan masyarakat pun tidak mendapatkan perlindungan yang memadai.

baca juga

Dari Regulasi ke Transformasi Produk

Menghadapi ancaman PFAS tidak cukup dengan solusi teknis pada akhir rantai, seperti sistem penyaringan atau pengolahan limbah.

Diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh, mulai dari perombakan desain produk, pelarangan penggunaan bahan kimia berbahaya, hingga edukasi konsumen agar lebih kritis terhadap isi produk yang mereka gunakan.

Sejumlah negara telah memulai langkah-langkah ini. Uni Eropa, misalnya, tengah mendorong pelarangan penggunaan PFAS dalam berbagai sektor. Amerika Serikat juga mulai menerapkan batas maksimum PFAS dalam air minum.

Indonesia dapat belajar dari praktik-praktik ini untuk merancang kebijakan yang tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga menjaga kesehatan masyarakat jangka panjang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Udara Bersih Kini Langka dan Tak Lagi Gratis di Tengah Asap Polusi

Udara Bersih Kini Langka dan Tak Lagi Gratis di Tengah Asap Polusi

Health | Rabu, 28 Mei 2025 | 17:02 WIB

Sanksi Sosial Bagi Warga yang Belum Uji Emisi: Efektifkah untuk Mengubah Perilaku?

Sanksi Sosial Bagi Warga yang Belum Uji Emisi: Efektifkah untuk Mengubah Perilaku?

News | Rabu, 28 Mei 2025 | 15:14 WIB

Menakar Insentif Untuk Mobil Listrik Pabrikan Dalam Negeri, Seberapa Efektif Kurangi Polusi Udara?

Menakar Insentif Untuk Mobil Listrik Pabrikan Dalam Negeri, Seberapa Efektif Kurangi Polusi Udara?

News | Rabu, 28 Mei 2025 | 08:28 WIB

Terkini

Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina

Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:13 WIB

Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?

Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:10 WIB

GPCI Siap Kawal MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

GPCI Siap Kawal MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:10 WIB

OJK Siapkan 8 Jurus Reformasi Pasar Modal, Free Float IPO Minimal 15%

OJK Siapkan 8 Jurus Reformasi Pasar Modal, Free Float IPO Minimal 15%

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:10 WIB

Beda Skin Tint dan BB Tint, Mana yang Lebih Cocok untuk Makeup Harian?

Beda Skin Tint dan BB Tint, Mana yang Lebih Cocok untuk Makeup Harian?

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:05 WIB

Coach Justin Nilai AXIS Nation Cup Buka Jalan Talenta Muda ke Level Profesional

Coach Justin Nilai AXIS Nation Cup Buka Jalan Talenta Muda ke Level Profesional

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:01 WIB

Hasto Bongkar Konsep MBG Alternatif PDIP, Sentil Program yang Terlalu Sentralistik

Hasto Bongkar Konsep MBG Alternatif PDIP, Sentil Program yang Terlalu Sentralistik

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:00 WIB

Ekonomi Vietnam Bakal jadi Raja di ASEAN, Indonesia Terancam Turun Kasta

Ekonomi Vietnam Bakal jadi Raja di ASEAN, Indonesia Terancam Turun Kasta

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:00 WIB

Injak Kepala Teman hingga Tewas, Pelarian Buronan Pringsewu Kandas di Tangan Tekab 308

Injak Kepala Teman hingga Tewas, Pelarian Buronan Pringsewu Kandas di Tangan Tekab 308

Lampung | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:58 WIB

Gratis! Grand Final AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan 16 Tim dan Deretan Artis

Gratis! Grand Final AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan 16 Tim dan Deretan Artis

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:53 WIB

×