Saat terhempas, kepala dan bagian tubuh Juliana kemudian terbentur dengan bebatuan yang keras.
Benturan keras tersebut yang kemudian mengakibatkan Juliana akhirnya meninggal. Berdasarkan hasil autopsy oleh tim kedokteran forensic, Juliana mengalami kerusakan organ yang parah akibat benturan.
Juliana Marins mengalami patah tulang dibagian dada, tulang belakang, punggung dan tulang paha.
Luka paling parah dapat dilihat dari bagian belakang atau punggung.
Maka dari itu kecil kemungkinan Juliana Marins sempat bertahan hidup setelah terjatuh dan mengalami benturan hebat.
Pihak Keluarga Tidak Terima
Ayah Juliana Marins, Manoel Marins angkat bicara mengenai dugaan kelalaian dalam insiden yang menimpa putrinya.
Dalam wawancara eksklusif dengan program Fantastico TV Globo yang tayang Minggu (29/6/25), Manoel menuding pemandu wisata telah meninggalkan Juliana sendirian untuk merokok saat putrinya dalam kondisi kelelahan.
Selain menyayangkan kelalaian pemandu, Manoel juga menyoroti lambatnya respons dari pihak pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani.
Menurut Manoel, tim pertolongan pertama baru dihubungi sekitar pukul 08.30, dan baru tiba di Lokasi sekitar pukul 14.00 siang.
“Peralatan satu-satunya yang mereka bawa hanya seutas tali. Mereka melemparnya ke arah Juliana. Dalam kondisi panik, si pemandu lalu mengikat tali ke pinggangnya dan mencoba turun tanpa alat pengaman,” tutur Manoel.
Menurut pihak keluarga, Tim Basarnas Indonesia baru dikerahkan dan tiba di Lokasi sekitar pukul 19.00 malam.
Jenazah Juliana baru ditemukan dua hari setelah insiden.
Hasil autopsi yang diumumkan Jumat lalu menyatakan bahwa Juliana meninggal karena pendarahan internal akibat cedera di bagian dada.
Diperkirakan kematian terjadi 12 hingga 24 jam sebelum jenazah berhasil dievakuasi pada Rabu Pagi.