'Perang Bubat' Jokowi vs Rakyat? Polemik Ijazah Palsu Memanas, Daftar Terlapor Membengkak

Muhammad Ilham Baktora

Rabu, 16 Juli 2025 | 13:45 WIB
'Perang Bubat' Jokowi vs Rakyat? Polemik Ijazah Palsu Memanas, Daftar Terlapor Membengkak
Kolase Ahmad Khozinudin dan Freddy Damanik soal pernyataan Jokowi merasa langkah politiknya di-downgrade. (YouTube)

Suara.com - Suhu politik nasional kembali memanas. Isu lama yang kembali mencuat ke permukaan, yakni keaslian ijazah Presiden Joko Widodo (Jokowi), kini memasuki babak baru yang lebih sengit.

Alih-alih mereda, polemik ini justru meluas dan digambarkan sebagai "perang bubat" antara Jokowi dengan rakyatnya sendiri yang mempertanyakan keabsahan dokumen tersebut.

Narasi "perang" ini mengemuka dalam perdebatan sengit antara Ahmad Khozinudin, Koordinator Tim Advokasi Anti Kriminalisasi Akademisi dan Aktivis, dengan Freddy Alex Damanik, Wakil Ketua Umum Projo.

Menurut Khozinudin, langkah hukum yang diambil Jokowi dengan melaporkan sejumlah pihak justru menjadi pemicu eskalasi konflik yang tidak perlu.

Awalnya, laporan yang dilayangkan Jokowi pada 30 April 2025 hanya menargetkan empat orang.

Namun, dalam perkembangannya, daftar terlapor membengkak secara signifikan, mencakup nama-nama besar seperti mantan ketua KPK Abraham Samad, Damai Hari Lubis, hingga Rustam Effendi.

Bagi pihak Khozinudin, penambahan daftar terlapor ini mengirimkan pesan politik yang mengkhawatirkan.

"Saya bicara hukum saja begitu. Dan kalau kita bicara tentang downgrade, siapa sih yang men-downgrade? Coba ingat laporan saudara Joko Widodo 30 April 2025 lalu di Polda Metro Jaya," kata Ahmad Khozinudin dikutip dari kanal Youtube tvOneNews, Rabu (16/7/2025).

Presiden ke-7 RI, Jokowi usai menjalani pemeriksaan terkait tudingan ijazah palsu di Bareskrim Polri. (Suara.com/Faqih)
Presiden ke-7 RI, Jokowi usai menjalani pemeriksaan terkait tudingan ijazah palsu di Bareskrim Polri. (Suara.com/Faqih)

Ia menjelaskan awalnya ada empat orang yang dilaporkan, namun jumlah itu justru bertambah.

baca juga

"Tapi kemarin dua hari yang lalu kami mendapatkan SPDP, surat pemberitahuan dimulainya penyidikan, justru terlapornya makin banyak, lah!. Kami mendapat pesan dari laporan itu, oh ini saudara Jokowi mau perang bubat ini, mau perang semesta.

"Kenapa? Bukan hanya Egi Sudjana ya, ada lagi nama sampai Abraham Samad pun dijadikan terlapor, ada Damai Hari Lubis jadi terlapor, ada Rustam Effendi jadi terlapor, ada Kurnia Triyono jadi terlapor, selain Roy Suryo, Tifa, dan Rizal Fadillah. Jadi, pesan politiknya, oh ini mau perang habis-habisan tapi melawan rakyatnya sendiri," ungkap Ahmad Khozinudin.

Menurutnya, tindakan Jokowi ini secara tidak langsung justru menurunkan citranya sendiri.

Ia berpendapat, sang presiden ke-7 bisa dengan mudah mengakhiri polemik dengan menunjukkan ijazah aslinya, sebuah langkah sederhana yang akan memulihkan nama baiknya.

Namun, dengan memilih jalur hukum yang meluas, Jokowi seolah-olah menantang balik rakyat yang kritis terhadapnya.

"Siapa yang berusaha men-downgrade saudara Joko Widodo? Tindakan saudara Jokowi Widodo sendiri yang tidak mau segera dan serta-merta menyelesaikan," tegas Khozinudin.

Di sisi lain, kubu pendukung Jokowi memiliki pandangan yang berbeda 180 derajat.

Freddy Alex Damanik dari Projo menyatakan bahwa perluasan penyelidikan bukanlah inisiatif langsung dari Jokowi, melainkan merupakan pengembangan dari proses yang berjalan di kepolisian.

"Pak Jokowi tidak ada melaporkan nama-nama yang disebutkan tadi. Ini sudah masuk dalam proses penyidikan, berkembang, ada ditemukan dugaan tindak pidana di situ," bantah Freddy.

Lebih jauh, Freddy memandang bahwa langkah Jokowi adalah sebuah strategi politik yang cerdas.

Menurutnya, serangan yang datang bertubi-tubi, termasuk isu ijazah palsu, justru bisa dimanfaatkan untuk mendulang simpati publik.

Ia bahkan meragukan bahwa menunjukkan ijazah asli akan serta-merta menghentikan serangan.

"Publik saja tidak percaya kalau Pak Jokowi menunjukkan ijazah itu ini akan berhenti. Jadi itu bahkan akan dipakai lagi untuk membangun narasi-narasi berikutnya atau ketidakpercayaan-ketidakpercayaan berikutnya. Jadi kenapa Pak Jokowi harus di pengadilan? Walaupun nanti mereka tidak terima, tetapi setidaknya yang memutuskan itu lembaga yang resmi," jelas Freddy.

Bagi Projo, setiap serangan yang diarahkan ke Jokowi adalah kesempatan untuk mengelola isu menjadi keuntungan politik.

"Setiap serangan itu juga bisa berdampak positif ketika itu dimanfaatkan, tanda kutip. Pak Jokowi juga pasti sering melakukan itu," tambahnya.

Pandangan ini menyiratkan bahwa polemik ijazah palsu telah menjadi arena pertarungan narasi yang kompleks.

Satu pihak melihatnya sebagai bentuk arogansi kekuasaan yang melawan kritik rakyat, sementara pihak lain menganggapnya sebagai permainan politik tingkat tinggi di mana setiap serangan dapat diubah menjadi amunisi untuk meraih dukungan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tudingan 'Agenda Besar' Jokowi: Langkah Catur Politik Atau Panik Karena Ijazah Palsu?

Tudingan 'Agenda Besar' Jokowi: Langkah Catur Politik Atau Panik Karena Ijazah Palsu?

News | Rabu, 16 Juli 2025 | 13:15 WIB

Curhat Jokowi Merasa Didowngrade, Serangan Politik atau Momen Dongkrak Popularitasnya Jelang 2029?

Curhat Jokowi Merasa Didowngrade, Serangan Politik atau Momen Dongkrak Popularitasnya Jelang 2029?

News | Rabu, 16 Juli 2025 | 12:20 WIB

Gibran Urus Papua: Misi Pembuktian Diri atau Penguatan Dinasti Jokowi?

Gibran Urus Papua: Misi Pembuktian Diri atau Penguatan Dinasti Jokowi?

News | Rabu, 16 Juli 2025 | 12:05 WIB

Terkini

Pemerintah Didesak Perjuangkan Hak Kelola Warga atas Eks Konsesi SRL di Pulau Rangsang

Pemerintah Didesak Perjuangkan Hak Kelola Warga atas Eks Konsesi SRL di Pulau Rangsang

Riau | Minggu, 01 November 2026 | 10:33 WIB

Ulasan Novel Loversation: Belajar Menerima Diri dan Berdamai dengan Masa Lalu

Ulasan Novel Loversation: Belajar Menerima Diri dan Berdamai dengan Masa Lalu

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 10:30 WIB

Cara Menghapus Cache Aplikasi Android Tanpa Hapus Data Penting

Cara Menghapus Cache Aplikasi Android Tanpa Hapus Data Penting

Tekno | Minggu, 01 November 2026 | 10:24 WIB

Berapa Harga Tiket Masuk RANS Carnival Jogja? Viral Ditinggal Musisi hingga UMKM

Berapa Harga Tiket Masuk RANS Carnival Jogja? Viral Ditinggal Musisi hingga UMKM

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 10:16 WIB

Warisan Batik Pekalongan dalam Balutan Modern, Ini 24 Koleksi Terbaru Tieka Huza

Warisan Batik Pekalongan dalam Balutan Modern, Ini 24 Koleksi Terbaru Tieka Huza

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 10:05 WIB

Paradoks Bingar: Dunia Remaja, Bisbol, dan Pertandingan Melawan Ketakutan

Paradoks Bingar: Dunia Remaja, Bisbol, dan Pertandingan Melawan Ketakutan

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 10:00 WIB

Syamsuar Berduka atas Kepergian Arwin AS: Dia Guru dan Mentor Terbaik

Syamsuar Berduka atas Kepergian Arwin AS: Dia Guru dan Mentor Terbaik

Riau | Minggu, 01 November 2026 | 09:59 WIB

Retinoid dan Retinol Bedanya Apa? Ini Panduan Memilih yang Tepat Bagi Pemula

Retinoid dan Retinol Bedanya Apa? Ini Panduan Memilih yang Tepat Bagi Pemula

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 09:38 WIB

Eksepsi Budiono Tanbun Ditolak, Pakar Unmul Justru Soroti Daluwarsa Kasus Tambang JMB

Eksepsi Budiono Tanbun Ditolak, Pakar Unmul Justru Soroti Daluwarsa Kasus Tambang JMB

Kaltim | Minggu, 01 November 2026 | 09:37 WIB

Hadir di Deklarasi yang Diikuti Mahasiswa Bodong di HI, Raffi Ahmad Buka Suara dan Minta Maaf

Hadir di Deklarasi yang Diikuti Mahasiswa Bodong di HI, Raffi Ahmad Buka Suara dan Minta Maaf

News | Minggu, 01 November 2026 | 09:35 WIB

×