22 Persen Lahan Basah Dunia Musnah, Kerugian Global Mengintai

Denada S Putri, Rina Anggraeni

Rabu, 16 Juli 2025 | 20:50 WIB
22 Persen Lahan Basah Dunia Musnah, Kerugian Global Mengintai
Ilustrasi lahan basah dunia. [Ist]

Suara.com - Kerusakan lahan basah global bukan sekadar isu lingkungan. Dalam jangka panjang, dampaknya bisa mengguncang fondasi ekonomi dunia.

Perubahan iklim, eksploitasi lahan, hingga polusi memicu degradasi ekosistem penting ini, yang berfungsi sebagai penyokong perikanan, pertanian, hingga pengendali banjir alami.

Mengutip laporan Konvensi Lahan Basah yang dilansir BBC, dunia terancam kehilangan manfaat ekonomi hingga 39 triliun dolar AS atau sekitar Rp 635 kuadriliun pada 2050 jika kerusakan terus berlanjut.

Kerugian ini berasal dari hilangnya fungsi vital lahan basah dalam penyerapan karbon, pemurnian air, hingga penyimpanan banjir.

Sejak 1970, sekitar 22 persen lahan basah dunia telah hilang—angka yang mencakup sistem air tawar seperti gambut, sungai, dan danau, hingga ekosistem pesisir seperti hutan bakau dan terumbu karang.

Laju kehilangan ini bahkan disebut sebagai yang tercepat di antara semua ekosistem alami.

Penyebab utama kehancuran ini berasal dari perubahan penggunaan lahan, pembangunan yang tidak terkendali, polusi, perluasan pertanian, hingga dampak perubahan iklim seperti naiknya muka air laut dan kekeringan ekstrem.

"Skala kehilangan dan degradasi melampaui apa yang dapat kita abaikan," ujar Hugh Robertson, penulis utama laporan tersebut.

Laporan tersebut juga menyampaikan seruan untuk melakukan investasi tahunan antara 275 hingga 550 miliar dolar AS demi menyelamatkan sisa lahan basah dunia.

baca juga

Saat ini, dana yang tersedia disebut "sangat kurang" dibandingkan dengan skala kerusakan yang terjadi.

Sejauh ini, dunia telah kehilangan 411 juta hektare lahan basah—setara setengah miliar lapangan sepak bola.

Lebih memprihatinkan lagi, seperempat dari lahan basah yang masih ada kini tergolong dalam kondisi terdegradasi.

Padahal, selain memiliki nilai ekonomi, lahan basah juga menyimpan manfaat ekologis dan budaya.

Mereka mampu menyerap karbon dalam jumlah besar, melindungi wilayah dari badai tropis, dan menyaring air dari polutan.

Salah satu jenisnya, lahan gambut, bahkan menyimpan dua kali lipat karbon dibanding seluruh hutan di dunia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Timnas Indonesia vs UEA? Fabio Lima Ancaman Mengerikan

Timnas Indonesia vs UEA? Fabio Lima Ancaman Mengerikan

Bola | Rabu, 16 Juli 2025 | 18:50 WIB

Buat Pasangan Jay Idzes, Kenapa PSSI Tak Coba Lobi Pemain Keturunan Rp 347 Miliar untuk Ronde 4

Buat Pasangan Jay Idzes, Kenapa PSSI Tak Coba Lobi Pemain Keturunan Rp 347 Miliar untuk Ronde 4

Bola | Rabu, 16 Juli 2025 | 19:36 WIB

Pemain Keturunan Jerman 1,87 Meter Tanpa Naturalisasi Bisa Bela Timnas Indonesia di Ronde 4

Pemain Keturunan Jerman 1,87 Meter Tanpa Naturalisasi Bisa Bela Timnas Indonesia di Ronde 4

Bola | Rabu, 16 Juli 2025 | 19:12 WIB

Terkini

Pencarian 5 Jurnalis Hilang, TNI AL Identifikasi Temuan Pelampung dan Botol Plastik di Anyer

Pencarian 5 Jurnalis Hilang, TNI AL Identifikasi Temuan Pelampung dan Botol Plastik di Anyer

Banten | Kamis, 10 September 2026 | 20:19 WIB

Karhutla Siak, Tim Lakukan Pemadaman dan Pendinginan 14 Titik Api

Karhutla Siak, Tim Lakukan Pemadaman dan Pendinginan 14 Titik Api

Riau | Kamis, 10 September 2026 | 20:14 WIB

Pelampung Ditemukan di Lokasi Pencarian 5 Jurnalis, TNI: Belum Bisa Dipastikan

Pelampung Ditemukan di Lokasi Pencarian 5 Jurnalis, TNI: Belum Bisa Dipastikan

News | Kamis, 10 September 2026 | 20:14 WIB

4 Shio Beruntung 11 September 2026, Giliran Beban Lama Lepas

4 Shio Beruntung 11 September 2026, Giliran Beban Lama Lepas

Lifestyle | Kamis, 10 September 2026 | 20:10 WIB

Soroti Isu Ketahanan Pangan, Ratusan Mahasiswa Lintas Kampus Ikuti Forum Rembuk Pangan di Jogja

Soroti Isu Ketahanan Pangan, Ratusan Mahasiswa Lintas Kampus Ikuti Forum Rembuk Pangan di Jogja

Jogja | Kamis, 10 September 2026 | 20:07 WIB

BRI Telah Menyalurkan KPP Rp12 Triliun, Mayoritas Penerima Kalangan UMKM

BRI Telah Menyalurkan KPP Rp12 Triliun, Mayoritas Penerima Kalangan UMKM

Bisnis | Kamis, 10 September 2026 | 20:05 WIB

Prabowo Wacanakan Merger BMKG-Badan Geologi, DPR Usul BNPB Ikut Dilebur dalam Satu Kementerian

Prabowo Wacanakan Merger BMKG-Badan Geologi, DPR Usul BNPB Ikut Dilebur dalam Satu Kementerian

News | Kamis, 10 September 2026 | 20:00 WIB

Perkuat Layanan Diaspora, BRImo Taiwan Raih Anugerah Inovasi Indonesia 2026

Perkuat Layanan Diaspora, BRImo Taiwan Raih Anugerah Inovasi Indonesia 2026

Jogja | Kamis, 10 September 2026 | 20:00 WIB

Review Film Mayday: Laga Spionase Seru Berbalut Komedi yang Menghibur!

Review Film Mayday: Laga Spionase Seru Berbalut Komedi yang Menghibur!

Your Say | Kamis, 10 September 2026 | 20:00 WIB

BRImo Taiwan Menang Anugerah Inovasi Indonesia 2026, Layani Kebutuhan Finansial Diaspora

BRImo Taiwan Menang Anugerah Inovasi Indonesia 2026, Layani Kebutuhan Finansial Diaspora

Jawa Tengah | Kamis, 10 September 2026 | 19:57 WIB

×