Kasus Diplomat Terlilit Lakban: Ahli Duga Ada Hal 'Memalukan' yang Disembunyikan Polisi?

Wakos Reza Gautama

Kamis, 24 Juli 2025 | 14:25 WIB
Kasus Diplomat Terlilit Lakban: Ahli Duga Ada Hal 'Memalukan' yang Disembunyikan Polisi?
Ilustrasi Kriminolog UI Adrianus Meliala. Adrianus bicara tentang kemungkinan motif kasus kematian diplomat Arya Daru Pangayunan. [suara.com/Nikolaus Tolen]

Suara.com - Misteri yang menyelimuti kematian diplomat Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pangayunan, memasuki babak krusial.

Di tengah penantian publik, Kriminolog Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, melontarkan analisis mengejutkan.

Menurutnya, lambatnya pengumuman hasil penyelidikan oleh polisi bukanlah karena kekurangan bukti, melainkan karena kemungkinan besar mereka sudah menemukan kebenaran—sebuah kebenaran yang sulit untuk diungkapkan.

Adrianus beranggapan bahwa pada titik ini, penyidik Polda Metro Jaya sudah memiliki gambaran yang sangat jelas mengenai apa yang terjadi. Ia meyakini mayoritas fakta kunci sudah di tangan.

"Jadi dalam hal ini maka saya beranggapan bahwa mestinya ini 80 persen 90 persen fakta sudah diketemukan oleh polisi. Tinggal kemudian polisi mengambil satu judgement atau kesimpulan ya," ujar Adrianus dikutip dari Youtube Intens Investigasi.

Ia menambahkan, meskipun ada beberapa hasil laboratorium yang mungkin masih ditunggu, kontribusinya terhadap perubahan kesimpulan akhir dinilai tidak signifikan.

"Ada kemungkinan terhadap apa pemeriksaan laboratori yang belum selesai itu okelah nanti begitu selesai langsung bisa kita rilis. Tapi sebetulnya kontribusi pada berubahnya pendapat itu rasanya sudah enggak ada tuh," tegasnya.

Lantas, jika bukti sudah mengarah pada satu teori—entah itu pembunuhan, bunuh diri, atau kecelakaan—mengapa polisi terkesan mengulur waktu? Di sinilah Adrianus menyoroti faktor psikologis dan politis yang sangat sensitif: menjaga citra dan perasaan.

Ketika ditanya apakah kehati-hatian polisi ini bertujuan untuk menjaga perasaan keluarga korban, Adrianus membenarkannya dengan lugas. Namun, ia memperluas konteksnya ke level yang jauh lebih tinggi: menjaga citra negara di mata dunia.

baca juga

"Wah, ini hal yang tepat sekali. Justru itu yang kemudian saya pertimbangkan dari sejak awal. bahwa kalau misalnya nanti sebab matinya adalah sesuatu yang apa namanya? agak tadi ya memalukan ya dan juga motif ya motif kematiannya juga mungkin memalukan. Maka memang menjadi perhatian kepolisian untuk minimal menjaga bicara memilih-milih kata," jelasnya.

Alasannya sederhana namun krusial. "Karena sebagaimana kita ketahui bahwa komunitas diplomat adalah komunitas yang menjadi cermin negara gitu ya. Jadi bayangkan pasti semua media asing akan mengutip apapun yang dikatakan oleh kepolisian," ungkap Adrianus.

Karena pertaruhan citra yang besar inilah, polisi menjadi ekstra hati-hati. Mereka, menurut Adrianus, bahkan mungkin akan memeriksa ulang hal-hal kecil yang hampir pasti tidak akan mengubah kesimpulan, demi menunjukkan keseriusan dan menunda pengumuman yang berpotensi "memalukan".

Menurut Adrianus, secara teknis, tidak ada lagi misteri besar yang belum terpecahkan. Setiap skenario kematian, kata dia, memiliki pola dan jejak yang bisa dilacak oleh penyidik profesional.

"Karena sebetulnya teori manapun yang terjadi maka sebetulnya sudah ada jalannya, sudah ada polanya ya. Jadi kalau misalnya yang bersangkutan benar dibunuh, maka pasti ada jejak yang ditinggalkan oleh pelaku dan kita tinggal ikuti jejaknya kan gitu," paparnya.

Hal yang sama berlaku untuk teori bunuh diri maupun aktivitas seksual menyimpang.

"Demikian juga teori yang ketiga terkait dengan teori seksual behavior yang bersifat bersifat menyimpang itu gitu ya. Nah, itu semua sebetulnya sudah bisa diterasir. Jadi, dalam hal ini maka sebetulnya tidak ada lagi yang merupakan unsur kejutan."

Satu-satunya "kejutan" dalam kasus ini adalah penemuan korban dengan kepala terlilit lakban, yang secara instingtif membuat publik berpikir tentang pembunuhan. Namun, Adrianus menggarisbawahi kemungkinan lain yang lebih rumit.

"Kalaupun ada kejutan adalah lebih kepada ditemukannya dalam bentuk dalam posisi terlilit oleh lakban. hal mana kita duga sebagai pembunuhan tapi ternyata tidak, yakni bahwa itu pelakunya adalah diri korban sendiri yang melilitkan lakban tersebut ke sekujur kepalanya gitu ya," pungkasnya.

Analisis ini secara tidak langsung juga mengubur teori konspirasi liar mengenai adanya upaya framing dari satu pihak yang tidak senang terhadap korban, istri, maupun institusi Kementerian Luar Negeri.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sudah Offside, Kriminolog Semprot Kompolnas yang Ikut Campur di Kasus Kematian Diplomat Arya

Sudah Offside, Kriminolog Semprot Kompolnas yang Ikut Campur di Kasus Kematian Diplomat Arya

News | Kamis, 24 Juli 2025 | 11:33 WIB

Di Balik Keheningan Polisi dalam Kasus Diplomat Tewas Terlakban, Hadapi Dilema Motif?

Di Balik Keheningan Polisi dalam Kasus Diplomat Tewas Terlakban, Hadapi Dilema Motif?

News | Kamis, 24 Juli 2025 | 11:11 WIB

Kelemahan Teori Fetish dalam Kasus Kematian Arya Daru Menurut Pakar

Kelemahan Teori Fetish dalam Kasus Kematian Arya Daru Menurut Pakar

News | Rabu, 23 Juli 2025 | 22:07 WIB

Kriminolog Adrianus Meliala Runtuhkan Teori Bunuh Diri Diplomat Arya dengan Satu Pertanyaan Kunci

Kriminolog Adrianus Meliala Runtuhkan Teori Bunuh Diri Diplomat Arya dengan Satu Pertanyaan Kunci

News | Rabu, 23 Juli 2025 | 21:20 WIB

Kriminolog UI: Kondisi TKP Patahkan Teori Pembunuhan Diplomat Arya Daru

Kriminolog UI: Kondisi TKP Patahkan Teori Pembunuhan Diplomat Arya Daru

News | Rabu, 23 Juli 2025 | 20:43 WIB

Terkini

Dengar Taklimat Prabowo di Hambalang, Kadin Ungkap Investasi Dalam Negeri Hampir Rp2.000 Triliun

Dengar Taklimat Prabowo di Hambalang, Kadin Ungkap Investasi Dalam Negeri Hampir Rp2.000 Triliun

News | Minggu, 01 November 2026 | 07:37 WIB

Review The Longest Wait: Skuad Lokal dan Diaspora dalam Satu Impian Bersama

Review The Longest Wait: Skuad Lokal dan Diaspora dalam Satu Impian Bersama

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 07:30 WIB

Kapolda Kepri Ancam Sanksi Berat 4 Polisi Terlibat Penyalahgunaan Narkoba

Kapolda Kepri Ancam Sanksi Berat 4 Polisi Terlibat Penyalahgunaan Narkoba

Batam | Minggu, 01 November 2026 | 07:07 WIB

CL 2NE1 Dikabarkan dalam Pembicaraan Bergabung dengan THEBLACKLABEL

CL 2NE1 Dikabarkan dalam Pembicaraan Bergabung dengan THEBLACKLABEL

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 07:00 WIB

Polda Tetapkan 33 Tersangka Karhutla Kaltim, Dua di Antaranya Korporasi

Polda Tetapkan 33 Tersangka Karhutla Kaltim, Dua di Antaranya Korporasi

Kaltim | Minggu, 01 November 2026 | 06:51 WIB

Arwin AS Berpulang, Bupati Bengkalis Kenang Jasa Bapak Pembangunan Siak

Arwin AS Berpulang, Bupati Bengkalis Kenang Jasa Bapak Pembangunan Siak

Riau | Minggu, 01 November 2026 | 06:38 WIB

Arwin AS Wafat, Bupati Afni Kenang Pesan Terakhir: Jaga Siak, Jangan Menyerah

Arwin AS Wafat, Bupati Afni Kenang Pesan Terakhir: Jaga Siak, Jangan Menyerah

Riau | Minggu, 01 November 2026 | 06:17 WIB

Berapa Normal Asam Urat pada Wanita 40 Tahun ke Atas? Ini Batas dan Ciri-cirinya

Berapa Normal Asam Urat pada Wanita 40 Tahun ke Atas? Ini Batas dan Ciri-cirinya

Health | Minggu, 01 November 2026 | 06:10 WIB

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:16 WIB

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:04 WIB

×