Dulu Dibatalkan MK, Kenapa Pasal Penghinaan Presiden Kini Ada Lagi?

Bangun Santoso

Senin, 05 Januari 2026 | 21:15 WIB
Dulu Dibatalkan MK, Kenapa Pasal Penghinaan Presiden Kini Ada Lagi?
Ilustrasi KUHP baru mulai berlaku. (Suara.com/Aldie)
baca 10 detik
  • Pasal penghinaan Presiden/Wapres di KUHP baru merupakan respons terhadap putusan MK 2006 mengenai pasal serupa yang bersifat bukan delik aduan.
  • Perumusan pasal baru membatasi cakupan perlindungan hanya untuk Presiden dan Wapres, serta menetapkannya sebagai delik aduan absolut.
  • KUHP baru mengatur ancaman pidana tiga tahun bagi penghinaan, namun terdapat pengecualian jika dilakukan untuk kepentingan umum atau pembelaan diri.

Suara.com - Publik kembali menyoroti kehadiran pasal kontroversial terkait penyerangan kehormatan atau harkat dan martabat Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru.

Pasal yang kerap dianggap sebagai ancaman bagi kebebasan berpendapat ini sempat dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) di masa lalu. Lantas, mengapa pemerintah memutuskan untuk "menghidupkannya" kembali di KUHP baru?

Pemerintah, melalui Wakil Menteri Hukum dan HAM (Wamenkumham) Edward Omar Sharif Hiariej, memberikan penjelasan mendalam mengenai alasan di balik keputusan tersebut. Menurutnya, perumusan pasal ini justru berangkat dari pertimbangan atas putusan Mahkamah Konstitusi itu sendiri.

Secara spesifik, Eddy, sapaan akrabnya, merujuk pada Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 013-022/PUU-IV/2006 yang membatalkan Pasal 134 dan Pasal 136 bis dalam KUHP lama.

“Jadi, ada putusan MK tahun 2006. Kalau teman-teman masih ingat, itu persoalan mobil Jaguar. Pasal 134 dan 136 bis itu diuji di Mahkamah Konstitusi, dan MK membatalkan pasal itu,” ujar pria yang akrab disapa Eddy, dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Hukum, Jakarta, Senin (5/1/2026).

Lalu, apa yang membuat pasal lama itu bermasalah? Eddy menjelaskan bahwa MK membatalkan pasal tersebut karena sifatnya bukan delik aduan. Artinya, siapa saja bisa melaporkan dugaan penghinaan terhadap presiden, yang membuka celah besar untuk kriminalisasi dan politisasi.

“Berdasarkan pertimbangan Mahkamah Konstitusi itu lah pemerintah dan DPR membentuk pasal penghinaan terhadap lembaga negara. Cuma kami batasi. Kalau pakai KUHP lama, itu Ketua Pengadilan Negeri dihina, Kapolres dihina, bisa kena pasal itu, tetapi pasal yang ada dalam KUHP baru itu sudah dibatasi,” katanya sebagaimana dilansir Antara.

Perbedaan fundamental inilah yang menjadi argumen utama pemerintah. Dalam KUHP baru yang disahkan melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023, pasal penghinaan presiden diubah total menjadi delik aduan absolut.

Artinya, laporan hanya bisa dibuat oleh pihak yang merasa dirugikan secara langsung, dalam hal ini adalah Presiden atau Wakil Presiden itu sendiri.

baca juga

Tidak hanya itu, cakupan pejabat yang dilindungi pun sangat dibatasi. Jika dulu hampir semua pejabat bisa menggunakan pasal serupa, kini hanya segelintir pimpinan lembaga tinggi negara yang masuk dalam cakupan.

“Jadi, sangat terbatas, dan itu delik aduan. Dalam delik aduan, yang harus mengadukan itu adalah pimpinan lembaga,” jelasnya.

Pimpinan lembaga yang dimaksud adalah Presiden dan Wakil Presiden, pimpinan MPR RI, DPD RI, DPR RI, Mahkamah Agung, dan Mahkamah Konstitusi.

Ancaman Pidana dan Pengecualian

Untuk lebih jelasnya, Pasal 218 KUHP baru mengatur secara spesifik tentang penghinaan terhadap Presiden dan/atau Wapres.

Pasal 218 ayat (1) berbunyi: “Setiap orang yang di muka umum menyerang kehormatan atau harkat dan martabat diri Presiden dan/atau Wakil Presiden, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau pidana denda paling banyak kategori IV.”

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Korlap Demo Rusuh Tak Bisa Dipenjara? Wamenkumham Beberkan Syarat Mutlak di KUHP Baru

Korlap Demo Rusuh Tak Bisa Dipenjara? Wamenkumham Beberkan Syarat Mutlak di KUHP Baru

News | Senin, 05 Januari 2026 | 19:24 WIB

Blak-blakan Menkum Supratman: KUHP-KUHAP Produk Politik, Tak Bisa Puaskan Semua Pihak

Blak-blakan Menkum Supratman: KUHP-KUHAP Produk Politik, Tak Bisa Puaskan Semua Pihak

News | Senin, 05 Januari 2026 | 16:40 WIB

Menkum Soal Stiker WA Pejabat: 'Jempol Oke', Tapi Awas Batasan Ini

Menkum Soal Stiker WA Pejabat: 'Jempol Oke', Tapi Awas Batasan Ini

News | Senin, 05 Januari 2026 | 15:53 WIB

KUHP Baru Mulai Berlaku, Apa Saja yang Harus Diketahui dan Artinya Bagi Kita?

KUHP Baru Mulai Berlaku, Apa Saja yang Harus Diketahui dan Artinya Bagi Kita?

Liks | Senin, 05 Januari 2026 | 15:46 WIB

KUHP Baru Mulai Berlaku, Nikah Siri dan 'Kumpul Kebo' Kini Diancam Penjara 6 Tahun

KUHP Baru Mulai Berlaku, Nikah Siri dan 'Kumpul Kebo' Kini Diancam Penjara 6 Tahun

News | Senin, 05 Januari 2026 | 15:24 WIB

Awas! Nikah Siri dan Poligami Bakal Dipenjara, Ini Aturan Lengkap KUHP Baru

Awas! Nikah Siri dan Poligami Bakal Dipenjara, Ini Aturan Lengkap KUHP Baru

Lifestyle | Senin, 05 Januari 2026 | 15:17 WIB

Penghinaan Pemerintah dan Presiden Masuk Delik Aduan, Tutup Celah Simpatisan Bikin Laporan

Penghinaan Pemerintah dan Presiden Masuk Delik Aduan, Tutup Celah Simpatisan Bikin Laporan

News | Senin, 05 Januari 2026 | 13:31 WIB

Terkini

Brand Finance 2026: Nilai Merek BRI Capai USD6,9 Miliar, Tertinggi di Indonesia

Brand Finance 2026: Nilai Merek BRI Capai USD6,9 Miliar, Tertinggi di Indonesia

Sumut | Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:51 WIB

8 Anggota Satpol PP Bukittinggi Ditahan Kasus Dugaan Kekerasan di Kampus Fort de Kock

8 Anggota Satpol PP Bukittinggi Ditahan Kasus Dugaan Kekerasan di Kampus Fort de Kock

Sumbar | Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:50 WIB

Hand Cream untuk Apa? Intip Manfaat dan 3 Rekomendasi Produk

Hand Cream untuk Apa? Intip Manfaat dan 3 Rekomendasi Produk

Lifestyle | Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:50 WIB

BRI Pertahankan Posisi Merek Paling Bernilai di Indonesia di Tengah Persaingan Industri Keuangan

BRI Pertahankan Posisi Merek Paling Bernilai di Indonesia di Tengah Persaingan Industri Keuangan

Kalbar | Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:48 WIB

Nilai Merek BRI Tembus USD6,9 Miliar, Jadi yang Tertinggi di Indonesia

Nilai Merek BRI Tembus USD6,9 Miliar, Jadi yang Tertinggi di Indonesia

Batam | Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:46 WIB

Anime Naruto Terbaru Terungkap! Naruto, Sasuke, dan Sakura Masuk Dunia Ninku

Anime Naruto Terbaru Terungkap! Naruto, Sasuke, dan Sakura Masuk Dunia Ninku

Your Say | Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:45 WIB

Cara Memilih Masker Wajah Berdasarkan Jenis Kulit, Ketahui yang Paling Sesuai Kebutuhan

Cara Memilih Masker Wajah Berdasarkan Jenis Kulit, Ketahui yang Paling Sesuai Kebutuhan

Lifestyle | Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:45 WIB

Promo Cashback 10% di Guardian dari BRI, Cek Cara Klaimnya

Promo Cashback 10% di Guardian dari BRI, Cek Cara Klaimnya

Bri | Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:44 WIB

BRI Perkuat Reputasi Merek, Raih Posisi Teratas dalam Brand Finance Indonesia 100 2026

BRI Perkuat Reputasi Merek, Raih Posisi Teratas dalam Brand Finance Indonesia 100 2026

Bali | Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:44 WIB

BRI Pimpin Daftar Merek Paling Bernilai di Indonesia Selama Empat Tahun Berturut-turut

BRI Pimpin Daftar Merek Paling Bernilai di Indonesia Selama Empat Tahun Berturut-turut

Jakarta | Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:41 WIB

×