- Posko relawan kemanusiaan Masjid Nurul Ashri di Aceh Tamiang diduga mengalami teror berupa kiriman bangkai anjing tanpa kepala pada Senin, 23 Februari 2026.
- Benda mencurigakan tersebut ditemukan dalam bungkusan plastik berbau busuk ketika relawan kembali dari membuang sampah di area parkir.
- Meskipun mengalami dugaan teror, semangat relawan tidak surut dan mereka tetap berkomitmen melanjutkan misi kemanusiaan di Aceh Tamiang.
Suara.com - Posko relawan kemanusiaan Masjid Nurul Ashri yang berada di Aceh Tamiang diduga mendapatkan aksi teror. Berdasarkan temuan relawan, teror itu berupa kiriman bangkai anjing tanpa kepala.
Koordinator Relawan Masjid Nurul Ashri, Satrio Widiantoro, menuturkan bangkai anjing tanpa kepala yang dibungkus plastik itu ditemukan relawan pada Senin (23/2/2026) kemarin.
Berawal dari sebuah benda mencurigakan yang diletakkan tepat di depan posko. Tepatnya ketika para relawan sedang pergi keluar untuk membuang sampah.
Ketika kembali ke posko, mereka menemukan sebuah bungkusan plastik yang mengeluarkan bau busuk menyengat.
"Bungkusan itu tuh diletakkan di depan mobil kita yang satunya. Nah, dan posisinya itu tuh tidak diikat, jadi posisinya dia kebuka, cuma memang di dalam plastik merah gitu," kata Satrio, Rabu (25/2/2026).
Relawan yang curiga dengan bungkusan itu memutuskan untuk membukanya. Di dalamnya ditemukan potongan tubuh hewan dalam kondisi yang mengenaskan dan mulai membusuk.
"Itu bangkai anjing. Cuman memang itu tidak ada kepalanya. Jadi cuma tubuhnya aja, jadi nggak ada kepala," ungkapnya.
Pihaknya meyakini ada oknum yang sengaja meletakkan bungkusan itu. Pasalnya sebelum berangkat membuang sampah, para relawan sudah memastikan area parkir di depan posko dalam keadaan bersih.
Selain itu selama relawan berada di posko sejak Desember 2025 kemarin, kata Satrio, tidak pernah ditemui anjing yang berada di sekitar lokasi. Baik milik warga sekitar maupun yang berkeliaran di area posko.
"Dari Desember kemarin, itu setau kita emang di sekitaran posko tidak ada yang memelihara anjing. Kalau untuk anjing lewat pun kita nggak pernah lihat," terangnya
Hubungan dengan Warga Harmonis
Ditegaskan Satrio bahwa selama bertugas di Aceh Tamiang, pihaknya tidak pernah memiliki konflik dengan warga sekitar. Masyarakat terdampak bencana di sana menyambut baik kehadiran para relawan.
"Sejauh ini kita nggak pernah ada apa konflik ataupun apapun sih. Maksudnya selama kita di sini mereka ya menyambut baik aja untuk warga-warga," ucapnya.
Sebaliknya, masyarakat lokal justru mengecam aksi teror yang menimpa para relawan ini.
"Jadi warga pun sempat pada geram sama orang-orang yang punya niatan kayak gitu kan," imbuhnya.