- Ayatollah Ali Khamenei merupakan pengagum pemikiran Presiden Soekarno dan membela ideologinya saat dipenjara rezim Syah.
- Megawati Soekarnoputri mengungkapkan kekaguman tersebut melalui surat duka cita atas meninggalnya Pemimpin Agung Iran tersebut.
- Khamenei menjadikan semangat Dasasila Bandung dan Pancasila sebagai referensi kemandirian Iran pasca-Revolusi Islam 1979.
Kesaksian Boediono
Kesaksian mengenai kekaguman Khamenei terhadap Soekarno juga pernah disampaikan oleh Wakil Presiden RI ke-11, Boediono, saat melawat ke Teheran pada tahun 2012.
Dalam pertemuan tertutup yang dijaga ketat oleh militer Iran, Khamenei mengenang bagaimana ia sering mendengarkan pidato berapi-api Bung Karno melalui saluran radio internasional saat ia masih muda.
“Ayatollah Ali Khamenei mengakui, dia mendengar pidato Bung Karno ketika muda, dan amat terkesan pada sosok beliau,” ungkap Boediono kepada awak media di Wisma Duta, Teheran, beberapa tahun silam.
Membela 'Ahmad Soekarno' di Mimbar Dunia
Nama Soekarno memiliki tempat istimewa di hati Khamenei, hingga ia menyematkan nama "Ahmad Soekarno" sebagai bentuk keakraban dan rasa hormat.
Saat membuka KTT Gerakan Non-Blok (GNB) di Teheran, Khamenei dengan bangga mengutip pidato historis Soekarno pada Konferensi Asia Afrika 1955.
Ia mengingatkan para pemimpin dunia bahwa solidaritas bangsa-bangsa dunia ketiga berdiri di atas landasan nasib yang sama, bukan sekadar letak geografis.
“Tapi, seperti yang dikatakan Ahmad Soekarno… dasar dari pendirian Gerakan Non-Blok bukanlah kesamaan geografis, rasial, atau relijius, melainkan adanya kesamaan kebutuhan,” tegas Khamenei dalam pidatonya kala itu.
Baca Juga: Jimly Asshiddiqie: RI Perlu Tangguhkan Keanggotaan BoP Sampai Perang Iran-AS Reda
Membela Bung Karno dari Penjara
Kekaguman ini bahkan teruji saat Khamenei berada dalam situasi paling sulit, yakni ketika ia mendekam di tahanan rezim Syah Pahlevi.
Dalam memoarnya yang berjudul Art of Humanism Religius Iran, Khamenei mengisahkan perdebatan sengit dengan seorang tahanan sosialis-komunis.
Dengan cerdas, ia meluruskan pandangan keliru tentang ideologi Nasionalis-Agama-Komunis atau Nasakom Soekarno yang dianggap tidak berdasar agama.
”Anda salah. Bahwa Soekarno memang betul bapak humanisme sosialis, tapi Soekarno bukanlah seorang komunis dan negara beliau tidak berdasarkan agama, tapi negara beliau berdasarkan ketuhanan, di mana semua manusia wajib bertuhan sebagai dasar kebangsaan.”