Suara.com - Industri fesyen hari ini bukan sekadar soal gaya hidup. Ia telah menjadi mesin produksi raksasa yang menempatkan dirinya sebagai konsumen air terbesar kedua di dunia. Bersamaan dengan itu, tren fast fashion membuat produksi pakaian meningkat drastis.
Industri ini bertanggung jawab atas sekitar 10% emisi karbon global—jumlah yang bahkan melampaui gabungan emisi penerbangan internasional dan pengiriman maritim. Di balik pakaian murah dan tren yang terus berganti, ada sisi gelap yang kerap luput dari perhatian konsumen.
Istilah fast fashion mulai dikenal pada awal 1990-an ketika Zara membuka toko di New York dengan ambisi memindahkan pakaian dari desain ke rak toko hanya dalam 15 hari. Kini, standar kecepatan itu semakin ekstrem. Perusahaan seperti Shein bahkan mampu memangkas waktu produksi hingga sekitar 10 hari.
Kecepatan produksi ini berdampak langsung pada lingkungan. Fokus pada biaya murah dan peniruan tren memicu produksi massal yang menghasilkan limbah besar. Produksi fesyen menyumbang sekitar 10% emisi karbon global, sementara sekitar 85% tekstil berakhir di tempat pembuangan sampah setiap tahun.
Menurut laporan Quantis tahun 2018, polusi terbesar industri ini berasal dari proses pewarnaan dan penyelesaian tekstil (36%), persiapan benang (28%), serta produksi serat (15%).
Dampaknya bahkan berlanjut setelah pakaian dibeli. Banyak produk fast fashion menggunakan serat sintetis seperti poliester, nilon, dan akrilik yang membutuhkan ratusan tahun untuk terurai. Setiap kali pakaian ini dicuci, serat mikro plastik dilepaskan ke laut.
Data dari International Union for Conservation of Nature menunjukkan sekitar 35% mikroplastik di lautan berasal dari pencucian tekstil sintetis. Dengan konsumsi pakaian global mencapai sekitar 80 miliar potong per tahun—naik 400% dibanding dua dekade lalu—aktivitas domestik kita ikut menjadi penyumbang pencemaran laut.
Mengurangi dampak industri fesyen membutuhkan perubahan cara produksi sekaligus cara kita mengonsumsi pakaian. Salah satu pendekatan yang mulai berkembang adalah konsep slow fashion, yang mendorong konsumsi lebih sadar dan memperpanjang masa pakai pakaian.
Model ekonomi sirkular juga mulai muncul melalui layanan penyewaan pakaian. Platform seperti Rent the Runway dan Gwynnie Bee di Amerika Serikat, serta Girl Meets Dress di Inggris, memungkinkan konsumen tetap mengikuti tren tanpa harus membeli pakaian baru secara terus-menerus.
Baca Juga: Kalau Dipikir-Pikir, Ini 5 Alasan Monkey D Garp Masih Bertahan di Angkatan Laut
Perusahaan seperti Mud Jeans bahkan memperkenalkan sistem penyewaan jeans organik yang dapat dikembalikan untuk didaur ulang.
Pada akhirnya, perubahan ini juga membutuhkan peran pemerintah, industri, dan konsumen. Seperti yang diingatkan oleh Patsy Perry dari University of Manchester, prinsip paling sederhana untuk menghadapi krisis ini adalah: less is always more.