-
Iran meluncurkan serangan rudal balistik ke wilayah Israel sebagai balasan atas agresi militer.
-
Menteri Luar Negeri Iran menolak gencatan senjata dan memilih untuk terus melanjutkan perjuangan fisik.
-
Konflik meluas ke Oman dan Uni Emirat Arab sehingga memicu evakuasi besar-besaran warga Amerika.
Bagi Teheran, kesepakatan setengah hati tidak lagi memiliki nilai tawar dalam menjaga kedaulatan negara yang sedang terancam serangan luar.
Abbas Araghchi menekankan bahwa perdamaian hanya bisa diterima jika bersifat tuntas dan memberikan jaminan keamanan bagi seluruh rakyatnya.
Prinsip ini menjadi sinyal kuat bagi komunitas internasional bahwa perang besar di Timur Tengah tidak akan mereda dalam waktu singkat.
Ketegasan Iran ini berakar dari rasa tidak percaya yang mendalam terhadap komitmen politik yang ditawarkan oleh pihak Gedung Putih.
Gejolak perang ini tidak hanya terbatas pada perbatasan dua negara, namun merembet hingga ke wilayah Oman yang sebelumnya relatif tenang.
Pemerintah Amerika Serikat pun mengambil langkah drastis dengan menginstruksikan evakuasi massal bagi keluarga diplomat dan staf non-darurat di sana.
Perintah keluar dari wilayah Oman tersebut diterbitkan secara resmi pada Sabtu, 4 Maret, menyusul ancaman keamanan yang kian nyata di teluk.
Kementerian Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan tingkat tinggi mengenai potensi bahaya serangan drone serta rudal balistik Iran yang tidak terprediksi.
Situasi di lapangan semakin mencekam setelah dilaporkan adanya gangguan serius pada jalur penerbangan komersial yang melintasi zona konflik tersebut.
Baca Juga: Update Korban Perang AS-Iran 15 Maret 2026, Hampir 1000 Orang dan Ratusan Anak Tewas
Laporan dari Oman News Agency menyebutkan bahwa dua orang warga negara asing kehilangan nyawa akibat serangan pesawat tak berawak.
Insiden mematikan tersebut terjadi di area industri Al Awahi setelah pasukan keamanan mencoba melumpuhkan drone yang masuk ke wilayah utara.
Selain korban tewas, sejumlah pekerja lainnya mengalami luka-luka serius dan memerlukan penanganan medis intensif akibat ledakan di lokasi tersebut.
Dampak perang kini juga meluas hingga ke pusat ekonomi seperti Dubai dan Abu Dhabi yang menjadi lokasi strategis operasi militer Amerika.
Keberadaan pangkalan militer AS di kota-kota tersebut menjadikan mereka target potensial bagi unit drone dan rudal jarak jauh milik militer Iran.
Hingga hari ke-16 setelah agresi awal, tanda-tanda deeskalasi masih jauh dari harapan karena kedua belah pihak tetap bertahan pada posisi masing-masing.