- Iran menyangkal klaim AS tentang hancurnya kekuatan angkatan laut dan menantang Trump membuktikan klaimnya di Teluk Persia.
- Iran menegaskan kendali penuh atas Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia, sejak awal Maret sebagai respons balasan.
- Sebagai pembalasan atas serangan 28 Februari yang menewaskan Khamenei, Iran telah meluncurkan sekitar 700 rudal dan 3.600 drone.
Pihak militer Iran menyatakan tidak akan mundur sebelum tujuan strategis mereka tercapai dan lawan mengakui posisi tawar Iran di kawasan.
Dia juga menegaskan bahwa perang akan berakhir saat "musuh" menyadari kekuatan militer dan pencegahan sosial Iran.
Strategi pertahanan Iran saat ini difokuskan pada upaya memberikan efek jera yang maksimal bagi pihak-pihak yang dianggap melakukan provokasi militer. "Kami (Iran) berupaya menghukum agresor dan melanjutkan serangan berat dan menghancurkan musuh," kata Naini.
Eskalasi besar-besaran ini berakar dari peristiwa berdarah yang terjadi pada akhir Februari lalu. Sejak Israel dan Amerika melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu, yang menewaskan sekitar 1.300 orang hingga saat ini, termasuk pemimpin tertinggi saat itu Ayatollah Ali Khamenei, permusuhan telah meningkat.
Kematian Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan tersebut menjadi titik balik yang mengubah peta konflik secara drastis.
Kehilangan pemimpin tertinggi memicu gelombang kemarahan di dalam negeri Iran dan mengonsolidasikan kekuatan militer untuk melakukan pembalasan yang lebih luas dan terorganisir di berbagai front.
Sebagai dampak dari serangan gabungan tersebut, Iran memperluas jangkauan operasinya ke beberapa negara tetangga yang dianggap memberikan fasilitas atau menampung kekuatan militer Amerika Serikat. Hal ini menciptakan ketidakpastian keamanan di seluruh penjuru Timur Tengah.
Iran telah membalas dengan serangan pesawat nirawak dan rudal dengan menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer milik Amerika. Iran juga secara efektif menutup Selat Hormuz sejak awal Maret.
Langkah penutupan Selat Hormuz sejak awal Maret ini menjadi senjata paling ampuh Iran dalam menekan komunitas internasional.
Baca Juga: Siap Perang Terbuka! Iran Akhirnya Akui China dan Rusia Bantu Lawan AS-Israel
Dengan terhentinya arus lalu lintas kapal tanker di selat tersebut, tekanan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya semakin meningkat, baik dari sisi militer maupun dari sisi tekanan ekonomi domestik akibat fluktuasi harga energi dunia yang tak terkendali.
Hingga saat ini, armada laut IRGC dilaporkan terus melakukan patroli intensif di sepanjang perairan Teluk Persia untuk memastikan tidak ada kapal asing yang melintas tanpa izin, sekaligus bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi lebih lanjut jika Amerika Serikat merespons tantangan yang dilontarkan oleh Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naini tersebut.