- Presiden Trump menyerukan koalisi internasional untuk mengamankan Selat Hormuz, namun Jepang dan Australia menolak mengirimkan armada angkatan laut.
- Permintaan ini muncul di tengah konflik AS-Israel melawan Iran yang menyebabkan harga minyak Brent naik melampaui $104,50 per barel.
- Jepang menyatakan konstitusi pasifis membatasi pengiriman kapal pengawal, sementara Australia mengonfirmasi tidak akan menyumbangkan kapal angkatan laut.
Suara.com - Seruan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, untuk membentuk koalisi internasional guna mengamankan Selat Hormuz tampaknya bertepuk sebelah tangan.
Dua sekutu utama AS di kawasan Indo-Pasifik, yakni Jepang dan Australia, mengindikasikan bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk mengirimkan armada angkatan laut ke jalur perairan vital di Timur Tengah tersebut.
Penolakan halus dari negara-negara sekutu ini muncul di tengah berkecamuknya perang antara koalisi AS-Israel melawan Iran yang kini telah memasuki minggu ketiga.
Kekacauan geopolitik ini terus memicu guncangan hebat di pasar energi global. Pada perdagangan Senin (16/3/2026), harga minyak mentah Brent terpantau meroket lebih dari 1% hingga menembus angka US$ 104,50 per barel.
Bersamaan dengan itu, pasar saham Asia merespons dengan kehati-hatian, ditandai dengan pelemahan indeks regional akibat kekhawatiran ancaman terhadap fasilitas minyak di Timur Tengah.
Menyadari dampak ekonomi yang semakin luas, Trump pada Minggu (15/3/2026) kemarin mendesak negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan minyak Teluk untuk ikut memikul tanggung jawab.
Ia meminta mereka turun tangan melindungi Selat Hormuz, rute krusial yang dilewati 20% pasokan energi dunia.
"Saya menuntut agar negara-negara ini datang dan melindungi wilayah mereka sendiri karena itu adalah wilayah mereka," kata Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One dalam penerbangannya dari Florida menuju Washington, dikutip melalui Reuters, Senin (16/3/2026).
"Itu adalah tempat dari mana mereka mendapatkan energi,” tambahnya.
Baca Juga: Trump Gigit Jari: Negara-negara Lain Ogah Bantu Militer AS, NATO Terancam Bubar
Pemerintahan Trump mengklaim telah melobi tujuh negara yang tidak disebutkan namanya. Melalui unggahan di media sosial pada akhir pekan lalu, Trump juga secara terang-terangan berharap negara-negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris mau bergabung dalam koalisi tersebut.
Sekutu AS Menolak Terlibat Langsung
Meski memiliki kedekatan strategis dengan Washington dan mengimpor 95% kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah, Jepang menolak untuk serta-merta mengirimkan armada militernya.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, beralasan bahwa langkah negaranya sangat dibatasi oleh konstitusi pasifis yang menentang peperangan.
Kepada parlemen Jepang pada Senin (16/3/2026), Takaichi memberikan penjelasan terkait posisi Tokyo.
"Kami belum membuat keputusan apapun tentang pengiriman kapal pengawal. Kami terus meneliti apa yang dapat dilakukan Jepang secara mandiri dan apa yang dapat dilakukan dalam kerangka hukum," tegas Takaichi.