- Analis Ubedilah Badrun menduga aktor intelektual penyerangan KontraS terkait kritik Andrie Yunus terhadap remiliterisasi.
- Dugaan aktor intelektual terbagi tiga: komando struktural BAIS, elit strategis istana, atau kekuatan politik besar.
- Kasus ini berpotensi mengikuti pola Novel Baswedan, di mana penanganan hukum berhenti pada eksekutor lapangan.
Suara.com - Analis Sosial Politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sekaligus Aktivis 98, Ubedilah Badrun, memberikan analisis mendalam terkait siapa sosok di balik layar (aktor intelektual) penyerangan terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus.
Ia meragukan kasus ini akan terbongkar hingga ke akarnya jika berkaca pada kasus serupa di masa lalu.
Ubedilah membandingkan pola penanganan kasus ini dengan peristiwa yang menimpa mantan penyidik KPK, Novel Baswedan, di mana hukum cenderung berhenti pada eksekutor lapangan dengan motif yang dikonstruksikan sebagai "dendam pribadi".
“Nah, apakah ini akan terbongkar sampai ke aktor intelektual? Saya belajar dari peristiwa Novel Baswedan. Novel Baswedan kan pelakunya kan polisi, ya kan, polisi aktif. Ya sampai di situ, tidak sampai ke aktor intelektual. Motifnya dendam pribadi pada Novel karena Novel dianggap sebagai penyidik yang tidak loyal kepada atasannya karena independensinya,” ujar Ubedilah dalam sebuah diskusi yang digelar di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (19/3/2026).
Ia menduga ada pola yang sama sedang dimainkan, yakni mengaburkan motif politik di balik kritik Andrie Yunus terhadap isu remiliterisasi.
“Nah, sekarang kita enggak tahu motifnya apa. Jangan-jangan polanya akan sama, motifnya karena enggak suka secara pribadi gitu terhadap Andrie Yunus karena mengkritik identitasnya sebagai bagian dari tentara misalnya. Kan mungkin saja motifnya begitu nanti dikonseptualisasinya begitu,” tambahnya.
Ubedilah menekankan bahwa serangan ini merupakan buntut dari ketersingguan kelompok tertentu atas kritik korban terhadap penguatan militerisme dalam Undang-Undang TNI.
“Tapi saya melihat ini perkara yang sangat serius karena Andrie Yunus yang dikritik oleh dia adalah isu tentang remiliterisme. Yang dikritik oleh Andrie Yunus adalah kemunculan kembali upaya untuk memperkuat pola militerisme dalam Undang-Undang Tentara misalnya, dan seterusnya. Jadi artinya ini ada pertarungan demokrasi dengan militerisme yang dampaknya akan berakibat buruk citra negatif terhadap militer. Karena itu mereka tersinggung dengan upaya Andrie Yunus ini,” jelasnya.
Terkait siapa aktor intelektualnya, Ubedilah membagi dugaannya ke dalam tiga hipotesis besar:
1. Logika Komando di Tubuh BAIS
Ubedilah meyakini bahwa prajurit aktif tidak akan melakukan tindakan berisiko tanpa adanya perintah atasan.
“Kalau pakai logika struktural militerisme itu pasti ada komando, ya kan? Tidak mungkin anggota tentara melakukan tindakan fatal atau sangat radikal begitu, sangat berisiko, tanpa perintah atasan. Itu enggak mungkin. Itu analisis pertama. Jadi bisa jadi atasan mereka. Kalau mereka adalah anggota BAIS, sekarang kita tanya siapa komandan BAIS-nya? Ketua BAIS-nya siapa gitu? Apakah Ketua BAIS yang memerintahkan kepada mereka? Kalau bukan Ketua BAIS, siapa di atas mereka? Jadi dugaan pertama adalah atasan mereka langsung dari institusi BAIS.”
2. Keterlibatan Elit Strategis di Istana
Dugaan kedua mengarah pada oknum tentara aktif yang menduduki jabatan strategis di lingkaran kekuasaan Presiden Prabowo Subianto.
“Dugaan yang kedua, aktor intelektual ini adalah dia berada pada dua institusi. Dia adalah tentara aktif tapi dia juga punya posisi strategis di istana. Sehingga konektivitasnya langsung ke istana. Polanya bisa jadi orang istana ini bukan karena perintah Prabowo, bisa jadi karena perintah Prabowo. Kalau kemudian bukan karena perintah Prabowo, itu artinya dia mau menunjukkan kepada Prabowo bahwa dia berjasa untuk menghentikan ini, tanpa perintah Prabowo. Kalau perintah Prabowo ini berbahaya, Prabowo salah besar. Jadi kita analisis siapa tentara aktif yang ada di istana, yang sangat didengar, yang punya pengaruh. Tinggal cari aja.”