-
Tarif hotel mewah di Dubai dan Abu Dhabi anjlok hingga 75 persen dampak konflik.
-
Harga hotel bintang empat jatuh ke angka 50 dollar AS akibat eskalasi Timur Tengah.
-
Konflik Iran dan Israel menjadi pemicu utama penurunan harga akomodasi di Uni Emirat Arab.
Suara.com - Kawasan Uni Emirat Arab saat ini tengah mengalami fenomena penurunan harga hotel yang sangat signifikan.
Fenomena ini terjadi di pusat wisata dunia seperti Dubai dan Abu Dhabi menurut data terbaru.
Berdasarkan analisis data dari RIA Novosti, penurunan harga ini merupakan dampak langsung eskalasi di Teluk.
Wisatawan kini bisa menemukan tarif kamar hotel yang jauh lebih murah dibandingkan periode awal tahun.
Bahkan angka penurunan harga ini menyentuh titik yang tidak terduga bagi banyak pengelola akomodasi.
Data menunjukkan bahwa harga harian untuk dua orang tamu mengalami penyusutan hingga angka 75 persen.
Kondisi ini terlihat sangat jelas pada segmen hotel berbintang empat yang tersebar di wilayah strategis.
Hotel-hotel yang biasanya memiliki tarif tinggi kini menurunkan harga demi menjaga tingkat okupansi mereka tetap stabil.
Sebagai perbandingan, harga yang ditawarkan pada bulan April jauh berbeda dengan harga normal sebelumnya.
Penurunan ini menjadi sorotan karena nominalnya yang terjun bebas dari ratusan dollar menjadi puluhan dollar saja.
Di wilayah Abu Dhabi, Hotel Mercure yang merupakan bintang empat kini memasang tarif hanya 54 dollar AS.
Padahal pada rentang Januari hingga Februari, biaya menginap di sana mencapai 200 hingga 250 dollar AS.
Situs pemesanan menunjukkan Hotel TRYP by Wyndham juga mematok harga rendah mulai dari 57 dollar AS saja.
Begitu pula dengan Ramada Downtown yang menawarkan harga menginap harian hanya sebesar 54 dollar AS per malam.
Sementara itu, bagi pengunjung yang mencari La Quinta by Wyndham, harga yang ditawarkan saat ini 61 dollar AS.
Beralih ke sektor yang lebih mewah, hotel bintang lima di Abu Dhabi memberikan diskon hingga dua pertiga.
Hotel ternama Rixos Marina kini mulai menjual kamar mereka dengan harga sekitar 225 dollar AS per malam.
Ritz Carlton yang dikenal eksklusif juga menurunkan harga mereka hingga menyentuh angka mulai dari 231 dollar AS.
Bahkan Shangri-La menawarkan tarif bersahabat di angka 201 dollar AS di tengah situasi ketegangan regional yang terjadi.
Radisson juga tidak ketinggalan dengan memangkas harga kamar mereka hingga menjadi hanya 125 dollar AS per malam.
Kondisi serupa terjadi di Dubai di mana hotel bintang empat seperti Stella di Mare dijual sangat murah.
Banyak hotel di Dubai kini bisa dipesan hanya dengan modal sekitar 50 sampai 60 dollar AS saja.
Nama-nama besar seperti Time Oak dan Hyatt Place juga masuk dalam daftar hotel dengan penurunan harga.
Untuk kelas bintang lima di Dubai, Dusit Thani kini membuka harga mulai dari 95 dollar AS per malam.
Hilton Jumeirah menawarkan kamar dari 155 dollar AS, sementara Pullman Jumeirah dibanderol dengan harga 90 dollar AS.
Radisson Blu di Dubai bahkan berani memberikan harga mulai 87 dollar AS di tengah kondisi pasar saat ini.
Movenpick Jumeirah melengkapi daftar tersebut dengan menawarkan harga inap mulai dari angka 167 dollar AS per malam.
Penurunan harga ini terjadi secara merata hampir di seluruh lini properti mewah yang ada di Uni Emirat Arab.
Meskipun harga turun, fasilitas yang diberikan tetap standar hotel berbintang sesuai dengan klasifikasi yang dimiliki masing-masing.
Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong yang tetap ingin berkunjung ke wilayah tersebut.
Secara teknis, cuaca di Uni Emirat Arab pada April berada pada suhu yang cukup nyaman bagi turis.
Suhu harian diperkirakan akan berada pada rentang antara 25 sampai dengan 30 derajat Celsius sepanjang bulan tersebut.
Namun, faktor keamanan regional menjadi alasan utama di balik anjloknya minat kunjungan ke wilayah Timur Tengah.
Hal ini berkaitan erat dengan peristiwa militer yang melibatkan beberapa negara besar di kawasan sekitar Teluk.
Kondisi geopolitik yang memanas membuat banyak calon wisatawan menunda perjalanan mereka ke negara-negara jazirah Arab tersebut.
Akar dari ketegangan ini bermula dari kejadian dramatis pada akhir Februari di kawasan Timur Tengah tersebut.
Peristiwa serangan tersebut kemudian memicu reaksi keras dari pihak Teheran yang tidak tinggal diam begitu saja.
Ketegangan militer ini secara langsung memberikan tekanan besar pada industri perhotelan dan pariwisata di Dubai.
Wisatawan mancanegara cenderung mencari destinasi yang lebih aman untuk menghindari risiko terjebak dalam zona konflik.
Meskipun Uni Emirat Arab relatif aman, kedekatannya dengan wilayah konflik tetap memengaruhi persepsi keamanan para turis.
Pengelola hotel berharap situasi segera mereda agar harga dan tingkat kunjungan bisa kembali normal seperti sedia kala.
Hingga saat ini, pemantauan harga masih menunjukkan tren rendah sebagai strategi bertahan di tengah krisis regional.