- Serangan drone diduga Iran pada 16 Maret 2026 melumpuhkan sementara Dubai International Airport akibat kebakaran tangki bahan bakar.
- UEA berhasil menanggapi enam rudal balistik dan 21 drone pada hari yang sama, selain serangan di Umm Al Quwain.
- Konflik telah menyebabkan 7 kematian, penutupan Selat Hormuz, dan seruan Trump untuk menjaga jalur pelayaran vital.
Suara.com - Serangan drone yang diduga diluncurkan oleh Iran menghantam tangki bahan bakar di Dubai International Airport, Dubai, pada Senin pagi, 16 Maret 2026 waktu setempat.
Insiden ini memicu kebakaran besar dan memaksa bandara tersibuk di dunia tersebut menghentikan penerbangan sementara.
Video dramatis yang beredar di sosial media memperlihatkan kepulan asap hitam tebal membumbung tinggi dari lokasi kebakaran.
Melansir dari laporan NY Post, api berasal dari tangki bahan bakar di area bandara yang menjadi pusat transit utama di Timur Tengah.
Petugas pemadam kebakaran segera dikerahkan dan berhasil mengendalikan api beberapa jam kemudian.

Otoritas bandara memastikan tidak ada korban luka, sementara operasional penerbangan kembali berjalan normal setelah situasi terkendali.
Serangan tersebut menjadi yang ketiga yang menyasar bandara Dubai sejak konflik terbaru di Timur Tengah pecah pada 28 Februari lalu.
Dalam insiden terpisah pada hari yang sama, drone Iran juga menghantam kantor media pemerintah di Umm Al Quwain, sekitar 48 kilometer di utara Dubai, dan memicu kebakaran.
Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab menyatakan pihaknya berhasil merespons enam rudal balistik dan 21 drone yang diluncurkan pada Senin.
Baca Juga: Kok Jadi Berantem? Trump Sebut Pemimpin Israel Lemah, Netanyahu Balas Begini
Sejak konflik dimulai, tujuh oran, termasuk lima warga sipil, dilaporkan tewas dan 145 lainnya terluka akibat serangan.
Menurut data resmi, Iran telah meluncurkan 304 rudal balistik, 15 rudal jelajah, dan lebih dari 1.600 drone ke wilayah UEA sejak akhir Februari.
Serangan tersebut menargetkan berbagai infrastruktur sipil di negara-negara Teluk.
Ketegangan juga meningkat di jalur energi global setelah Abbas Araghchi menyatakan bahwa Selat Hormuz kini tertutup bagi musuh-musuh Iran.
Jalur laut strategis itu diketahui menjadi rute pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Di tengah eskalasi konflik yang telah memasuki hari ke-17, Donald Trump menyerukan sekutu Amerika Serikat untuk mengirim kapal perang guna memastikan jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka bagi perdagangan internasional.