-
Netanyahu merilis video kenangan 1990-an di tengah isu kematian akibat serangan rudal Iran.
-
Warganet curiga video di Kota Arad adalah hasil rekayasa AI karena ditemukan kejanggalan visual.
-
Netanyahu memperingatkan dunia bahwa jangkauan rudal Iran kini sudah mengancam hingga wilayah Eropa.
Lokasi tersebut merupakan area di pesisir Laut Mati yang sebelumnya dilaporkan hancur akibat gempuran rudal balistik Iran.
Sistem pertahanan udara Israel kabarnya sempat kecolongan sehingga rudal lawan berhasil mendarat dan merusak area yang cukup luas.
Di tengah puing-puing konflik tersebut, Netanyahu menyempatkan diri untuk mengirimkan pesan peringatan keras kepada komunitas internasional.
Ia meminta seluruh pemimpin negara-negara di dunia untuk bersatu dalam menghadapi ancaman militer yang datang dari Teheran.
Netanyahu mengklaim bahwa senjata milik Iran saat ini sudah memiliki daya jangkau yang sangat jauh hingga Eropa.
Dalam sebuah kesempatan, Netanyahu memberikan peringatan mengenai ambisi militer Iran yang terus meningkat dan mengancam keamanan global secara menyeluruh.
"Mereka menjadikan semua pihak sebagai sasaran,” kata Netanyahu.
Pernyataan ini dimaksudkan agar negara-negara Barat menyadari bahwa serangan tersebut bukan hanya persoalan antara Israel dan Iran semata.
Namun, fokus pembaca justru teralihkan pada kejanggalan teknis yang ditemukan dalam video pernyataan tersebut oleh para warganet.
Publik menemukan adanya ketidakkonsistenan pada gerakan fisik Netanyahu yang terlihat tidak selaras dengan anatomi manusia pada umumnya.
Banyak pihak menuding bahwa video tersebut merupakan hasil manipulasi canggih menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Dugaan penggunaan Deepfake ini muncul karena adanya beberapa titik anomali yang tertangkap oleh mata jeli para netizen global.
Salah satu yang paling vokal dibahas adalah perubahan posisi manset kemeja di balik jas yang dikenakan oleh Netanyahu.
Bagian pakaian tersebut terlihat berpindah posisi secara mendadak dan tidak alami saat ia sedang memberikan keterangan pers resmi.
Kejanggalan ini bukan pertama kalinya terjadi dalam konten digital yang dirilis oleh akun media sosial resmi milik pemerintah.