-
Konflik Iran memacu negara dunia mempercepat transisi energi fosil ke sumber terbarukan yang mandiri.
-
Gangguan di Selat Hormuz mengancam pasokan minyak global sehingga memicu kenaikan investasi energi hijau.
-
Energi bersih kini menjadi aset strategis geopolitik untuk memperkuat keamanan energi domestik banyak negara.
Pertumbuhan teknologi surya yang sangat pesat kini telah mengubah paradigma lama mengenai sumber daya ramah lingkungan ini.
“Ini luar biasa. Sepuluh tahun lalu, energi surya adalah kisah romantis — tetapi sekarang energi surya telah menjadi bisnis,” kata Birol.
Para ahli melihat bahwa daya saing harga energi terbarukan kini jauh lebih unggul dibandingkan dengan bahan bakar fosil tradisional.
Meskipun demikian, data IEA tahun 2023 menunjukkan fosil masih menguasai sekitar 80 persen dari total permintaan energi dunia.
Sam Butler-Sloss dari Ember menyatakan bahwa biaya tinggi bahan bakar fosil justru mempercepat proses elektrifikasi di berbagai sektor.
Kenaikan harga tersebut membuat teknologi berbasis listrik yang sudah terjangkau menjadi semakin kompetitif bagi konsumen dan industri.
“Krisis Iran mempercepat peralihan ke energi terbarukan dan elektrifikasi. Harga bahan bakar fosil yang tinggi mendorong peralihan, membuat teknologi elektro yang sudah murah menjadi lebih kompetitif,” kata Sam Butler-Sloss, manajer riset di lembaga pemikir energi global Ember, kepada CNBC melalui email.
Strategi keamanan energi yang dulunya berfokus pada diversifikasi pemasok kini bergeser pada penghapusan ketergantungan impor secara total.
Sektor teknologi elektro yang mencakup panel surya hingga kendaraan listrik kini menjadi mesin pertumbuhan utama di pasar global.
Tiongkok bahkan disebut telah memimpin transisi ini dengan memposisikan diri sebagai negara berbasis elektrik pertama di dunia.
Peningkatan penggunaan mobil listrik di wilayah Asia diprediksi dapat menghemat devisa dalam jumlah yang sangat fantastis setiap tahunnya.
“Di dunia bahan bakar fosil lama, keamanan energi berarti diversifikasi pasokan bahan bakar. Dengan teknologi elektro, negara-negara kini memiliki alat untuk semakin menghilangkan impor bahan bakar sama sekali,” kata Butler-Sloss.
Estimasi penghematan dari pengurangan impor minyak tersebut bisa mencapai angka lebih dari 600 miliar dolar AS secara rutin.
Analis menyebut fenomena perubahan perilaku konsumsi energi di Asia ini memiliki kemiripan dengan situasi krisis di Ukraina.
“Ini adalah momen Ukraina bagi Asia. Sama seperti Ukraina memaksa Eropa untuk mengurangi ketergantungan pada gas, Hormuz akan mendorong Asia untuk mengurangi ketergantungan pada minyak – tetapi dengan teknologi yang bahkan lebih murah,” kata Butler-Sloss.
Uni Eropa juga mendapatkan peringatan keras untuk segera membenahi infrastruktur energi mereka demi menghindari volatilitas harga pasar.
Spanyol menjadi salah satu contoh sukses dalam meminimalisir ketergantungan pada harga bahan bakar fosil yang tidak stabil.
Negara tersebut kini mulai menikmati keuntungan besar dari investasi jangka panjang mereka pada teknologi tenaga angin dan surya.
Padahal sebelumnya pemerintah setempat sempat mendapatkan protes keras akibat insiden pemadaman listrik yang terjadi di tahun lalu.
Bersama Portugal, Spanyol kini berhasil mencatatkan harga gas yang paling kompetitif di tengah memanasnya suhu politik Timur Tengah.
Kebutuhan mendesak saat ini bagi negara-negara Eropa adalah melakukan ekspansi besar-besaran terhadap infrastruktur jaringan listrik mereka.
“Yang kita butuhkan di seluruh Eropa adalah investasi jaringan listrik. Dan yang saya maksud dengan investasi jaringan listrik adalah modernisasi dan perluasan jaringan listrik. Bagi saya, pemenangnya adalah jaringan listrik Eropa,” kata Jaller-Makarewicz.
Meskipun prospek jangka panjang terlihat cerah, ada potensi hambatan kecil dalam proses transisi energi di jangka pendek.
Tekanan politik mungkin akan memaksa beberapa pemerintah untuk memberikan subsidi sementara pada bahan bakar minyak di stasiun pengisian.
Bahkan ada kemungkinan beberapa negara akan kembali melirik batu bara jika konflik bersenjata ini tidak kunjung mereda.
Namun secara fundamental, cara pandang pemimpin dunia terhadap energi bersih telah mengalami perubahan yang bersifat sangat permanen.
Pemanfaatan energi terbarukan kini bukan lagi sekadar isu lingkungan hidup, melainkan instrumen vital dalam menjaga kedaulatan sebuah bangsa.
“Energi terbarukan dan teknologi terkaitnya kini secara umum dipandang sebagai alat keamanan energi, bukan lagi hanya cara untuk memerangi polusi dan perubahan iklim, tetapi aset geopolitik yang didukung oleh pragmatisme daripada idealisme,” kata Escribano.
Paradigma baru ini bahkan mulai dianut oleh jajaran pemerintahan yang sebelumnya tidak terlalu peduli pada isu-isu perubahan iklim.
“Bahkan di kalangan pemerintah dan warga negara yang kurang peduli terhadap isu lingkungan,” tambahnya.