-
Amerika Serikat menawarkan proposal 15 poin guna mengakhiri konflik bersenjata dengan Iran.
-
Pakistan berperan sebagai mediator utama untuk memfasilitasi gencatan senjata selama satu bulan.
-
Operasi militer Epic Fury tetap berjalan meski proses diplomasi sedang diupayakan Washington.
Suara.com - Pemerintahan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump secara resmi telah menyodorkan draf perdamaian.
Dokumen yang berisi 15 poin krusial tersebut ditujukan langsung kepada otoritas di Teheran, Iran.
Langkah diplomatik ini diambil sebagai upaya nyata Washington menghentikan eskalasi perang di Timur Tengah.
Konflik bersenjata yang telah berlangsung selama empat minggu ini mulai mengguncang stabilitas ekonomi global.
Laporan dari The New York Times menyebutkan bahwa draf tersebut dikirim melalui perantara pemerintah Pakistan.
Fokus utama dari rencana perdamaian ini adalah pengendalian ketat terhadap teknologi nuklir Iran.
Washington juga menekankan pentingnya pembatasan pengembangan rudal balistik yang dilakukan oleh pihak Teheran.
Selain itu, pemulihan keamanan di jalur maritim internasional menjadi poin yang tidak bisa ditawar.
Dalam proposal 15 poin itu, AS menuntut Iran untuk menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium.
Pemerintah Amerika Serikat meminta Iran menyerahkan sedikitnya 440 kilogram material uranium milik mereka.
Material tersebut dianggap sangat berbahaya karena memiliki potensi besar untuk dikonversi menjadi senjata pemusnah.
Keamanan di Selat Hormuz juga menjadi perhatian utama dalam dokumen diplomatik yang diajukan tersebut.
Blokade yang dilakukan Teheran sebelumnya telah menutup akses vital bagi kapal-kapal dagang milik Barat.
Tersendatnya arus logistik di Teluk Persia mengakibatkan seperlima suplai minyak mentah dunia menjadi terhambat.
Kondisi tersebut memicu kenaikan harga energi di pasar internasional hingga mencapai level yang ekstrem.