Bekasi Darurat Mutilasi? Menelisik Pola Kejahatan Ekstrem di Balik Tragedi Serang Baru

Muhammad Yasir, Faqih Fathurrahman

Rabu, 01 April 2026 | 20:18 WIB
Bekasi Darurat Mutilasi? Menelisik Pola Kejahatan Ekstrem di Balik Tragedi Serang Baru
Ilustrasi kasus mutilasi pegawai kios ayam geprek di Serang Baru, Kabupaten Bekasi. [Suara.com]
baca 10 detik
  • Dua karyawan kios ayam geprek membunuh dan memutilasi rekan kerjanya di Serang Baru, Bekasi, pada Maret 2026 karena korban menolak berpartisipasi mencuri.
  • Pelaku memutilasi korban untuk menghilangkan jejak, lalu melarikan diri bersama motor dan uang tunai hasil curian ke Majalengka.
  • Polda Metro Jaya berhasil menangkap para pelaku yang kini terancam hukuman mati. 

Suara.com - MATAHARI baru saja meninggi di langit Perumahan Mega Regency, Serang Baru, Kabupaten Bekasi, Sabtu, 28 Maret 2026.

Elen Saputra (33) berjalan menuju kios Chicken Alfasa miliknya. Di tengah kondisi lelah usai mudik dari Cilacap, Jawa Tengah, kecurigaan mulai muncul saat ia mendapati pintu kios dalam kondisi terbuka.

Langkah Elen terhenti di depan sebuah freezer besar. Aroma anyir menyergap—lebih tajam dari bau daging ayam biasanya.

Keningnya lalu berkerut, saat ia menemukan kain mencurigakan yang ternyata menutupi jasad karyawannya Abdul Hamid (39) dalam kondisi tak lagi utuh—tanpa tangan dan kaki.

Penemuan mengerikan ini bukan sekadar kasus pembunuhan. Ia membuka lapisan gelap soal sebuah pengkhianatan, keserakahan, dan upaya keji menghapus jejak kejahatan.

Dari Rencana Pencurian Berujung Pembunuhan

Semua bermula saat Elen pulang kampung pada Rabu malam, 18 Maret 2026. Ruko ditinggalkan dalam pengawasan tiga karyawan: S (27) dan DS alias A (24) sebagai pengolah ayam, serta Abdul Hamid yang dipercaya menjaga keamanan.

Abdul Hamid yang tak lagi memiliki keluarga memilih tinggal. Ia menjaga amanah.

Namun justru di situlah tragedi berakar. S dan DS menyusun rencana. Dalam kondisi ruko sepi, keduanya tergoda menguasai aset milik majikan mereka.

baca juga

Target awal adalah mobil. Namun sistem pengamanan membuat mereka mengurungkan niat. Sasaran bergeser ke sepeda motor. Mereka sempat mengajak Abdul Hamid. Tapi ia menolak ikut.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin. (Suara.com/M. Yasir)
Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin. (Suara.com/M. Yasir)

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin menyebut penolakan itulah yang menjadi pemicu pembunuhan.

“Mereka sama-sama karyawan di sana. Kemudian korban itu diajak untuk melakukan kejahatan tapi menolak. Sehingga yang dua orang membunuh si korban," jelas Iman kepada wartawan, Selasa (31/3/2026).

Mutilasi untuk Menghapus Jejak

Setelah membunuh Abdul Hamid, kedua pelaku pun kepanikan.

Jasad korban lalu dimutilasi—bukan karena motif sadis semata, tetapi sebagai cara cepat menghilangkan jejak.

Potongan tubuh dimasukkan ke dalam freezer, sementara bagian lain dibuang terpisah di wilayah Cariu, Kabupaten Bogor.

Namun pelarian itu berlangsung singkat. Tim Inafis dan Subdit Jatanras Polda Metro Jaya bergerak cepat setelah penemuan jasad korban pada 28 Maret.

Dalam hitungan hari, S dan DS ditangkap di Majalengka, Jawa Barat. Polisi juga berhasil menemukan potongan tubuh korban dari hasil penyisiran.

Dalam aksi tersebut, pelaku sempat membawa kabur dua motor—Honda Beat dan Vario— milik Elen serta uang tunai Rp500 ribu milik korban. Sepeda motor tersebut kemudian dijual kepada sosok berinisial A yang kekinian telah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka penadah barang curian.

Rekan Kerja yang Berubah Jadi Algojo

Yang membuat publik terguncang bukan hanya kekejian tindakan, tetapi relasi di baliknya.

Selain rekan kerja, pelaku dan korban sebenarnya tinggal satu atap di kios tersebut.

Menurut keterangan Elen, hubungan mereka selama ini bahkan tampak normal. Tidak ada tanda konflik mencolok.

Namun di balik keseharian itu, niat jahat tumbuh diam-diam.

S diduga menjadi otak perencanaan dan DS ikut membantu mengeksekusi.

Sementara Abdul Hamid—yang dikenal pendiam dan disiplin—justru menjadi target karena menolak berkhianat. 

Jerat Hukum

Pakar Hukum Pidana Universitas Tarumanegara, Hery Firmansyah menyebut kasus ini berpotensi masuk kategori pembunuhan berencana.

Ia menekankan adanya unsur persiapan sebelum eksekusi.

“Kalau ada jeda waktu yang cukup sampai eksekusi dilakukan dan ada persiapan yang dilakukan tersangka, maka tentunya hal itu bisa dimasukkan dalam kategori pembunuhan berencana,” ujarnya kepada Suara.com.

Pelaku terancam Pasal 459 KUHP tentang pembunuhan berencana, junto Pasal 458 KUHP, serta Pasal 479 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan dengan ancaman maksimalnya: hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Kasus mutilasi menonjol di Bekasi. [Suara.com]
Kasus mutilasi menonjol di Bekasi. [Suara.com]

Bekasi dan Pola Kejahatan Mutilasi

Kasus Abdul Hamid menambah daftar panjang mutilasi di Bekasi dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasar catatan Suara.com, setidaknya ada empat kasus yang menonjol. Mulai dari kasus mutilasi 'manusia silver' hingga Abdul Hamid.

Fenomena ini tak lepas dari karakter Bekasi sebagai wilayah urban padat dengan mobilitas tinggi.

Anonimitas antarwarga, tekanan ekonomi, serta lingkungan hunian yang kerap kosong saat jam kerja menciptakan celah bagi kejahatan ekstrem.

Minimnya kontrol sosial di tingkat komunitas—RT dan RW—membuat tindakan sadis bisa terjadi tanpa cepat terdeteksi.

Tragedi di Serang Baru harus menjadi pengingat keras. Ancaman tak selalu datang dari luar—tetapi bisa tumbuh dari dalam lingkungan terdekat.

Polisi pun mengimbau pemilik usaha untuk tetap melakukan pengawasan berkala terhadap karyawan, terutama jika mereka tinggal di lokasi usaha. Di sisi lain, masyarakat diminta mengaktifkan kembali sistem keamanan lingkungan seperti siskamling.

Sebab sering kali, kejahatan paling keji lahir dari ruang-ruang tertutup—yang luput dari perhatian siapa pun.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

7 Fakta Mengerikan Mutilasi Karyawan Ayam Geprek di Bekasi: Potongan Tubuh Ditemukan di Bogor

7 Fakta Mengerikan Mutilasi Karyawan Ayam Geprek di Bekasi: Potongan Tubuh Ditemukan di Bogor

News | Rabu, 01 April 2026 | 14:43 WIB

Menjerit Kesakitan: Warga Tambun Disiram Air Keras Sepulang dari Masjid, Aksi Pelaku Terekam CCTV!

Menjerit Kesakitan: Warga Tambun Disiram Air Keras Sepulang dari Masjid, Aksi Pelaku Terekam CCTV!

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 15:56 WIB

Polisi Ungkap Motif di Balik Pembunuhan dan Mutilasi Karyawan Ayam Goreng di Bekasi

Polisi Ungkap Motif di Balik Pembunuhan dan Mutilasi Karyawan Ayam Goreng di Bekasi

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 14:56 WIB

Terkini

Prabowo Beri Kenaikan Pangkat Kehormatan untuk Purnawirawan Polisi, Termasuk Mantan Ajudan Soekarno

Prabowo Beri Kenaikan Pangkat Kehormatan untuk Purnawirawan Polisi, Termasuk Mantan Ajudan Soekarno

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 09:21 WIB

Lalu Lintas Tol Jakarta Pagi Ini Semrawut, Kecelakaan Beruntun hingga Contraflow Picu Kemacetan

Lalu Lintas Tol Jakarta Pagi Ini Semrawut, Kecelakaan Beruntun hingga Contraflow Picu Kemacetan

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 09:04 WIB

Prabowo Beri Hormat ke Jokowi di HUT ke-80 Bhayangkara

Prabowo Beri Hormat ke Jokowi di HUT ke-80 Bhayangkara

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 08:38 WIB

Viral Mahasiswa Unisa Yogya Diduga Kenakan Busana Perempuan dan Masuk Toilet Mahasiswi

Viral Mahasiswa Unisa Yogya Diduga Kenakan Busana Perempuan dan Masuk Toilet Mahasiswi

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 08:20 WIB

LPDB Koperasi Terapkan Zero Tolerance Pungli dan Penipuan, Pelanggaran Diproses Tegas Secara Hukum

LPDB Koperasi Terapkan Zero Tolerance Pungli dan Penipuan, Pelanggaran Diproses Tegas Secara Hukum

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 08:20 WIB

Transportasi Jerman Lumpuh Akibat Gelombang Panas, Jalan Tol Retak-retak

Transportasi Jerman Lumpuh Akibat Gelombang Panas, Jalan Tol Retak-retak

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 07:27 WIB

Aset Ketum Pemuda Pancasila Disita KPK, Diduga Berkaitan dengan Gratifikasi Korupsi Batu Bara

Aset Ketum Pemuda Pancasila Disita KPK, Diduga Berkaitan dengan Gratifikasi Korupsi Batu Bara

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 07:23 WIB

Italia Siaga Gelombang Panas, 4 Orang Sudah Jadi Korban Tewas

Italia Siaga Gelombang Panas, 4 Orang Sudah Jadi Korban Tewas

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 07:19 WIB

Di Tengah Gejolak Global, Jawa Tengah Tetap Jadi Magnet Investasi

Di Tengah Gejolak Global, Jawa Tengah Tetap Jadi Magnet Investasi

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 07:11 WIB

Panas Lagi, Iran Ancam Kembali Tutup Selat Hormuz

Panas Lagi, Iran Ancam Kembali Tutup Selat Hormuz

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 07:09 WIB

×